Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab69 Sabil Bimbang


__ADS_3

°°°


"Dulu ibumu juga suka sekali melihat bulan. Katanya jika kita merindukan seseorang maka kita bisa melihat bayangan wajahnya pada bulan itu." Pak Mul berbicara pada putrinya dengan mata yang masih menatap ke atas.


Sabil pun menatap bulan itu seperti perkataan ayahnya. Membayangkan wajah ibunya lalu bayangan itu tersenyum padanya.


"Bagaimana ayah bisa jatuh cinta pada ibu saat itu?" Tanya Sabil.


Pak Mul terkekeh mendengar pertanyaan putrinya. Lalu tangannya terulur membelai lembut rambut sabil.


"Apa kau mau mendengarkan kisah ayah dan ibu saat pertama kali bertemu... Hmmm..."


"Iya aku mau..." Gadis itu menganggukkan kepalanya begitu antusias.


"Hahaha... baiklah ayah akan menceritakan padamu."


Pak mulai bercerita dari awal mula ia bertemu dengan sang istri.


"Kami tidak sengaja bertemu di bawah gerimis hari itu. Dulu banyak sekali lelaki yang menyukai ibumu. Ayah sangat beruntung karena berhasil mendapatkan cintanya," ujar pak mul.


"Ayah dulu bukan orang yang baik, ayah juga sedikit nakal. Awalnya ayah ragu bisa mendapatkan cinta ibumu karena banyak lelaki kaya yang datang melamarnya. Tapi semuanya ditolak oleh ibumu. Orang tua Arumi, kakek dan nenek mu sempat menentang hubungan kami karena ayah dulu tak mempunyai apa-apa. Tapi ayah tak menyerah, berusaha sekuat tenaga untuk membuktikannya kalau ayah pantas untuk ibumu."


"Benarkah kakek dan nenek tidak menyukai ayah awalnya?" Tanya Sabil yang tak terlalu mengenal kakek dan neneknya karena mereka meninggal saat gadis itu masih balita.


"Dalam suatu hubungan memang tidak selalu akan berjalan mulus, akan ada saatnya sebuah masalah menerpanya. Barang siapa yang mampu menghadapi masalah bersama pasangannya, maka cinta di antara mereka akan semakin besar dan kuat. Seperti cinta ibu dan ayah." Pak Mul tak henti-hentinya mengatakan hal positif.


"Sabil ingin seperti ibu yang mendapat suami seperti ayah," ujar Sabil.


"Kau pasti mendapatkannya nak, suatu saat kau akan menemukan orang yang akan membahagiakanmu." Dan pada saat itu ayah baru bisa tenang.


Mereka kembali menatap bulan malam itu, dari sana tampak wajah Arumi tersenyum pada suami dan putrinya.


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu. Apa kau sedang jatuh cinta?" Pertanyaan pak Mul tepat sekali, bahkan Sabil gelagapan tak bisa menjawab.


"Aku tidak tau apa ini cinta ayah" ujar Sabil yang akhirnya mengungkapkan kegundahannya.


Pak Mul tersenyum mendengarnya, "Anak gadis ayah sudah dewasa rupanya, jadi kau sedang galau..." ledeknya pada sang putri.


Sabil tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti itu dari ayahnya, ia pun hanya tersenyum malu.


Sang ayah kembali membelai lembut kepala Sabil.

__ADS_1


"Cinta itu tidak bisa di definisikan dengan kata-kata, kalau kau bisa mengerti apa yang kau rasakan itu bisa di sebut cinta."


"Maksud ayah?" Dahi Sabil menyerngit heran.


"Hmmm... Apa kau merindukannya saat berjauhan?" Tanya pak Mul dan Sabil mengangguk.


"Apa kau merasa bahagia saat bersamanya?"


"Apa kau kesal bila ada wanita yang dekat dengannya?"


Sabil hanya manggut-manggut saja menjawab pertanyaan ayahnya.


"Itu artinya kau cemburu. Kau mencintainya nak. Apa pria itu Andra." Tentu saja tebakan pak Mul benar, selama ini pria yang dekat dengan putrinya menang hanya Andra.


Sabil tidak menjawab kali ini.


Apa benar aku mencintainya tapi kenapa aku ragu saat menerima lamarannya.


"Apa nak Andra mengatakan sesuatu?" Tanya sang ayah lagi.


"Sesuatu yang seperti apa yah?"


"Apa dia bilang mencintaimu?" Sabil menggeleng.


"Wanita itu memang makhluk yang susah di tebak, terkadang kita lelaki sudah menunjukkan sikap dan perhatian kita padanya tapi wanita tetap membutuhkan pernyataan untuk meyakinkan hatinya." Ujar pak Mul sambil menepuk pundak Sabil.


"Hahh..." Sabil melongo mendengar ucapan ayahnya.


"Sudah malam ayo masuk dan beristirahatlah nak." Pak Mul bangkit dan berjalan memasuki rumah. Meninggalkan Sabil yang masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri.


Sabil memikirkan apa yang ayahnya katakan padanya. Apa benar ia butuhkan pernyataan?


Iya kak Andra tidak bilang mencintaiku tapi dia melamarku, apa artinya dia mencintaiku. Ahhhh.....


Ia menelungkupkan wajahnya pada bantal.


Pagi harinya.


"Permisi..." ujar seorang pria berseragam di luar toko kue ayahnya.


Sabil yang melihatnya begitu senang, ia segera menghampirinya.

__ADS_1


"Bunga untuk nona pagi ini, silahkan nona." Ternyata itu kurir dari toko bunga yang sudah sering mengantarkan bunga untuk Sabil, sampai dia hapal wajah cantik gadis itu. Kalau ia tak ingat saingannya itu CEO Adiguna pasti ia akan mendekati Sabil.


"Terimakasih kak," ujar Sabil, lalu ia membubuhkan tanda tangan sebagai tanda terima.


"Akhirnya datang juga bunganya," ujar Amel yang muncul di belakangnya, membuat pipi Sabil bersemu merah.


,,,


Di sisi lain, Andra juga sama ia terus memikirkan Sabila.


Andra ingin segera melamar dan menikahi gadis itu tapi ia juga ingin menunggu ibunya sembuh, agar bisa menyaksikan kebahagiaannya.


Tok, tok, tok


"Masuk..." ujarnya.


"Tuan hari ini ada meeting di luar jam sepuluh," ujar Toni mengingatkan atasannya.


"Hmmm..." jawab Andra.


"Kalau begitu saya permisi tuan."


Andra kembali berkutat dengan pekerjaannya. Seharusnya diusianya yang masih muda ia menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Tapi ia malah banyak menghabiskan waktunya dengan tumpukan kertas itu.


Sebenarnya Andra tak masalah, toh ia juga jarang nongkrong seperti para anak muda di luaran sana. Bukan berarti ia tidak pernah mengenal dunia malam. Sesekali ia juga harus ketempat itu karena kadang kliennya menginginkan bertemu di tempat itu. Andra juga sering mengkonsumsi minuman keras, tapi tidak pernah sampai mabuk-mabukan.


Drrrttt


Ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk dari sang Ibunda.


"Hallo Mom..." Suara Andra melembut.


"Hallo nak, apa Mom mengganggumu sayang."


"Tidak Mom, ada apa?" Tanya Andra.


"Mom merindukanmu...."


Andra menghela nafasnya, hatinya berdenyut nyeri mendengar suara Mom nya yang terdengar semakin melemah setiap harinya. Ia tak bisa melakukan apa-apa disaat Mom nya kesakitan. Mungkin Tuhan memang adil memberikan hukuman bagi hambanya tapi sebagai seorang putra ia tidak tega melihat ibunya terlalu lama menanggung kesakitan.


°°°

__ADS_1


Xiexie


Terimakasih atas dukungan kalian semua.


__ADS_2