
°°°
"An, mau kan nanti pergi menonton bersama?"
Jihan tidak menyerah juga, sedang Andra sedari tadi tetap membaca bukunya seperti tak mendengar suara apapun.
Kesal... itu pasti. Sudah berbagai cara gadis itu lakukan tapi Andra tetap tidak pernah melihatnya sekalipun. Ia meremas jari jemari nya sendiri, menahan amarah yang sudah membara dalam hatinya. Ingin rasanya ia melampiaskan amarahnya saat ini juga. Namun, ia tak bisa melakukannya di sini dihadapan pria dingin itu atau pria itu akan semakin ilfil padanya.
Dosen pembimbing sudah memasuki ruangan itu. Sedikit mengurangi amarah Jihan yang hampir saja mematahkan pena di tangannya.
Menghela nafas panjang berkali-kali, masih berusaha tetap tampil cantik dan anggun.
Kita lihat saja sampai kapan kau akan menolakku... geramnya dalam hati.
Para mahasiswa/i menyimak baik-baik apa yang sedang dosen itu ajarkan, tidak ada yang berani bersuara.
Alex tiba di depan pintu kelas pagi nya. Ia terlambat, lagi lagi terlambat. Sudah semenjak lulus sekolah menengah ia mulai serius mengikuti pelatihan pembalap mobil secara profesional. Kedua orangtuanya tak melarangnya, dengan syarat ia tetap bertanggung jawab pada kuliahnya.
Namun, semua tidak sesuai ekspektasi.
Alex sering kali terlambat dan bolos mata kuliah. Sering juga mendapat teguran karena nilai nya yang cukup rendah.
Pria yang cukup tampan itu mengintip dari balik pintu. Mencari saat yang pas, agar bisa menyusup masuk ke dalam kelas tanpa dosen itu tau. Ia mencoba melambaikan tangan pada temannya yang sudah lebih dulu berada dalam kelas.
"Huss.... pesssttt..." Masih berusaha memanggil temannya yang tak kunjung menengok. Dan sang dosen pun belum bisa di ajak kompromi, agar ia bisa menyusup.
Akhirnya Dion melihat orang yang sedang melambai-lambaikan tangannya.
"Apaa?" Tanya Dion tapi tanpa suara hanya mulutnya saja yang bergerak.
"Tolongin." Jawab Alex dengan cara yang sama sambil mengatupkan kedua tangannya memohon.
Tak ada sahutan dari Dion, sudah bosan ia selalu direpotkan oleh tingkah Alex.
Tapi lagi-lagi ia tak tega melihat wajah memelasnya. Terpaksa ia membatunya. Dion harus mencari cara mengalihkan perhatian sang di dosen.
__ADS_1
"Permisi Sir, bisakah kau menjelaskan yang tadi dan menulisnya di papan tulis. Aku masih sedikit tidak paham."
Ya Dion mencoba cara pertama.
Sang dosen masih diam, umurnya yang tak lagi muda dan rambut yang hampir memutih seluruhnya membuat gerakannya agak lambat. Tapi jangan salah, banyak mahasiswa/i yang berlomba untuk mengikuti kelasnya. Karena memang kesuksesan nya dalam mengajar ataupun di dunia nyata sangat berhasil. Karena itulah beliau masih dipekerjakan di kampus itu.
Akhirnya dosen itu pun berbalik dan berjalan menuju papan tulis besar yang ada di depan para mahasiswa.
"Yes..." ujar Alex tanpa suara.
Lalu Alex mulai masuk mengendap-endap, dari balik kursi-kursi yang sudah di duduki teman-temannya. Sesekali ia akan berhenti dan menunduk jika dosen menolehkan kepalanya. Para mahasiswa/i yang melihat Alex pun tak bisa menahan tawanya. Buru-buru Alex bertindak, menempelkan jari telunjuk ke depan bibirnya.
"Huss... diamlah!!" Ujar Alex setengah kesal.
Kemudian melanjutkan langkahnya mencari kursi yang kosong. Di bagian belakang tidak ada satupun yang kosong.
"Sial!!" Umpatnya lirih.
Ia jadi harus berjalan lebih ke depan, karena hanya kursi di samping Dion yang kosong.
Alex sudah berhasil mendaratkan tubuhnya di samping Dion. Ia tersenyum senang.
"Thanks bro.." Ujar Alex sedikit berbisik. Lalu mulai membuka bukunya dan menyimak.
Mengapa Alex belajar di jurusan bisnis dan manajemen, sedangkan hobby nya balapan dan suka dunia otomotif. Karena mereka itu putra-putra pengusaha, tentu saja harus siap jika suatu saat usaha orangtuanya di wariskan padanya. Apa jadinya jika mereka tak mempunyai bekal untuk mewarisi semua itu.
"Kapan kamu itu bisa tepat waktu? Menyusahkan saja." Tegur Dion saat kuliah telah berakhir.
"Hehehe... Sorry. Ini yang terakhir, aku usahain."
Alex menyahutnya dengan tawa.
"Dasar...!" Kesal Dion lalu menepuk lengan Alex dengan sedikit keras.
Bukannya kesal, Alex malah semakin keras tertawa nya. "Hahahaha..."
__ADS_1
"Gila!!" Dion geleng-geleng kepala melihatnya.
"Aku duluan An," ujarnya lagi tapi Kepada Andra.
"Mau kemana?" Tanya Alex.
"Mau tau saja."
"Palingan nyamperin si artis cantik."
Dion tak menyahut lagi, segera pergi dari sana, takut kekasih nya sudah menunggu.
"An, kau mau kemana habis ini. Jangan bilang nyamperin cewek kaya si Dion." ujar Alex yang saat ini sudah bergeser duduknya di sebelah Andra.
"Ke kantor," jawab Andra singkat sambil membereskan buku-bukunya.
"An... emmm jadi bagaimana tawaranku tadi."
Jihan masih saja nekat.
"Hai Jihan," sapa Alex dengan tersenyum dan sedikit memiringkan kepalanya karena terhalang Andra.
"Hai.." balas Jihan ramah.
"Ada apa? Kau mau mengajak Andra pergi?"
Jihan menganggukkan kepalanya.
"An lihat itu, Jihan mau mengajakmu pergi. Kapan lagi bisa pergi dengan gadis cantik." Pujinya namun dengan senyum aneh. Ya mana mungkin Andra mau, bahkan Sabila jauh lebih cantik dari Jihan.
Sedangkan Jihan tersenyum malu-malu karena mendapat pujian dari Dion. Dia senang ternyata lelaki itu mau membantu nya untuk dekat dengan Andra.
°°°
Xiexie 😍
__ADS_1