
°°°
Hari berganti begitu cepat, bulan pun mulai bergantian sesuai urutan yang tertera pada kalender rumah masing-masing.
Tak terasa sebentar lagi para siswa/i kelas tiga akan melepas seragam putih abu abu nya. Mulai menapaki jenjang yang penting, pilihan yang tak di buat dengan matang dapat mempengaruhi masa depannya.
Terlihat ketegangan pada raut wajah kakak kakak kelas. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, di sinilah mereka akan di uji. Apa saja yang mereka jalani selama ini, bagi mereka yang benar benar menjalani sesuai hakikat nya, ya tentu tak masalah. Lalu apa kabar pada mereka yang hanya mengandalkan uang dan gaya.
"Kak Dion semangat ya ujiannya, bawa ini besok saat kakak ujian," ujar Rani memberi semangat dan menyodorkan kotak kecil pada Dion, hampir setengah tahun ini hubungan mereka masih langgeng jaya.
Semoga saja nanti tak ada orang ketiga.
Tergantung othor ya..
"Apa ini?" tanya Dion yang saat ini sudah menerima kotak itu.
"Buka aja kak."
Dion membukanya, sebuah foto ternyata.
"Foto?" ia menaikan sebelah alisnya.
"Iya kalau kakak kesulitan menjawab soal-soal nya kakak liat foto aku aja, biar kakak kembali bersemangat lagi." Terang Rani dengan polosnya.
Dion tersenyum melihat tingkah gadisnya, ia mengusap lembut kepala Rani, "Kakak tidak perlu membawa fotomu, karena wajahmu sudah memenuhi pikiran kakak," ujarnya tersenyum lembut.
Rani salah tingkah jadi nya, pipi merahnya sudah mewakili perasaan nya.
"Kak Dion gombal lagi," ujar Rani sambil memukul pelan dada kekasih nya.
"Awww... kamu menyakiti kakak," Dion berpura-pura kesakitan dan memegangi dadanya yang terkena pukulan tadi.
"Kakak kenapa, kakak bohongkan? Mana mungkin sakit tadi saja aku memukulnya sangat pelan."
"Aww.. aww.. ini benar-benar sakit," Dion tak menyerah.
"Ihh kak Dion paling ngerjain aku lagi," Rani berdiri mau melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Namun Dion belum juga menyerah untuk mendapatkan perhatian gadisnya.
"Aww... " teriaknya semakin keras dan dibuat agar terdengar menyakitkan.
Rani khawatir ia buru-buru mendekat, " Kakak tak bohong, Mana yang sakit ka?" ia mengusap bagian yang tadi sempat ia pukul.
Padahal Rani merasa pukulannya sama sekali tak keras, bahkan lembut. Namun melihat sang kekasih kesakitan tentu membuat nya begitu khawatir.
"Maafin Rani kak, apa masih sakit?" Ia masih mengusap usap dada bidang itu dengan lembut.
__ADS_1
Dion menahan tawa nya, gadisnya ini sungguh gampang sekali dikerjai.
Greepp
Dion memegang tangan Rani menempelkan telapak tangannya pada dada bidangnya.
Rani terkejut dengan tindakan Dion, ia mengangkat kepalanya dan sekarang pandangan mereka saling mengunci.
"Ini yang sakit, kakak sakit karena sebentar lagi tidak bisa berada di dekat mu terus." Ujar Dion.
Gadis itu menarik tangannya, detak jantung Dion yang begitu cepat terasa sampai telapak tangannya.
"Kakak ini apaan, kalaupun kita sudah tidak satu sekolah tapi kita masih bisa bertemu setiap hari."
"Lihat rumah kita bahkan bersebelahan, hanya butuh beberapa langkah saja kalau mau bertemu."
Rani tak habis pikir dengan kekasih nya. Rumah mereka saja sangat dekat, ya hanya ada pagar pembatas yang memisahkan.
"Kakak khawatir bila tak ada kakak banyak yang akan berusaha mendekati mu nanti."
"Apa aku tidak salah dengar, seharusnya aku yang khawatir. Di kampus nanti bahkan akan banyak sekali mahasiswi cantik," gerutu Rani.
"Kakak tidak akan tergoda dengan mereka, karena hati kakak hanya di penuhi oleh namamu," ujar Dion.
"Kakak yakin, bahkan kakak saja belum bertemu mereka."
"Yakin, mungkin mereka cantik tapi tak ada yang lebih cantik darimu, lalu apa lagi baik kau bahkan sangat baik," ujar Dion begitu yakin.
Dion terkekeh, "Sejak kapan kakak suka melihat perempuan dari sudut pandang yang kau sebut kan tadi, aku bahkan tak tahu arti sek-si. Bagi kakak wanita yang mampu menggetarkan hati kakak baru dia sek-si dan itu hanya kamu."
Rani menghambur ke pelukan hangat kekasih nya, "Aku tak akan membiarkan perempuan lain memasuki hati kakak."
Dion membalas pelukan nya, mengecupi kepala kekasihnya, menghirup dalam-dalam aroma khas gadis nya yang sangat membuatnya nyaman.
Sekian drama di sore hari dari sepasang kekasih lima langkah. Yang terjadi di bangku taman belakang rumah Dion. Langit sore yang menjadi saksi nya
Jika di tanya apa orang tua mereka tau mereka berpacaran. Jawabnya mungkin tau mungkin saja tidak, karena memang mereka sudah dekat dari kecil.
,,,
Disisi lain, di pusat perbelanjaan yang terkenal di kotanya.
Tampak raut wajah lelaki yang sudah amat jenuh karena dibuat menunggu.
Namun wanita yang membuatnya jenuh itu belum juga berniat mengakhiri kegiatannya.
"Apa lagi yang mau kau cari, Lihatlah bahkan tanganku sudah tak mampu membawa nya," ujar sang pria .
__ADS_1
Gadis itu tak menghiraukan ucapan sang kekasih, ia masih sibuk melihat sekeliling, toko mana lagi yang mau ia datangi.
"Cukup, ayo pulang!" bentak Alex yang sudah tak tahan lagi.
"Tunggu dulu, aku mau kesana," tunjuknya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kau saja yang pergi, aku mau pulang!" Alex menyerahkan semua belanjaan ke tangan gadis itu.
"Huaaaaa... kau jahat sekali, bahkan kau tak mau menemani wanita yang sedang mengandung darah daging mu." Shila mulai mengeluarkan jurus andalan nya.
"Dia pasti sedih ayahnya tak mau menuruti keinginan nya." ujar Shila mengusap perut ratanya, dengan nada yang di buat menyedihkan,
Para pengunjung mall langsung berkumpul melihat gadis yang menangis tersedu-sedu itu.
Seketika mereka menjadi pusat perhatian. Bahkan mereka sesekali melontarkan kalimat pedas untuk Alex .
"Anak muda jaman sekarang memang maunya enaknya saja."
"Iya kasihan kan itu perempuannya."
"Bener, tega bnget itu."
"Ganteng-ganteng tapi kelakuan minus."
dll
Mau tak mau Alex menghampiri gadis penuh drama itu, ia membawanya dalam pelukannya. Agar orang-orang itu tak lagi mencibirnya.
"Maafkan aku sayang, tadi aku tak sengaja. Aku hanya mengkhawatirkan mu dan anak kita, kau sudah terlalu lama berjalan itu tak baik untuk kandungan mu," ujar Alex mengusap rambut gadis dalam pelukannya, ia pun dengan sangat terpaksa masuk dalam drama yang di buatnya.
Shila tersenyum puas dalam dekapan lelaki itu.
"Tapi barusan kau membentak ku, hiks..." srupp
ia memasukkan ingusnya dengan suara yang keras.
"What apa lagi yang gadis ini perbuat?" kesal Alex dalam hati.
"Sudah ya, kita istirahat dulu setelah itu kau boleh melanjutkan apapun yang kau inginkan," ujar Alex dengan nada yang di buat selembut mungkin, ia menyadari orang-orang yang tadi masih saja memperhatikan mereka.
"Benarkah? janji," Shila senang dibuatnya, rencananya selalu berhasil untuk membuat Alex menuruti nya.
Setelah melihat sepasang kekasih itu berbaikan, para pengunjung yang lain mulai kembali pada kegiatan mereka yang sempat tertunda.
"Kau menang, awas saja kau nanti," Alex sungguh sudah sangat geram.
Besok adalah hari ujian namun ia tak bisa belajar, dan hanya membuang waktu di tempat itu.
__ADS_1
°°°
Xiexie