
°°°
Hari berganti begitu cepat. Tanpa terasa kini Sabila sudah bukan lagi gadis SMA.
Ia baru baru saja lulus di universitas terbaik di kotanya dengan predikat cumlaude. Gadis itu berhasil membuat ayahnya bangga. Sekarang ia mulai memasuki dunia kerja, mencoba memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan.
"Sabil..." panggil Amel.
Sabil menoleh, gadis cantik yang sekarang terlihat lebih dewasa.
"Tolong antarkan ini ke meja no 20." Ujar Amel seraya menyerahkan nampan berisi pesanan tamu.
"Ok kak..." Dengan senang hati Sabil membantu.
Inilah kegiatannya sekarang, sebelum mendapatkan pekerjaan ia tentu saja menghabiskan waktunya membantu sang ayah.
Sebenarnya pak Mul berharap Sabil mau meneruskan usahanya, tapi ia tak memaksa. Biarlah Sabil mendapat pengalaman di luar sana, jika nanti ia bosan dan lelah dengan senang hati pak Mul menyerahkan usahanya.
Nama Perusahaan Adiguna pun semakin membumbung tinggi. Banyak perusahaan berlomba-lomba untuk mengajukan kerja sama. Semua berkat usaha keras tuan muda Adiguna, yang merelakan masa mudanya sepenuhnya untuk perusahaan.
Tok, tok, tok
"Masuk!" Suara besar milik Andra terdengar.
"Permisi tuan, ini teh nya. Dan ini berkas yang anda minta." Toni meletakkan teh dan berkas pesanan tuannya. Toni kini tak hanya menjadi sopir tapi juga assisten pribadi Andra. Yang selalu siap sedia kapanpun tuannya butuh sekaligus membantu pak Tantan yang mulai kewalahan karena semakin pesatnya kemajuan perusahaan.
"Bagus. Oh ya, apa kau sudah mengirim bunganya?" Tanya Andra.
"Sudah tuan, dan sudah di terima langsung oleh nona." Jawab Toni sopan, sikap dan tindakan nya pun sudah terlatih berkat didikkan pak Tantan.
"Kamu memang bisa di andalkan." Puji Andra.
"Kalau begitu saya permisi tuan." Toni berbalik dan meninggalkan ruangan.
Andra pria tampan dengan sejuta pesona, semakin berkarisma di usianya yang masih muda. Wajahnya sudah mangkrak di banyak majalah bisnis, kesuksesan nya mampu menandingi Daddy nya.
__ADS_1
Banyak pengusaha yang menawarkan putri mereka untuk dipersunting, berharap tuan muda Adiguna menjadi menantu mereka. Bahkan tak jarang mereka menggunakan cara-cara yang licik, menjual putrinya kandung nya sendiri hanya untuk sekedar ditiduri sang tuan muda, agar kerjasama berjalan lancar.
Darah Adiguna memang kental dalam diri seorang Andra. Kesuksesan tak membuatnya suka bermain wanita. Dia akan dengan senang hati menerima kerjasama jika memang dengan perusahaan yang kompeten. Bisnis tetaplah bisnis, keuntungan adalah yang utama.
Tok, tok, tok
"Permisi tuan muda, tuan Alex ingin bertemu?" ujar Toni.
"Suruh dia masuk." Ujar Andra.
Toni pun langsung mempersilahkan Alex memasuki ruangan CEO.
"Silahkan tuan Alex..."
"Yaa..." Alex melenggang masuk, tanpa permisi ia langsung saja duduk di sofa.
"Oh ya bawakan aku orange juicy." Perintah Alex pada Toni.
Toni mengangguk dan meninggalkan ruangan.
"Huhhh nyaman sekali kantor CEO Adiguna." Alex tak menjawab pertanyaan Andra, ia sibuk melihat-lihat kantor teman lamanya itu.
Plukk
"Woyy.... Apa si An!" Ujar Alex sambil mengusap kepala nya yang terkena pena yang di lempar Andra.
"Mau apa kau?" Tanya Andra lagi.
"Hehehe... Kamu itu sombong sekali, sudah tak pernah mau bertemu dengan ku." Alex mendudukkan dirinya di kursi di depan Andra dan memasang wajah memelasnya.
"Aku tak punya waktu." Ujar Andra yang sudah kembali mengerjakan pekerjaannya.
Alex memutar bola matanya jengah. Selalu saja alasannya sibuk, padahal Alex sudah berusaha mencari waktu untuk berkumpul. Karena memang teman dekatnya tidak banyak, dan tidak ada yang sedekat Andra dan Reza. Sayangnya Reza belum juga kembali, ia masih betah di negeri orang.
"Tapi kalau untuk adik kelas selalu ada waktu." Ujar Alex menyindir.
__ADS_1
"Tentu saja itu berbeda." Dengan senyum semirk nya.
Kini giliran Alex yang melempar pena ke arah Andra, tapi sayang yang di lempar ternyata sudah sigap menangkap.
"Sudahlah,,, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Ini...!" Alex menyerahkan dokumen perjanjian yang di bawanya.
"Apa ini?" Tanya Andra berpura-pura tidak tahu. Padahal dia sengaja membuat Alex datang sendiri ke kantor nya. Dari kemarin ia sudah melihat kalau perusahaan milik om Indra ayahnya Alex mengajukan kerjasama. Tapi karena ia mendengar bahwa sahabatnya baru saja memimpin perusahaan itu, makanya ia sengaja menolak.
"Tidak usah berpura-pura. Cepat tanda tangan!" Ketus Alex.
"Hehh... Beginikah caranya mengajukan kerjasama," ujar Andra tak kalah ketus.
Alex menarik nafasnya panjang, temannya itu benar-benar sedang mempermainkannya. Ia jadi harus bersusah payah datang dan sebelumnya harus membuat janji dulu untuk bertemu Andra. Kalau bukan karena ayahnya sudah habis lelaki sombong itu olehnya.
"Tuan Andra yang terhormat, silahkan tanda tangan." Ujarnya menahan geram.
Andra tertawa puas dalam hati.
"Apa untungnya jika kita berkerjasama?"
"Semuanya sudah ada di dalam perjanjian tuan andraa..." Alex sengaja menekankan kata tuan Andra saat mengucapkan nya.
"Aku sedang malas membaca." Dengan santainya Andra menyingkirkan surat perjanjian itu.
"Huhhhh..." Alex mengelus dadanya berulang kali. Air dingin... ia butuh air dingin sekarang, atau amarahnya bisa membakar kantor itu.
Tok, tok, tok
"Permisi minuman ada tuan Alex." Untung saja Toni segera membawa minuman itu.
Dengan cepat Alex menyambar gelas di atas nampan dan meminumnya sampai tandas sekaligus.
Pagi yang cukup menghibur bagi Andra, mengerjai sahabatnya. Ya ia sengaja, sebenarnya ia sudah setuju. Ia juga sudah menelfon om Indra mengatakan setuju dengan kerjasama nya, tapi dengan syarat bekerjasama dengan nya mengerjai Alex.
°°°
__ADS_1
Xiexie