
°°°
Sabila dari tadi hanya diam saja menatap keluar jendela mobil. Pemandangan kota yang indah sekarang tampak kabur dimatanya. Rasa bersalah memenuhi pikirannya, padahal ia memasak sudah mengikuti saran ahli gizi yang Andra datangkan. Memakai bahan pun kualitas premium, mana mungkin ia sengaja ingin mencelakai mommy mertuanya.
Mereka dalam perjalanan menuju apartemen saat ini. Setelah Andra mengajak istrinya singgah di restoran untuk makan. Andra tau apa yang dirasakan sang istri, ia sungguh geram pada suster itu. Jika tidak mengingat kebaikannya selama ini pasti Andra sudah mengirimnya ke kutub Utara.
"Sayang, kita sudah sampai. Kau terus melamun sampai tak menyadarinya." Mengajak Sabil keluar dari mobil.
Sabil berusaha tersenyum saat suaminya menegur.
Mereka telah sampai di apartemen yang Dad Ray siapkan. Awalnya Sabil menolak, ia bersikeras ingin menemani mom Rahmi di rumah sakit. Tapi niatan itu tak dituruti oleh Andra, mood Sabil sedang buruk bahkan makan saja hanya diacak-acak. Lebih baik kembali ke apartemen dan menenangkan pikiran.
"Apa kau masih marah karena aku tak membiarkanmu kembali ke rumah sakit?" Membelai surai lembut rambut Sabil dan menatapnya penuh kasih sayang.
"Tidak kak, aku tau kak Andra memikirkan ku. Terimakasih banyak karena percaya padaku." Ujarnya penuh rasa syukur.
Padahal aku hampir mencelakai mommy tapi kak Andra masih membelaku, menjadi tameng untukku.
"Kepercayaan adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan. Menjagamu adalah kewajiban ku. Kau adalah tanggung jawab ku, jika kau melakukan kesalahan itu artinya aku yang lalai. Tapi kau tidak melakukan itu sayang, semuanya sudah kamu pikirkan dengan baik."
"Aku dengar sendiri saat kau banyak bertanya pada ahli gizi mengenai apa saja yang harus dihindari oleh mommy. Kau membuatnya dengan hati-hati dan penuh cinta."
Mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Sabil lalu menariknya dalam pelukan.
"Kak, apa Mommy juga mengerti seperti kak Andra." Perasaan Sabil masih mengganjal.
__ADS_1
"Tentu bahkan mommy lebih percaya padamu dari pada anaknya sendiri." Masih sempat menggoda.
Sampai di apartemen, Andra membiarkan istrinya beristirahat. Membaringkan tubuhnya di ranjang lalu ikut menemani hingga istrinya terlelap.
Menengok dengan perlahan lalu menarik lengannya yang menjadi bantalan sang istri dengan hati-hati, agar tidurnya tak terusik. Memandangi wajah yang sedang tertidur itu lalu menyelipkan rambut yang menutupi wajahnya.
"Tidurlah sayang." Mengecup kening sang istri lagi kemudian barulah ia keluar dari kamar.
Andra berjalan ke dapur lalu membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan-bahan makanan. Tidak banyak yang tau jika lelaki itu cukup pandai memasak, dulu saat ia tinggal di apartemen sendiri ia cukup sering bereksperimen dengan bahan makanan. Alex dan Reza, kedua sahabatnya itu yang sering menjadi korban untuk mencicipi hasil masakannya.
Telor, roti, sayur dan potongan daging menjadi pilihannya. Membuat menu yang gampang dan cepat. Sandwich makanan yang bertumpuk itu menjadi andalan. Ia menambahkan daging karena mengingat Sabil yang suka sekali berbagai macam olahan daging.
"Euggghhh..." Sabil menggeliat saat menghirup aroma daging. Hidupnya mengendus-endus padahal matanya masih terpejam.
"Bau apa ini. Harum sekali." Matanya melebar lalu mencari suaminya yang tak ada di sampingnya. "Dimana kak Andra?"
Terdengar suara benda-benda bertabrakan dari arah dapur. Sabil pun segera melihat. Pemandangan yang lagi-lagi membuatnya terkagum. Lelaki tampan dan seorang pemimpin perusahaan besar saat ini sedang memakai appron dan berkutat di dapur. Sungguh Sabil ingin mengabadikan momen langka itu tapi sayangnya ia tak membawa ponsel, entah kemana sepertinya tertinggal di kamar.
"Sayang, kenapa kau bangun. Apa aku terlalu berisik."
Padahal aku ingin mengambil ponsel tapi sudah ketahuan lebih dulu.
"Hehehe... aku mencium bau makanan kak." Huft gagal mengabadikan momen langka.
"Kenapa?" Dahi Andra berkerut saat Sabil terkekeh sendiri.
__ADS_1
"Ehhh... tidak kak, kau sedang apa kak?" Sabil mencoba mengalihkan perhatian.
"Aku membuat makanan." Sambil mencuci tangan lalu melepas appron yang menempel ditubuhnya.
Andra membawa piring dengan beberapa potong sandwich diatasnya. Lalu menyuruh Sabil duduk.
"Kau yang membuat ini kak?" Tanya Sabil yang masih tidak percaya kalau suaminya bisa memasak meski hanya sandwich yang terlihat gampang.
"Iya cobalah. Aa...a...." Menyuapkan potongan sandwich itu kedalam mulutnya sang istri.
"Ini enak kak, sungguh." Sambil mengunyah, mulutnya yang penuh oleh potongan roti berlapis itu belepotan dengan mayonaise yang meleleh disudut bibirnya.
Andra mendekatkan wajahnya lalu menyambar bibir yang sibuk mengunyah itu. Lelehan saos dan mayonaise sudah bersih oleh Andra.
"Memang sangat enak." Tersenyum menyeringai.
"Kak kau..." Sabil sudah tak tau lagi mau bicara apa, rona wajahnya sudah menyiratkan semuanya.
Mengerlingkan sebelah matanya merasa puas telah membuat istrinya malu-malu. Sekaligus merasa senang karena Sabil akhirnya mengisi perutnya dan tidak memikirkan hal-hal itu lagi.
°°°
Xiexie
Big love untuk kalian semua.
__ADS_1
Jangan lupa tekan tombol likenya. Komen juga boleh. Apalagi kirim bunga.