
°°°
"Ayahhh..." Teriakkan Sabil menggema di dalam toko kue itu.
Seketika para pembeli yang sedang menikmati cemilan di siang harinya itu menengok.
"Ups... maaf..." Sabil tersenyum memamerkan deretan giginya lalu berjalan sambil terus membungkukkan tubuhnya guna meminta maaf, karena sudah mengganggu para pengunjung toko kue ayahnya. Ia sampai tak sadar jika saat ini sedang lumayan ramai di dalam toko itu.
"Kak Amel dimana ayah?" Tanya Sabil sedikit pelan, pada perempuan yang berada di belakang meja kasir.
"Ayahmu di dalam." Jawab Amel menunjuk ruang yang ada di belakang.
"Ok.." Sabil langsung berjalan ke belakang.
Amel menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sabil. Gadis manis yang menyenangkan, dan sudah seperti adiknya sendiri. Ya sekarang pak Mul mempunyai satu karyawan, karena tokonya semakin ramai.
Sabil pun tak tega melihat ayahnya kelelahan mengurus toko, sedang ia hanya bisa membantu nya setelah pulang sekolah.
"Ayah sedang apa?" Tanya Sabil yang melihat ayahnya berkutat dengan alat masaknya.
Tentu saja ayahnya sedang membuat kue, tapi tetap saja Sabil bertanya.
"Sedang mencoba resep baru, Kau sudah pulang?"
"Iya ayah, Aku mau meminta ijin untuk menengok mommy Rahmi di rumah sakit."
"Nyonya Rahmi sakit? sakit apa nak?"
Pak Mul menghentikan aktivitas nya, lalu menatap putrinya.
"Sabil tidak tau Yah... bolehkah aku melihat nya Yah?"
"Tentu kau harus ke sana, Ayah akan mengantarmu."
__ADS_1
"Tidak perlu, Sabil akan pergi dengan kak Andra, dia ada di depan. Kalau begitu Sabil siap siap dulu." Sabil segera masuk untuk bersiap.
Setelah selesai berganti pakaian, dengan kaos polos, celana jeans panjang sebagai bawahan dan memakai kardigan di bagian luar. Tak lupa sepatu kets khas anak muda. Penampilan nya sangat menampilkan kesan remaja nya.
Ia keluar setelah mengoleskan sedikit pelembab bibir nya, karena warna bibirnya memang sudah pink alami tanpa pewarna.
Sabil keluar, mencari keberadaan ayahnya lagi untuk berpamitan.
"Ayah kemana kak Mel?" Tanya nya pada gadis yang tengah sibuk menata kue pada rak lemari kaca.
"Kau akan pergi?" Amel balik bertanya, saat melihat penampilan Sabil yang sudah rapi.
"Iya mau menengok mom Rahmi, wanita yang sering aku ceritakan pada kak Amel."
"Baiklah, berhati-hati lah. Ayahmu seperti nya ada di luar." Ujar Amel sambil mengarahkan pandangan nya ke luar toko.
"Ohh iya, aku pergi dulu kak." Sabil melambaikan tangannya.
Ada beberapa kursi dan meja di luar, dan di atasnya ada payung besar agar siapa yang duduk di sana tak kepanasan dan kehujanan.
Sabil menghampiri mereka, "Ayah..."
Pak Mul menoleh, "Kau sudah siap. Nak Andra sudah menunggumu pergilah, dan ini ayah sudah membungkus beberapa kue." ujarnya seraya menyerahkan satu kotak kue pada Sabil.
"Iya ayah... Sabil pergi dulu." Tak lupa Sabil mencium punggung tangan ayahnya.
"Kami permisi paman." Andra pun bangkit dari duduknya. Tak lupa ia juga melakukan apa yang Sabil tadi lakukan.
Ahh ya Sabil hampir lupa, seperti nya mereka tadi sedang membicarakan sesuatu sebelum aku sampai, biarlah mungkin hanya obrolan biasa saja. Pikir Sabil.
"Nak, apa yang kau pikirkan? Bukankah kau ingin segera menemui Mommy mu."
"Ehh iya, Sabil pergi dulu, dahhh ayah
__ADS_1
.." Ujarnya berlalu menyusul Andra yang sudah berjalan ke arah mobilnya.
Tak lupa Andra membukakan pintu mobilnya untuk Sabil.
"Aku bisa sendiri kak." Sabil merasa tak enak di perlakukan seperti itu.
"Naiklah." ujarnya seraya mengacak gemas rambut Sabil yang di biarkan tergerai itu.
Sabil menurut, ia segera mendudukan tubuhnya di kursi mobil.
Kenapa dengan pria itu, kenapa mudah sekali tersenyum sekarang, bagaimana jika aku terpesona.
Pipi Sabil tiba-tiba bersemu merah.
"Kamu kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Andra yang baru saja memasuki mobil, tapi ia melihat wajah Sabil memerah. Ia tak tau saja jika itu karena nya.
"Hah... Tidak kak," ujar Sabil ia memalingkan wajahnya, tak mau wajah merah nya semakin terlihat karena malu.
Andra menarik tangan Sabil, hingga tubuh Sabil menghadap dirinya. Tanpa aba-aba ia sudah menempel kan tangannya pada dahi Sabil.
"Benarkah tidak apa-apa? Tapi wajahmu semakin merah."
Seketika Sabil menjauhkan tubuhnya, ia tak terbiasa di perlakukan seperti itu oleh orang lain, apalagi lawan jenis nya.
"Ti..tidak apa kak, sebaiknya kak Andra segera melajukan mobilnya. Aku tak sabar ingin bertemu Mommy Rahmi."
Sabil mengalihkan perhatian lelaki itu, untuk menutupi rasa malunya yang kian mendera. Sekarang ia kembali mengalihkan pandangannya ke luar.
Kenapa gadis ini, apa dia malu, tapi pipi merona nya semakin mengemaskan. Pikir Andra, ia suka sekali melihat wajah gemas Sabila.
°°°
Xiexie
__ADS_1