
°°°
6 bulan kemudian.
Seorang wanita dengan perut yang membucit duduk sendirian di taman rumahnya. Memandang hamparan danau kecil yang ada disana.
"Sayang, kau disini rupanya." Pria tampan dan menawan datang dari dalam rumah.
Wanita itu tersenyum menyambut kedatangan sang suami.
"Anak papah lagi apa, jangan buat mamah repot ya." Mengusap perut istrinya yang mulai membuncit di kehamilan yang memasuki usia 5 bulan ini.
"Tidak kok pah, adek bayi pinter sekarang." Bersuara menirukan anak kecil.
Pria itu beralih menciumi wajah sang istri, wanita yang setia menemaninya melalui hari-hari terberatnya.
"Terimakasih sudah mau menjadi istriku, menemaniku dan mengandung anakku," ujarnya seraya menatap lekat wajah istrinya.
"Itu adalah kewajibanku kak." Jari jemari tangannya menyusuri rahang sang suami. Ketampanannya jelas bertambah saat sifat dan sikapnya kini berubah menjadi lebih bijak dan lembut. Meski kadang masih bersikap dingin dan kaku jika menghadapi musuh-musuhnya.
"Kalian disini rupanya," ujar seorang wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda.
"Mom..." Sepasang suami istri itu menyahut berbarengan.
"Ajak istrimu makan siang nak, wanita hamil tidak boleh sampai kelaparan." Jaraknya yang cukup jauh membuatnya sedikit berteriak. Duduk di kursi roda membuatnya tidak leluasa bergerak kesana-kemari.
"Baiklah mom, kami akan segera kesana." Sahut sang putra.
__ADS_1
"Cepatlah Daddy kalian juga sudah menunggu." Wanita yang sebentar lagi menjadi seorang nenek itu menggerakkan tangannya, memutar kursi roda yang ia duduki lalu masuk kembali kedalam rumah.
"Ayo sayang..." Ajak sang suami, mengulurkan tangannya dan dengan senang hati sang istri tercinta menerima uluran tangannya.
Dengan hati-hati sang suami menuntun istrinya untuk kembali kedalam. Satu tangannya pun melingkar di pinggang sang istri. Posesif, begitulah kira-kira si calon ayah itu. Tak mau istri dan calon anaknya kenapa-napa. Mereka adalah hidupnya dan penyemangat nya selama ini. Tidak tau jika sang istri tidak ada disampingnya.
Saling pandang penuh cinta dan kasih sayang, sesekali Sabila tersenyum menatap wajah suaminya. Andra begitu menjaga nya, seperti impian Sabil selama ini. Mempunyai suami yang begitu mencintainya seperti sang ayah yang begitu mencintai ibunya.
Hati Sabil lagi-lagi nyeri saat mengingat ayahnya. 6 bulan ini ia melewati hari-harinya penuh dengan berbagai warna. Kesedihan datang tanpa menyapa. Tiga bulan yang lalu ayahnya baru saja berpulang pada sang pencipta. Hancur seketika dunianya, satu-satunya lelaki yang amat sangat mencintainya dengan tulus dan tanpa pamrih pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Mungkin Sabil egois jika meminta ayahnya hidup lebih lama lagi untuk menemaninya. Sang ayah yang selalu kesepian dan menangis diam-diam karena merindukan istrinya yang lebih dulu pergi, kini beliau sudah bahagia bisa berkumpul kembali bersama sang istri.
Tapi bisakah Sabil meminta jika sang ayah diijinkan hidup sedikit lebih lama, agar ia bisa melihat cucunya lahir ke dunia ini. Ternyata takdir Tuhan memang tidak bisa diubah, rencananya lebih indah dari yang kita kira. Tuhan lebih sayang pada ayahnya, tak ingin lagi membiarkannya menangis karena rindu.
Sabil sangat ingat tiga bulan yang lalu, saat ia baru saja pulang dari Swiss setelah melewati hari-hari yang cukup sulit disana. Dia sangat senang akhirnya bisa kembali ke tanah air, ingin segera bertemu ayahnya dan membawa kabar gembira. Ya saat di Swiss Sabil tak memberi tahu ayahnya jika ia sedang mengandung, ia ingin memberi ayahnya kejutan.
Betapa terkejutnya, bahkan sampai pingsan saat tak mendapati ayahnya di rumah. Kata karyawan toko, ayah Mul dirawat di rumah sakit satu minggu yang lalu. Pikiran Sabil kacau, Andra saja tidak bisa menenangkannya. Sabil kira selama ini ayahnya baik-baik saja, tidak pernah mengeluh sakit apapun. Tetapi kenapa tiba-tiba sang ayah sampai dirawat dan kenapa tidak ada yang memberi tahunya.
Hidup Sabil bahkan lebih hancur lagi saat dokter mengatakan jika ayahnya menderita kanker dan sudah stadium empat. Bolehkah ia berteriak jika apa yang dokter katakan itu adalah bohong. Sejak kapan ayahnya sakit, bahkan ia sampai tidak tau. Putri macam apa yang tidak tau jika ayahnya sakit.
Kesedihannya membuat kesehatan Sabil menurun dan sempat membuat kandungannya lemah. Untunglah Andra selalu ada di samping istrinya. Andra terus memberikan semangat pada sang istri dan terus mengingatkan jika sekarang ia tidak sendiri ada kehidupan dalam perutnya. Sabil harus kuat dan tegar seperti apa yang ayahnya ajarkan selama ini.
Kosong, pandangan matanya dan pikirannya sudah entah kemana. Ia menyesal tak pernah bertanya dan tak menyadari jika ayahnya sakit. Sabil benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya. Jika dulu ia masih bisa kuat saat ibunya tiada, karena masih ada ayah yang menggenggam tangannya dan menjadi tempat ia bersandar. Tapi kini ia tak tau lagi kemana ia akan lari, dari siapa ia mendapat nasehat saat masalah menimpa.
Andra tak menyerah menyadarkan sang istri, melihatnya tak bereaksi apa-apa sungguh membuatnya khawatir setengah mati. Ia juga tak menyangka jika selama ini ayah mertuanya menyembunyikan penyakit yang dideritanya. Padahal jika dari awal ayah Mul menceritakan penyakitnya pastilah ia akan mencarikan pengobatan dan dokter terbaik untuk kesembuhannya.
"Sayang ingat, kau sedang mengandung. Sadarlah dan bangunlah dari kesedihanmu. Pikirkanlah calon anak kita yang belum lahir ke dunia ini, jangan sampai membahayakannya dan dia tidak punya kesempatan untuk melihat dunia."
__ADS_1
Hanya itu yang terus Andra ucapnya agar sang istri bisa segera bangkit. Meski ia tau jika ini bukan hal yang mudah, ia pun pernah merasakan bagaimana rasanya di posisi Sabil. Ia tak pernah beranjak dari sisi istrinya, memeluknya dan selalu membisikkan kata-kata yang mungkin membuat Sabil bangkit.
Dalam bayangannya Sabil bertemu sang ayah dan ibunya, mereka berjalan kearahnya dengan wajah bahagia.
"Ayah, ibu jangan pergi. Jangan tinggalkan Sabil sendiri."
"Tidak nak, ayah harus pergi ibumu sudah menunggu terlalu lama. Kini kau sudah ada yang menjaga dan melindungi, ayah sudah tenang. Biarkan ayah dan ibumu pergi."
"Tidaakkk... ayah jangan tinggalkan Sabil sendiri."
Bayangan itu semakin menjauh dan perlahan menghilang dari pandangannya. Sabil terus berteriak histeris memanggil orang tuanya. Hingga ia merasakan genggaman hangat tangan seseorang, bayangan suaminya muncul sambil menggendong anak kecil dan mereka tersenyum pada Sabil.
Andra jelas panik saat sang istri tiba-tiba berteriak, ia terus mencoba menyadarkan Sabil. Tangannya tak pernah lepas untuk menggenggam tangan Sabil. Doa pun selalu terucap dalam hatinya.
"Sayang, aku mohon jangan begini. Bukankah kau bilang, jika Tuhan sudah menggariskan takdir hidup seseorang. Kita harus kuat, demi aku dan anak kita yang belum lahir ke dunia."
Genggaman tangannya semakin erat, ia juga menciumi punggung tangan sang istri. Air mata juga menetes di pipinya. Hatinya hancur berkeping keping melihat keadaan sang istri.
°°°
Jangan lupa baca juga novel baruku ya guys.
Judulnya : Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
Cari Nama penanya : Three ono
Xiexie
__ADS_1