Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab38 Hanya Menempel


__ADS_3

°°°


Sabil membaca buku-buku yang tadi di belinya, untuk menghilangkan kebosanan. Ternyata Andra sudah cukup lama berkutat dengan pekerjaannya. Sabil sama sekali tidak berani mengganggu sang tuan muda.


Sampai beberapa kali Sabil menguap dan perlahan merebahkan tubuhnya di sofa. Rasa kantuk sudah menguasainya, matanya pun perlahan-lahan terpejam.


Andra begitu serius saat sedang bekerja, apalagi ini adalah perjanjian yang sudah lama Daddy nya nantikan.


Waktu terus berjalan, Andra pun selesai dengan pekerjaannya. Ia memasukan kembali berkas yang sudah dibubuhi tanda tangannya ke dalam Map lagi. Kemudian menarik tangan nya ke atas, meregangkan otot-otot tubuh.


Sampai pandangan nya menangkap, sosok yang tertidur pulas di sofa.


"Aku sampai lupa ada Sabil di sini," gumamnya sambil tersenyum melihat kearah gadis itu.


Andra mendekat, menekuk lututnya saat sampai di depan wajah Sabil. Dirapihkan nya rambut-rambut nakal yang menutupi wajah cantik Sabil, kemudian menyelipkan nya di belakang telinga.


Lelaki itu tersenyum melihat wajah damai Sabil saat tertidur. Lalu menempelkan bibirnya di kening Sabil. Cukup lama kegiatan itu berlangsung, sampai gadis itu menggeliat kecil barulah Andra menyudahinya.


"Lucu sekali."


Andra gemas sendiri melihat Sabil, yang bukannya terbangun malah hanya merubah posisi tidurnya.


Tak tega membangunkan Sabil, lalu ia memutuskan memindahkannya ke dalam kamar istirahat yang ada di dalam ruangan itu. Ya semacam tempat istirahat rahasia seperti di novel-novel.


Dengan hati-hati Andra menyelipkan tangannya agar mudah saat mengangkat tubuh Sabil. Dalam gendongan pun Sabil masih saja nyenyak tidurnya. Ia malah merapatkan kepalanya pada dada Andra, aroma tubuh lelaki itu rupanya membuat Sabil merasa nyaman.


Andra mengusap lembut pipi Sabil, setelah ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar itu.


Menatap lekat gadis yang sudah membuatnya terpaut dan selalu membuatnya rindu.

__ADS_1


Tapi tatapan nya berhenti di bibir ranum milik Sabila, warna peach natural tanpa pewarna bibir terlihat sangat pas di wajah Sabil.


Tanpa sadar Andra mengusap lembut bibir Sabil dengan ibu jarinya. Andra lelaki normal, pastilah akan tergoda pada pemandangan di depan mata nya. Entah dorongan dari mana, kepalanya semakin mendekati wajah Sabila.


Bibirnya berhasil menempel pada bibir Sabil.


Tidak ada gerakan apa-apa di sana, Andra hanya menempelkannya saja. Menikmati rasa hangat yang tercipta, perlahan memejamkan matanya.


Andra melepaskan bibirnya, sebelum gairah dalam dirinya mulai menguasai. Di usapnya bibir yang terasa amat lembut itu sekali lagi.


Sudut bibirnya terangkat, tidak menyangka gadis manis dan polos itu yang mampu menggetarkan hatinya.


Andra sudah kembali ke meja kerjanya. Membiarkan Sabil dalam mimpi indahnya.


Tok,tok, tok


Seseorang mengetuk pintu.


"Permisi tuan, saya mau mengambil berkah yang tadi." Pak Tantan berkata dengan sangat sopan. Ia adalah sekertaris kepercayaan Daddy Ray, umurnya sudah tak lagi muda. Beliau juga tidak perlu dipertanyakan kesetiaannya. Sejak remaja ia sudah menjadi bawahan Daddy Ray, hingga kini diusianya yang sudah memasuki kepala lima.


"Ini pak," Ujar Andra menyerahkan berkas yang dimaksud pak Tantan tadi.


"Kalau begitu saya permisi."


"Tunggu, bisakah pak Tantan menyuruh seseorang membawakan minuman dan camilan ke sini."


"Tentu tuan muda, saya akan segera menyuruh orang membawakan pesanan tuan muda kemari." Jawab pak Tantan dengan senyum yang tidak pernah pudar di wajah, bila berhadapan dengan atasannya. Berbeda lagi bila ia sedang berhadapan dengan para bawahan nya, bahkan tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun bila pak Tantan marah.


"Baiklah, terimakasih," Ujar Andra.

__ADS_1


Pak Tantan membungkuk hormat, lalu segera meninggalkan tuannya. Ia sama sekali tak bertanya tentang keberadaan Sabila, yang saat ini sudah tak ada di sana. Baginya selain hal-hal pekerjaan, ia tidak akan pernah mencampuri urusan atasan nya kecuali jika diminta.


,,,


Sabil mulai menggeliatkan tubuhnya, tidurnya kali ini terasa amat nyaman. Bantal dan kasur yang begitu empuk membuat tidur lebih nyenyak.


Eh tunggu, bantal dan kasur ini terasa amat empuk dan lembut. Dimana ini?


Gadis itu mulai membuka matanya, dan mulai mengembalikan sedikit demi sedikit kesadaran nya. Kemudian memandang sekeliling, ruangan yang begitu asing dan ada ranjang besar di dalamnya. Ia turun dari ranjang, menyusuri setiap sudut ruangan itu.


Bukankah tadi aku tertidur di sofa kantor kak Andra. Bagaimana bisa berakhir disini. Sabil masih berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi.


Sabil memang pernah ke kantor itu, tapi ia sama sekali tak tau soal kamar istirahat itu. Biasanya ia hanya singgah sebentar di sana, baru kali ia sampai tertidur.


Sabil memasuki kamar mandi di sana, menyalakan kran dan mulai membasuh wajahnya. Berharap air dingin itu dapat menjernihkan pikiran nya. Meski ia bingung harus apa saat ini, tapi ia tetap harus tenang.


Sabil membuka pintu kamar mandi, dan terkejut oleh sosok yang sedang duduk di bibir ranjang.


"Kak Andra..." Mata Sabil berbinar, Syukurlah, berarti aku tidak sedang diculik saat ini. Ujarnya dalam hati.


"Kau sudah bangun," ujar Andra seraya bangkit dan menghampiri Sabil yang seperti sedang kebingungan.


"Dimana ini kak, bukankah tadi kita di kantor?"


Andra tersenyum mencoba menahan tawanya, wajah kebingungan Sabil terlihat sangat lucu.


"Kita memang masih di kantor. Ayo..." Meraih tangan Sabil, dan menggenggamnya.


Ia segera membawa Sabil keluar, tidak ingin membuatnya semakin bingung.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2