Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab117 Perjuangan


__ADS_3

°°°


"Mommy..." Niatnya mau berusaha tegar tapi setelah melihat sendiri kondisi mom Rahmi Sabil pun tak kuasa menahan air matanya lagi.


Mom Rahmi tersenyum saat melihat Sabil datang. Para dokter pun meninggalkan mereka berdua.


"Mommy... bertahanlah, berjuanglah untuk kami. Kami semua menyayangi mommy, kami ingin mom sembuh." Sabil mendekap tubuh yang terbaring itu, pelan-pelan karena takut akan menyenggol alat-alat medis yang menempel ditubuh mom Rahmi.


"Jangan menangis..." Dengan susah payah mom Rahmi bersuara. Itupun sangat lirih dan pelan.


Sabil memandangi wajah mom Rahmi.


"Mom... jangan katakan apapun. Mom pasti sembuh."


"Ma..maaf..."


Sabila menggelengkan kepalanya saat mendengar mom Rahmi meminta maaf sambil menitikkan air mata. Ia menggenggam tangan mommy mertuanya.


"Tidak mom, jangan katakan itu. Aku sudah memaafkan semuanya, mom ataupun kak Andra sama sekali tidak bersalah. Aku bahagia bisa mengenal dan menjadi bagian dari keluarga mommy. Mungkin itu adalah cara Tuhan mempertemukan kita."


Mom Rahmi pun membalas genggaman tangan Sabil. Iya tak sanggup berkata-kata lagi, hanya tangisan yang terus menerus mengalir.


Nak kenapa hatimu juga sangat mulia seperti ibu dan ayahmu. Mommy sangat bersyukur, Andra mempunyai istri sepertimu. Kalaupun Tuhan tidak lagi memberi kesempatan untuk mommy hidup di dunia ini. Mommy tidak akan menyesal karena Andra sudah memilih wanita yang tepat.


Rasa sakit di sekujur tubuhnya bahkan bagian tubuh yang seakan sudah mati, tak bisa digerakkan bahkan tidak berasa apapun. Mom Rahmi sudah pasrah pada takdir Tuhan, mau sebesar apapun kemauannya untuk hidup tetap Tuhan yang berada diposisi tertinggi dalam kehidupan ini.


Tiba-tiba mom Rahmi memejamkan matanya, genggaman tangannya pun melonggar. Monitor yang mengukur detak jantung pun berbunyi panjang. Sabil panik seketika, ia berlari mencari para dokter.


"Dokter tolong, tolong Mommy ku..." Tidak mungkin ini tidak mungkin terjadi, mom Rahmi pasti bertahan. Sabil berusaha meyakinkan hatinya.


Para dokter pun bergegas melakukan apapun yang bisa mereka lakukan. Semuanya berkerja, berusaha mengembalikan detak jantung nyonya Rahmi.


Dengan langkah gontai Sabil keluar dari ruangan itu. Mau tidak mau ia harus memberitahu andra dan dad Ray. Diluar dad Ray terlihat sudah lebih baik dari terakhir Sabil melihatnya tadi. Lalu apa sekarang Sabil tega membawa kabar buruk lagi.


"Sayang bagaimana, apa mommy sudah lebih baik?" tanya Andra menatap penuh harapan. Dad Ray pun sama matanya berkilat.

__ADS_1


"Mommy...dia..." Sabil tak sanggup mengatakannya.


"Mommy kenapa sayang?"


"Katakan saja nak, Daddy sudah siap mendengar apapun kabar yang kau bawa."


Sabil menatap mereka bergantian, lalu air matanya mengalir begitu saja.


"Mommy kak, keadaannya semakin buruk." Ia menghambur ke dalam pelukan suaminya.


Dad Ray memegang dadanya yang terasa nyeri, tidak sanggup jika sekarang sang istri dicabut nyawanya. Mereka bertiga menunggu dengan perasaan yang berkecamuk, berharap mom Rahmi bisa bertahan. Sedangkan orang yang Andra suruh untuk mencari pendonor juga belum ada kabarnya.


Kini Sabil bahkan terisak memikirkan hal buruk. Tuhan aku sudah memaafkan mom Rahmi, tolong berikan dia kesempatan lagi. Aku baru saja merasakan kasih sayang seorang ibu. Tolong jangan kau ambil lagi ibuku yang baru.


Doa adalah obat paling mustajab saat kita sudah berusaha tapi tidak berhasil. Tuhan memberikan kita cobaan itu karena kita mampu melewatinya. Dan disaat itulah waktunya kita mendekat pada sang pencipta.


Batin mereka terus mengucap doa untuk kesembuhan mommy Rahmi.


Pintu ruangan ICU terbuka lagi. Dari raut wajahnya sudah jelas jika tak ada kabar baik apapun.


"Tuan, tolong cepat carikan pendonor nya. Kami tidak tau bisa bertahan lebih lama lagi atau tidak."


Tiba-tiba alarm peringatan berbunyi, dokter yang tadi keluar pun kembali masuk. Mereka semakin dibuat takut.


Tiba-tiba dari lorong rumah sakit pada dokter datang menghampiri mereka.


"Tuan..." Sapa mereka semua.


"Kalian ada apa kesini ramai-ramai begini." Dad Ray tentu heran dengan kedatangan mereka. Bahkan petinggi rumah sakit ini pun ada.


"Sebelumnya kami disini berniat untuk meminta maaf kepada anda atas apa yang menimpa nyonya Adiguna. Karena kelalaian kami istri anda berada dalam bahaya." Kepala rumah sakit berkata dengan sangat tulus.


"Sudahlah kalian tak perlu meminta maaf, aku sudah mengikhlaskan semuanya."


"Tuan kami disini selain meminta maaf, sebenarnya juga membawa sesuatu untuk tuan." Menyodorkan satu berkas pada dad Ray.

__ADS_1


Andra dan Sabil pun ikut melihatnya.


""Ini... kalian berhasil mendapatkannya." Dad Ray seperti kembali mendapatkan secercah harapan.


"Iya tuan. Pasien sudah dalam perjalanan menuju kemari." Ujar mereka lagi.


"Terimakasih... terimakasih banyak." Dad Ray berterimakasih kepada semuanya. ia berjanji akan memberikan balasan yang setimpal pada orang yang mau menolong istrinya.


Kini harta ataupun jabatan bukan hal yang berarti lagi dalam hidupnya. Untuk apa semua itu jika kita hanya sementara di dunia ini.


Mereka yang mendengar tuan Adiguna berterimakasih pun terharu, perjuangan mereka tak sia-sia. Terbayar sudah hanya dengan kata terimakasih yang amat berarti keluar dari mulut tuan Adiguna.


Mereka semua masih berkumpul disana, di depan ruang operasi. Setelah tadi dapat kabar jika pendonor sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Para dokter bergegas memindahkan nyonya Rahmi keruang operasi.


Suka cita menyambut kedatangan sang pendonor pun terlihat jelas dari dad Ray dan yang lain. Sebelum sang pendonor masuk ruang operasi pun dad Ray bertanya pada keluarganya. Apa benar mereka mengijinkan keluarga mereka mendonorkan bagian tubuhnya. Ternyata itu semua adalah amanah dari calon pendonor itu semasa masih sehat. Beruntung sekali mereka menemukan keluarga itu, dad Ray berjanji akan menjamin kehidupan keluarga itu termasuk membiayai sekolah anak-anaknya hingga dewasa nanti.


Para dokter bekerja dengan cepat dan hati-hati. Kondisi nyonya Rahmi yang semakin melemah juga meningkatkan resiko gagalnya operasi itu. Mereka harus benar-benar hati-hati.


Hampir 10 jam operasi itu berlangsung. Mereka yang diluar tak berhenti memanjatkan doa agar operasi berjalan lancar. Dokter tadi sudah menjelaskan betapa rumitnya operasi itu. Mengingat jantung adalah bagian terpenting dari tubuh manusia. Dokter pun sudah menjelaskan resiko dan bahkan kegagalan yang bisa terjadi.


Benar-benar hanya bisa meminta pada Tuhan sang pencipta manusia, Dia lah yang bisa menciptakan manusia dan bisa mencabut nyawanya. Tidak tau skenario apa yang sedang Tuhan berikan, kita harus tetap sabar menerima.


,,,


Seorang wanita dengan perut yang sudah membesar duduk di taman rumahnya.


°°°


Xiexie


Terimakasih banyak yang masih setia menunggu cerita Sabila dan Andra.


Jangan lupa baca juga novel baruku ya guys.


Judulnya : Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

__ADS_1


Cari Nama penanya : Three ono


Xiexie


__ADS_2