Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab103 Pemersatu Bangsa


__ADS_3

°°°


Suster Jane sudah sangat gelisah hari ini karena rencana yang ia susun harus tertunda. Sudah dari kemarin ia membayangkan kalau hubungan pasangan pengantin baru itu hancur karena kenyataan yang ia dengar. Sudah tidak sabar rasanya menunggu hari esok.


Lagi-lagi suster Jane harus mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya. Saat mendengar jika pujaan hatinya sedang pergi berjalan-jalan dengan sang istri. Ya tadi nyonya Rahmi sendiri yang bercerita padanya. Hubungan mereka memang cukup dekat karena itu terkadang mom Rahmi tak akan sungkan bercerita pada suster Jane.


"Apa kau tau sus aku beruntung sekali mendapatkan menantu seperti Sabila. Hatinya benar-benar baik dan terlahir dari ibu yang amat mulia hatinya, ayahnya pun sangat baik."


"Aku tenang jika nanti waktuku telah habis di dunia ini, bila meninggalkan putraku dengan orang-orang yang baik." Cerita mom Rahmi saat suster Jane sedang membantu membersihkan tubuhnya dan membantu memakan sarapannya.


Suster Jane tak banyak menanggapi hanya sesekali tersenyum ramah, agar tak membuat curiga. Kalau tak ingat ia menginginkan anak laki-lakinya pasti suster Jane sudah tidak mau mengurus wanita sakit-sakitan itu.


Dia yang sudah mengurus dan menemani selama ini tak pernah dianggap, hanya sebatas perawat saja bagi mereka. Suster Jane tersenyum miring mengingat semua yang sudah ia lakukan.


Wanita itu memandangi berkas-berkas beberapa pasien yang siap dan cocok untuk mendonorkan jantung mereka. Rupanya selama ini suster Jane lah yang sudah menghalangi upaya yang dilakukan Dad Ray dan Andra untuk mencari pendonor. Ia selalu mengganti data pemeriksaan kecocokan sang pendonor, hingga saat ini tidak ada yang di nyatakan cocok dengan mom Rahmi.


Ia melakukan itu agar mempunyai banyak waktu untuk menarik perhatian Andra. Pikirnya melalui Nyonya Rahmi ia akan lebih mudah mendapatkan cinta Andra. Kalau nyonya Rahmi sembuh dengan cepat itu artinya ia tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu Andra.


Hanya karena obsesinya pada Andra dan kekayaan, wanita itu rela melakukan segala cara. Alih-alih mendapatkan pujian dan simpati karena sudah merawat nyonya Rahmi, ia malah dianggap tak lebih dari perawat pribadi saja. Upayanya mendekati Andra hanya sia-sia karena hati Andra hanya untuk Sabil.


Suster Jane tak menyerah, masih banyak kesempatan pikirnya. Menurutnya, ia yang lebih berhak bahagia dengan keluarga itu. Selama ini ia sudah membayangkan hidup dengan suami yang sempurna dan mertua yang baik. Suster Jane masih bertekad untuk memisahkan Andra dan istrinya.


,,,

__ADS_1


Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah. Kedua insan manusia yang dimabuk asmara itu masih belum selesai dengan urusan membuat bayi mereka.


Setelah permainan panas di kamar mandi tadi Andra memang membiarkan istrinya beristirahat. Tapi tak lama karena tangan nakal Andra sudah kembali menyentuh tempat-tempat sensitif milik istrinya. Tentu tidur Sabil terganggu, rasa kantuk yang begitu hebat tak bisa mengalahkan gairahnya.


Andra begitu pandai bahkan Sabil mendesaah dalam tidurnya.


"Kau lucu sekali, masih tidur tapi merasakannya. Aku tidak akan menyerah sampai kau membuka mata."


Andra terus memainkan jarinya pada ujung puncak nipel sang istri yang sudah mengeras. Memilin dan menggigitnya kecil di balik lingerie tanpa dalaman itu. Hingga si pemilik tubuh pun dengan terpaksa membuka matanya.


"Kak..." rengekkan Sabil terdengar berbeda di telinga Andra. Baginya Sabil sedang meminta lebih. Dia semakin bersemangat memainkan jari-jarinya, hingga Sabil meremas seprai.


Andra tersenyum puas saat merasakan milik istrinya basah akibat perbuatannya. Sedangkan Sabil tentu saja malu setengah mati. Ia lelah dan mengantuk tapi respon tubuhnya berkata lain setiap Andra menyentuhnya.


"Sekarang giliran ku, mari kita buat kenangan indah di negara Swiss. Jangan pernah melupakan semua hal yang kita lalui, dan tetaplah percaya padaku apapun yang terjadi."


Perkataan itu terdengar aneh menurut Sabil. Seolah-olah akan terjadi sesuatu esok hari. Aku harap ini hanya perasaanku saja.


Sabil masih berperang dengan pikirannya sendiri, tapi Andra malah menuntun tangannya pada senjatanya. Sabil melotot, bagaimana mungkin itu sudah keras kembali. Seperti tidak ada lelahnya.


Andra menuntun Sabil dalam permainannya, kini giliran ia yang di buat tak berdaya dengan permainan sang istri. Sekali diberi tau Sabil sudah langsung mengerti kemauannya Andra. Walaupun awalnya menolak dan tentunya malu, tapi ia juga ingin memuaskan suaminya.


"Ahhh... sayang, kau hebat. Terus sayang."

__ADS_1


Gairah Andra semakin menggebu-gebu, ia memegangi rambut panjang Sabil menggerakkannya semakin cepat.


"Aku sudah tidak tahan sayang...Ahhh... kau luar biasa."


Setelah mengatakan itu ia mendorong tubuh Sabil dan mengangkat kedua pahanya lebar-lebar, untuk memudahkan aksesnya.


Sabil menggigit bibir bawahnya lagi-lagi, berusaha menahan suara indahnya. Milik suaminya itu selalu membuatnya melayang.


Andra langsung saja memasukan miliknya, melesat masuk kedalam kehangatan milik sang istri. Denyutan dan jepitan milik istrinya membuatnya gilaaa. Ini gila dan aku selalu ingin mengulangi lagi dan lagi.


Gerakan pinggulnya semakin cepat saat senjatanya semakin keras. Ruangan itu kini di penuhi oleh suara-suara merdu kedua insan manusia itu. Untung saja mereka berada di kamar yang dilengkapi dengan kedap suara.


Andra tergeletak di samping istrinya, setelah lagi-lagi menumpahkan calon bibit unggulnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos, lalu menciumi kening sang istri.


"Terimakasih sayang, kau sudah mencintaiku dan mengijinkan ku mencintaimu." Memeluk tubuh Sabil yang masih mengatur nafasnya.


Mereka terlelap setelah permainan panjang dan penuh cinta. Berharap benih-benih yang Andra tanam segera tumbuh di rahim sang istri, agar semakin mengikat cinta mereka. Berharap sampai waktunya tiba Andra siap mengatakan semuanya pada Sabila. Bukan ia bermaksud menutupi hal itu lebih lama, tapi setidaknya ia menunggu janin tumbuh di perut rata istrinya. Ia belum siap bila Sabil menatapnya dengan kebencian dan kekecewaan.


°°°


Xiexie


Aku kasih adegan pemersatu bangsa ya... dikit doang kok sebelum ada konflik bentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2