
°°°
Saat Andra hampir memejamkan matanya di sofa tiba-tiba ia mendengar ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Dengan sedikit malas ia mengambil ponselnya di meja. Ia melihat pesan masuk yang ternyata dari gadis yang mampu mengembalikan mood nya.
^^^💌 Sabilaku^^^
^^^Apa kak Andra sedang sibuk?^^^
Pesan singkat itu membuat bibir Andra terangkat. Ia langsung membalas nya.
💌 Sabilaku
Tidak, ada apa?
^^^💌 Sabilaku^^^
^^^Apa kak Andra sudah makan malam?^^^
💌 Sabilaku
Belum cantik.
^^^💌 Sabilaku^^^
^^^Sudah semalam ini kakak belum makan. Bagaimana kalau sakit. Sebaiknya kakak makan dulu sekarang.^^^
Andra senyum senyum sendiri jadinya, gadis kecilnya menang selalu perhatian. Ia memang suka sekali melewatkan waktu makan bila sudah sibuk bekerja. Lalu ia segera beranjak ke dapur dan mencari apa ada makanan di sana.
Membuka lemari pendingin mencari apa yang bisa di makan. Tapi ternyata hanya ada minuman dingin disana karena Andra jarang menempati apartemen itu. Sudah Andra duga, lalu ia mencari di setiap lemari yang ada di sana.
Klek
Lemari yang terakhir, hanya ada satu bungkus mi instan disana. Sebenarnya ia bisa saja memesan makanan, tapi rasanya malas kalau harus turun kebawah untuk mengambil karena kurir tidak di ijinkan naik ke atas.
Dengan terpaksa ia membuat mie instan itu, membuka kembali lemari pendingin dan mengambil satu butir telur. Lima menit ia berkutat di dapur akhirnya selesai juga. Ia menyajikan mie itu ke mangkuk dan membawanya ke meja makan.
Tapi sebelum memakan nya ia memotretnya terlebih dahulu, untuk di kirimkan ke Sabil.
Ceklek
💌 Sabilaku
Aku makan.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan ia segera memakannya. Sambil terus melihat ponsel nya yang tergeletak di meja, menunggu balasan dari Sabil.
"Apa gadis itu sudah tidur? Tapi ini terlalu awal untuk tidur." Gumamnya sambil melihat jam tangannya yang baru menunjukan pukul 8 malam. Setelah menghabiskan separuh mangkuk mie akhirnya Sabil membalas pesannya, dengan cepat ia membukanya.
^^^💌 Sabilaku^^^
^^^Kenapa makan mie instan kak. Kakak pasti di apartemen.^^^
Ia tak langsung membalas, berniat menghabiskan dulu makanan nya setelah itu akan menelpon gadis itu, sekalian ia ingin mendengar suaranya.
Andra berdiri di balkon kamarnya saat ini. Setelah menghabiskan makanan dan mencuci mangkuk yang dipakainya tadi ia segera ke kamar. Seperti tujuannya tadi ingin menelpon Sabila.
Tut...Tut...
"Halo kak."
Suara merdu Sabil menyambut nya.
"Kau belum tidur?" Tanya Andra.
"Hampir kak... Kak Andra sudah selesai makannya?"
"Sudah, jadi kau sudah mengantuk?"
Andra tersenyum mendengarnya, jadi pingin mijitin jadinya.
Lumayan lama mereka berdua bertelepon. Sabil yang menceritakan harinya, sedang Andra setia mendengarkan seperti biasa. Hampir dua jam tapi Sabil masih saja bercerita, padahal ia sudah beberapa kali menguap di sela-sela ceritanya. Andra pun sudah pindah ke dalam, duduk bersender di ranjang.
"Kak... apa kakak sudah tidur?"
"Belum, kenapa?"
"Hoaammm... kirain kakak tertidur. Hehehe..."
"Kau sudah mengantuk Sabila, matikan telponnya dan tidurlah." Perintah Andra yang tak tega mendengar Sabil terus menguap sedari tadi.
"Nanti kak, jangan di matikan dulu. Aku masih rindu dengan kak Andra, sudah lama kita tidak bertemu. Aku kira kak Andra sudah lupa padaku."
Deg
Seketika hati Andra menghangat mendengar ucapan Sabil.
"Kau bilang apa tadi, aku tidak dengar." Ujar Andra sengaja, agar dia bisa mendengar sekali lagi gadis itu bilang merindukan nya. Namun tak ada sahutan dari sana.
__ADS_1
"Sabil... Haloo.. Sabila..."
Tetap saja tidak ada sahutan. Lalu ia mendengar suara dengkuran halus di ponselnya. Rupanya Sabila sudah tertidur pulas.
"Sudah tidur, hmmm..."
"Jadi apa tadi sungguhan atau kau hanya mengigau." Andra tersenyum geli, mungkin gadis itu tidak sadar saat mengatakan nya tadi.
Andra pun mematikan panggilannya dan membaringkan tubuhnya. Mencoba memejamkan matanya, tapi sialnya ia jadi tak mengantuk setelah mendengar penuturan Sabil tadi. Sepanjang malam pun ia senyam senyum sendiri, entah jam berapa ia berhasil memejamkan matanya.
Pagi harinya Andra bangun agak kesiangan, pukul tujuh pagi ia baru bangun akibat tidur terlalu malam.
"Sudah jam tujuh." Ujarnya saat melihat jam.
Ia langsung bergegas masuk kamar mandi, agak tergesa Andra melalukan ritual mandinya karena pagi ini akan ada meeting dengan investor.
Andra keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Tubuh kekarnya yang masih sedikit basah menambah ketampanan nya. Langkahnya terhenti melihat panggilan dari assistennya.
"Selamat pagi tuan muda. Hari ini anda ada rapat dengan investor jam delapan pagi." Tutur Toni mengingatkan, pasalnya ia sudah menunggu sejak pagi di parkiran bawah apartemen bosnya, tapi tuan mudanya tak juga turun. Ia khawatir terlambat meeting penting hari ini, karena butuh waktu dari apartemen ke kantor lalu menyiapkan beberapa berkas untuk meeting.
"Ya sebentar lagi aku turun." Jawab Andra, kemudian langsung mematikan panggilan.
Ia segera masuk walk in closet dan bersiap.
Sedang di bawah Toni sudah gelisah karena tuan mudanya tak juga turun, padahal tadi katanya sebentar lagi. Ia barulah bernafas lega setelah melihat tuan mudanya keluar dari lift yang ada di parkiran.
"Pagi tuan muda," sapa Toni, lalu ia segera membukakan pintu mobil bagian belakang.
"Hmmm..." Seperti biasa Andra hanya menjawab seadanya.
Untung saja jalanan belum begitu macet, Toni pun lega ia jadi bisa sedikit menambah kecepatan.
Mereka hanya saling diam di mobil, ya Andra hanya bicara seperlunya saja jika ada yang penting. Sampailah mobil yang mereka tumpangi di perusahaan Adiguna.
Andra dan Assisten nya segera masuk bahkan dengan langkah agak cepat karena waktunya semakin mepet. Jangan di tanya Toni lebih khawatir karena ia harus menyiapkan berkas untuk meeting terlebih dahulu.
"Ton, segera siapkan semuanya dan kita ke ruang meeting segera." Ujar Andra pada Toni setelah sampai di lantai atas. Toni sedikit mengumpat tuan mudanya itu dalam hati.
Aku juga tau tuan. Salah tuan yang kesiangan.
°°°
xiexie
__ADS_1