Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab25 Bermain Basket


__ADS_3

°°°


Permainan masih berlangsung begitu panas, karena memang saat ini matahari berada tepat di atas kepala. Mereka masih saja mempermainkan bola, saling berebut dan melempar. Semuanya berusaha memasukan bola ke dalam ring, bukan karena ingin menang tapi demi sorakan para siswi.


Hanya Andra yang bermain serius, sorakan sekeras apapun tak akan mempengaruhinya.


Andra... Andra....Andra...


Nama Sang kapten dari kelas 12a yang selalu terdengar.


Sabil pun kini ikut menyimak dengan serius. Setelah para siswi mengalihkan perhatian nya kembali pada permainan.


Tubuh tinggi, rahang tegas, mata tajam, tubuh bagus seperti orang yang rajin ke tempat gym.


Ya siapa yang tidak tertarik, pastilah para gadis rela antri jika sang tuan muda mau memacari mereka semua.


"Alex, nanti kau berikan pada nya, dan kau menghalangi mereka. Dan lempar ke Reza.....dan bla bla bla..."


Andra sedang mengatur strategi untuk babak terakhir permainan mereka. Tampak semua anggota tim mendengarkan dengan seksama.


Bunyi peluit terdengar...


Semuanya bersiap. Teriakan penonton semakin kencang. Peluh keringat membanjiri para pemain, namun tak menyurutkan semangat mereka.


Permainan tinggal beberapa menit lagi namun skor masih imbang.


"Ayo... kak Reza, kak Andra..."


Teriak Rani. Sabil tak ikut berteriak, tapi ia pun berharap tim Andra yang menang.


Yeeeee..... Andra the best....


I love you Andra...


Andra hebat...


Aaaaa.....


Slam dunk yang di lakukan Andra di menit terakhir membawa mereka pada kemenangan.


"Kerja bagus." Ujar Andra pada rekan timnya.


Mereka terlihat saling menempelkan kepalan tangannya, memberi selamat. Tim lain yang kalah pun memberi selamat, tak ada permusuhan, semua teman. Pertandingan ini hanya untuk merayakan saat saat terakhir mereka di sekolah.


Selesai dengan saling memberi selamat, Andra dan kawan-kawan kembali ke tempat istirahat nya. Ia hampir lupa, jika tadi ia menyuruh Sabil menunggunya di sana.


"Rani... ayo pergi permainannya sudah selesai."


Sabil ingin sekali pergi dari sana. Melihat Andra dan yang lain berjalan ke arahnya, membuat nya merasa gugup.


"Tunggu sebentar, aku ingin memberi selamat pada mereka."


Sabil hanya bisa pasrah saat ini.


"Kak Andra, selamat." Ujar Rani ketika Andra sudah sampai di depan mereka.


Andra tak menjawab, hanya menarik bibir nya sedikit. Apa Rani tersinggung? Tidak, Rani sudah sedikit tau seperti apa itu Andra.


Dulu Dion sering mengajaknya saat ia mengunjungi rumah pamannya, yang tak lain adalah rumah Raymond Adiguna ayah Andra.

__ADS_1


"Apa hanya Andra yang di beri selamat."


"Tentu untuk kalian semua, selamat juga kak Reza, kak Alex, dan kakak kakak semuanya.


Reza gemas dengan tingkah Rani, ia pun mengacak pucuk kepalanya.


Namun tiba-tiba lengan Rani di seret kebelakang, hingga ia menempel pada lelaki yang terlihat tak bersahabat itu.


"Kenapa kamu di sini." ujar Dion dengan nada tegas.


"A..ku menemani Sabil di sini." Jawab nya mencari alasan.


Sabil membeliakkan matanya, bagaimana bisa ia yang menjadi alasan.


"Ayo pulang!!"


Tanpa menunggu jawaban ia sudah menarik tangan Rani menjauh dari sana.


"Pelan pelan kak, aku tak bisa mengimbangi langkah kakak yang lebar."


Rani merengek, kaki Dion yang panjang membuatnya selangkah lebih cepat dari Rani.


"Kau yang terlalu lamban."


Dion masih memasang wajah kesalnya. Namun ia memperlambat langkahnya. Ia sudah bilang beberapa kali jika ia tak ingin melihat kekasihnya berdekatan dengan lelaki lain, apa lagi lelaki itu Reza. Bukanya apa, tapi jika melihat tatapan kagum Rani pada Reza, ia merasa cemburu.


Ahh ya apa itu yang namanya cemburu.


"Apa pemain basket terlihat tampan?"


"Hah..." Rani tak mengerti arah pembicaraan dion.


"Apa kau sangat suka pada pemain basket, sampai begitu senang melihat mereka bermain. Kalau mau besok aku akan bermain basket di depanmu seorang."


"Siapa yang tidak cemburu, bila kekasih nya menatap lelaki lain dengan tatapan mendamba."


"Aku hanya kagum Kak, selain kak Reza pandai bermain basket. Sikapnya juga amat lembut, baik dan perhatian." Ujarnya tanpa bersalah, Rani tak melihat raut wajah Dion semakin memanas.


"Kau bahkan memujinya di depan ku!"


"Tidak kak, Aku..."


Cup


"Jika kau memuji lelaki lain lagi kau akan terima akibatnya." Bisik Dion setelah mengecup sekilas bibir mungil Rani.


Rani terpaku atas apa yang di lakukan dion. Wajahnya pasti sudah merah merona saat ini.


"Kak... bagaimana jika ada yang melihat."


"Tidak akan, ayo naik."


Dion segera membukakan pintu mobilnya, mereka memang sudah sampai di parkiran.


Rani pun segera naik. Setelah ia mendudukkan dirinya di kursi depan, ia melihat sekeliling terlihat banyak siswa/i yang berlalu lalang.


Apa tadi beneran tidak ada yang lihat.


"Kenapa?" Tanya dion yang melihat Rani tengak tengok dari tadi.

__ADS_1


"Aku takut ada yang melihat kak."


"Melihat apa?"


"Itu tadi..."


"Tadi apa?" Dion terkekeh.


Sebenarnya Dion sudah tau maksud Rani. Tapi ia suka menggoda gadis itu. Pipi merahnya sangat menggemaskan di matanya.


"Ihh kak Dion, kakak jail banget." Pipinya sudah semerah tomat segar. Tapi malah dion terus menggodanya.


"Hahaha... tenang saja tidak ada yang melihat."


Suara tawa Dion membuat Rani semakin kesal, ia mengalihkan pandangannya ke depan.


Mencebikkan bibir nya, mengomel tak jelas.


"Baiklah maafkan kakak, kakak tak lagi menggoda mu."


Rani tak menjawab, masih enggan berbicara pada lelaki yang barusan mengambil c*uman pertama nya.


"Kakak janji tidak akan melakukan itu di tempat umum lagi.Tapi di tempat sepi.."


Seketika bola mata Rani membulat. Tak percaya pada apa yang di dengarnya. Bagaimana bisa Dion menjadi mesum seperti itu.


,,,


Masih di lapangan basket.


Sabil sedikit kesal pada Rani yang meninggalkannya begitu saja tadi.


"Selamat kak atas kemenangan kalian." Ujar Sabil. Sebenarnya ia amat gugup, namun apa daya tak mungkin ia pergi begitu saja.


"Saya duluan kak..." ujarnya lagi. Entahlah pada siapa ia berbicara, ia hanya ingin segera pergi dari sana.


Sabil berbalik namun langkah kembali terhenti.


Ada yang memegang tangannya, siapa?


"Pulang bersamaku."


Suara itu...


Ia ragu ingin menoleh, firasatnya sedikit buruk. Tatapan tajam para siswi semakin menguatkan dugaannya.


Ya mau tidak mau Sabil menoleh, karena tangannya tak kunjung di lepaskan.


Andra menaikan sedikit alisnya menunggu apa yang akan gadis manisnya katakan.


"Ak..aku pulang dengan sepeda kak." Jawab Sabil. Kemudian ia membukukan sedikit badannya. Dan berbalik sambil menarik sedikit tangannya yang tak kunjung dilepaskan oleh Andra.


"Aku sedang tidak bertanya. Ini perintah."


Whaaattt...


Sabil tak bisa berkata lagi, ia menatap lekat sorot mata Andra, mencari apakah ada kebohongan di mata sang tuan muda. Tapi tak ada raut wajah bercanda di sana.


°°°

__ADS_1


Like, like, like


Xiexie 😍


__ADS_2