
°°°
"Ada apa dengan panggilan kak Andra pada ayah, kenapa tiba-tiba berubah??" Sabil yang sedari tadi sudah gatal dan ingin bertanya, akhirnya ia tanyakan juga.
"Kenapa??? Apa tidak boleh."
"Bukan begitu kak, aneh saja tiba-tiba di ubah."
"Karena pak Mul sudah seperti ayahku sendiri."
Jawaban itu cukup membuat Sabil diam, percuma saja bertanya kalau hanya itu jawabannya.
Pagi yang begitu cerah dengan cahaya matahari yang memberikan kehangatan untuk umat manusia. Begitu pula Sabil, gadis itu sangat suka matahari pagi. Sesekali ia tersenyum jika cahaya matahari berhasil memantulkan cahaya nya ke kulit tubuhnya.
"Pakailah ini," ujar Andra seraya menyerahkan jaketnya pada Sabil.
"Untuk apa kak?" Tentu Sabil bingung, ia sedang tidak kedinginan. Ia pun menaruh lagi jaket itu di kursi belakang.
"Kenapa di taruh lagi? Itu agar kau tidak kepanasan." Rupanya Andra pikir Sabil sedang takut terkena sinar matahari.
Kedua alis mata Sabil terangkat, ia baru sadar maksud lelaki itu. "Tidak kak... aku suka, malah tubuh ku menjadi hangat karena sinar matahari pagi ini. Lihatlah..." Sabil mengangkat tangannya dan mengarahkan pada ruang yang terkena cahaya.
"Hangatkan? Kakak juga coba." Kini ia meraih tangan Andra dan melakukan hal yang sama.
"Bagaimana, hangatkan?" Tanyanya.
Andra mengangguk dan tersenyum, gadis di sebelahnya itu memang paling bisa membuat hal kecil menjadi sesuatu yang lebih bermakna.
Cukup jauh rupanya Andra mengendarai mobilnya. Selama itu pula Sabil tak tau kalau ia akan di bawa kemana. Berulang kali mulut gadis itu bertanya tapi tak juga mendapat jawaban. Sampai di sebuah tempat Andra menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"Ini...ini taman bermain??" Tanya Sabil. Matanya berbinar menatap apa yang ada di depan.
"Iya... Apa kau suka?"
"Kenapa tiba-tiba membawaku kesini kak?" Sabil tak mengalihkan pandangan nya dari deretan wahana permainan yang terlihat dari mobil.
"Sebentar lagi kau ujian, jadi kau harus merefresh pikiran dulu sebelum belajar." Ujar Andra, alasannya cukup masuk akal kali ini. Tapi apapun alasannya tidak penting bagi Sabil, toh matanya bahkan sudah tak berkedip dari tadi.
"Ayo kak kita turun..." Ajak Sabil. Benarkan, gadis itu sudah tidak sabar untuk mencoba berbagai macam permainan.
"Tunggu!!" Cegah Andra, lalu ia mengambil sebuah kantong di belakang dan mengeluarkan sebuah topi. Lalu segera memakaikan nya pada Sabil. Sebuah topi berbentuk bundar dengan pinggiran yang lebar, berwarna peach dengan pita kecil di bagian atasnya.
Sungguh cantik, sangat pas dengan dress yang Sabil pakai.
"Kapan kakak membelinya, kenapa pas sekali dengan bajuku..." Sabil senang memakai topi itu, warnanya sangat menyatu dengan dress nya.
Mereka keluar dari mobil disambut oleh panas matahari yang tak lagi hangat seperti tadi, karena memang sekarang sudah menjelang siang. Untunglah Andra sudah menyiapkan topi untuk Sabil dan untuk dirinya sendiri, cukup untuk menghalangi terik matahari.
Gadis itu begitu antusias seperti gadis kecil yang diajak orang tuanya ke taman bermain.
Sabil tak sabar dan segera menggandeng tangan Andra agar segera masuk.
"Ayo kak..." Ujar Sabil seraya menarik lengan Andra.
Andra senang melihatnya, ternyata pilihan nya mengajak gadis itu ke sana sangat tepat.
Gadis berkuncir kuda dengan topi di kepalanya. Dan tangan yang penuh dengan aneka jajanan yang di cobanya satu persatu. Tangan dan mulutnya sibuk saling beradu, pemandangan yang menyenangkan untuk Andra. Tak bosan-bosannya ia memandangi tingkah Sabil sedari tadi.
"Kak... itu ada es krim," tunjuknya pada penjual es krim yang di kelilingi oleh anak-anak.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?"
"Mau es krim kak," ujarnya, tak sadar sudah penuh tangannya oleh makanan. Bahkan tangan Andra yang satu pun di jadikan tempat penitipan makanan.
"Lihat tanganmu saja sudah tidak sanggup membawa makanan ini," ujar Andra menunjukkan makanan yang ada di tangannya.
"Hehehe... Aku sedang mengumpulkan tenaga untuk bermain nanti." Tersenyum sambil menunjukan wajah memohonnya.
Siapa yang bisa tahan bila melihat wajah imut tak berdosa milik Sabil jika sedang memohon. Andra pun paling tidak bisa menolak jika Sabil sudah pasang wajah seperti itu.
"Oke... biar aku saja yang belikan. Kau makan saja disini." Andra pun bangkit dan berjalan menuju penjualan es krim tadi. Ia harus menahan malu karena harus mengantri di antara anak-anak kecil di sana.
Sabil kembali menikmati makanannya, sambil sesekali melihat Andra yang sekarang di kelilingi anak-anak kecil. Ya anak-anak itu seperti sedang menggoda Andra. Kemudian terlihat Andra sedang membagikan kertas bergambar pada anak-anak tadi, kemungkinan itu adalah uang. Dan benar saja mereka langsung bubar setelah mendapat uang itu. Dan Andra dengan bebas bisa langsung membeli es krim tanpa mengantri.
Andra kembali dengan dua buah es krim vanila dan coklat. Sabil dengan senang hati langsung memakannya. Sungguh seperti gadis kecil yang amat menggemaskan.
"Makanlah perlahan Sabila..." Ujar Andra.
"Hemmm..." Sabil tak peduli, sungguh ini surga baginya. Bisa makan jajanan sepuasnya dan sebentar lagi bermain sepuasnya. Sampai tak terasa ada lelehan es krim di sudut bibirnya.
Dengan sigap Andra mengusap lembut dengan ibu jarinya.
Deg
Mata mereka saling bertemu, sudah sering berdekatan saja mereka masih berdebar bila bersitatap.
°°°
Xiexie
__ADS_1