Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab49 Berpisah Lagi


__ADS_3

°°°


Di sinilah mereka sekarang, di bandara dengan rute penerbangan internasional. Mengantar kepergian sepasang suami-istri yang akan melakukan pengobatan di negeri orang.


Sabila sibuk menemani Mommy Rahmi, mereka berulangkali berpelukan seperti enggan berpisah. Berasa baru sebentar ia melepas rindu dengan mommy nya. Namun ia tak bisa egois, karena tidak mau terjadi apa-apa pada wanita yang sudah seperti ibunya sendiri.


"Mommy pasti akan merindukan mu Sabila."


Mom Rahmi pun sama, rasa sayang nya pada Sabil bukan hanya sekedar rasa bersalah tapi benar-benar tulus dari hati nya. Semakin ia dekat dengan gadis itu, rasa sayang nya semakin besar.


Mata Sabil pun sudah memerah, menahan air mata yang akan jatuh jika ia mengedipkan matanya. Ia tak ingin membuat Mom Rahmi ikut bersedih, sebaiknya mengantarkan nya dengan senyuman agar tak mengganggu pikiran dan membuat Mommy nya tak fokus dalam menjalani pengobatan.


"Mommy harus berjanji akan pulang lagi kemari dan sudah kembali sehat." Lagi-lagi Sabil menghambur memeluk wanita yang terduduk di kursi roda. Buru-buru menyeka sudut matanya yang sudah tak mampu lagi membendung air mata, tak ingin mom Rahmi sampai tau.


"Cup, cup, cup... gadis manis," ujar Mom Rahmi yang merasa tubuh gadis di pelukan nya itu bergetar. Menandakan si pemilik tubuh sedang tak baik-baik saja, menumpahkan tangisnya di pundak sang mommy.


Mom Rahmi mengusap-usap punggung dan kepala Sabil, sedang gadis itu semakin berderai air mata nya.


"Hiks..hiks..."


Mom Rahmi pun tersenyum, ia bahagia sekali bisa di sayang yang begitu besar oleh gadis yang sudah di anggap anak nya sendiri.

__ADS_1


"Lihatlah nanti cantiknya hilang bagaimana?" ujar mom Rahmi menggoda Sabil setelah pelukan mereka terlepas. Lalu mengusap air mata di pipi sabil penuh kasih sayang, tak ada rasa jijik sedikitpun.


"Mommy...." Rengek Sabil, ia malu ketahuan menangis. Lalu menenggelamkan wajahnya di pangkuan mommy nya.


Mom Rahmi kembali mengembangkan senyumnya seraya mengusap lembut kepala Sabil.


Sedangkan Andra, ia sedang bersama Daddy nya dan ada pak Tantan juga di sana. Lagi-lagi membicarakan perusahaan, Ahh laki-laki memang seperti itu.


Tapi wajar saja Dad Ray khawatir, kali ini kepergiannya mungkin akan lebih lama dari sebelumnya. Kali ini ia akan menunggu di sana sampai sang istri mendapatkan pendonor yang sesuai. Tak ingin keadaan istrinya semakin memburuk, jika terlalu sering melakukan perjalanan jauh. Mungkin memang uang bisa menyelesaikan segala nya, tapi tidak kali ini.


Donor jantung tentu saja membutuhkan orang yang sudah hampir tak bernyawa atau baru saja meninggal, karena jantung hanya satu tidak seperti ginjal. Kenapa tidak mencari dari orang yang masih hidup lalu membayar nya. Bagaimana mungkin dad Ray ataupun Mom Rahmi tega, mereka bukan malaikat pencabut nyawa, mereka tidak berhak mengambil nyawa orang yang mungkin hidupnya masih panjang.


"Kau harus ingat nak, orang-orang di perusahaan tidak semudah yang kau lihat. Mereka bisa saja menjilatmuu di depan tapi mereka juga bisa menusukmu dari belakang."


Andra mengangguk, yaa dulu saja saat ia mengerjakan bisnis kecil-kecilan ada saja orang seperti itu. Apalagi sekarang perusahaan besar, yang pasti banyak lintah-lintah darat yang siap menghisap darah nya jika lengah.


"Dad, jagalah Mommy dengan baik. Kabari aku jika terjadi apa-apa di sana." Ujar Andra pada Dad Ray.


"Kau tidak perlu mengajariku boy, tentu saja aku akan menjaga istri ku." Balasnya seraya tersenyum pada sang istri yang terlihat sedang tertawa dengan Sabila.


"Huhhh ... dia juga mommy ku." Andra tak mau kalah. "Ingatlah dad, mommy sedang sakit jadi jangan berbuat aneh-aneh." Ujarnya lagi dengan sedikit mencibir.

__ADS_1


"Apa maksudmu boy? Memang apa yang akan aku lakukan." Jawab dad Ray tidak terima.


"Jangan kira aku tidak tau dad, saat sedang sakit Mommy masih saja harus melayani bira-hi mu itu."


"Hai... jangan asal menuduh, Mommy mu sendiri yang meminta. Daddy tidak pernah memaksa, itu karena mom terlalu cinta pada Daddy." Lagi-lagi pria tua itu menyombongkan dirinya di hadapan putranya.


Andra menyipitkan matanya, bagaimana bisa Daddy nya tidak tau malu seperti itu.


Adu mulut pun terjadi, tak ada haru apa lagi sedih saat berpisah. Justru mereka sibuk saling mengejek tak ada yang mau mengalah.


Pak Tantan yang sedari tadi berdiri di samping ke dua tuan nya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Mau tua ataupun muda sama-sama tak mau kalah.


Sebenarnya jauh di lubuk hati ayah dan anak itu tentu sedih. Sang ayah yang mengkhawatirkan putranya dan istrinya sekaligus, ia tidak tau apa istrinya bisa bertahan sampai mendapatkan pendonor yang pas. Dan sang putra tentu saja sedih tak bisa ikut menemani dan merawat mommy nya. Keduanya sama-sama tidak ingin menunjukan kesedihan itu di hadapan satu wanita yang amat mereka sayangi.


°°°


Xiexie


Jangan jadi readers bayangan dong guys.


Kasih like dan komen untuk menandakan kalau kalian itu nyata.

__ADS_1


Cup,cup,cup


__ADS_2