
"boleh gua aja yang gendong dia ke kamar?" Miko
"bo-leh"
Mega mempersilahkan Miko masuk ke kamarnya, sedikit berasa canggung, karena memang selama ini baru Miko laki-laki yang masuk ke kamar Mega.
Miko menidurkan Kenzo dengan hati-hati agar tidak sampai membangunkan Kenzo. Perlahan Miko melepas tangannya namun di detik terakhir Kenzo kembali berhasil menarik lagi lengan kekar Miko.
" I want to meet you Daddy" Mega membulatkan matanya mendengar Kenzo mengigau, Miko jadi merasa kasihan kepada Kenzo, rasanya ingin sekali tetap di pelukan bocah yang baru beberapa jam lalu di kenalnya itu.
Setelah sangat berhati-hati dan pelan akhirnya Miko bisa melepas pelukannya di lengan Miko. Mega mengantar Miko keluar dari apartemennya.
"sekali lagi thanks ya Ko udah mau main sama Kenzo "
"iya Meg, oh iya gua boleh minta nomor hp lu kayaknya gua bakalan sering ke sini nyamperin Kenzo"
__ADS_1
"sini" Miko menyerahkan ponselnya kemudian Mega mengetikkan nomornya di ponsel Miko
"thanks ya, gua balik Meg"
"iya Miko dah"
......................
Radika benar-benar kebingungan mencari keberadaan Angel. Senja menyadari kegelisahan hati Radika beberapa hari ini, tentu saja Radika mengelak ketika di tanya oleh Senja perihal kegelisahan hatinya.
Radika selalu pulang larut bahkan terkadang tidak pulang hanya karena dia sibuk mencari Angel. Senja tahu semuanya, tapi Senja diam dan selalu diam. Hingga pada suatu hari Radika membentak Senja dengan kasar hanya karena Senja menawarkan kopi saat Radika tengah memijat batang hidungnya seperti seorang yang sedang pusing.
Radika tidak meminta maaf dan bahkan pergi meninggalkan apartemen mereka.
Ting...tung...
__ADS_1
Satu kali saja Senja menekan bel apartemen Rendra dan Rendra langsung membuka pintunya. Senja tak tahan lagi, dia langsung menangis sesaat setelah melihat Rendra di hadapannya.
"Abang...." teriak Senja dalam Isak tangisan nya
"aku udah nggak kuat sama sikap Radika bang hiks...hiks...hiks... aku menyerah Abang....hiks..hiks..."
"tenangkan dirimu adik ku, tenang dulu, kita bisa bicarakan ini baik-baik"
"apa yang Abang ingin pertahankan? Radika tidak menginginkan aku bang, sejak awal hingga saat ini aku bukan yang dia inginkan hiks... aku capek bang... aku capek hiks...."
Rendra memeluk Senja mencoba menenangkan adik iparnya itu.
"sekian tahun aku merawat perasaan ku untuk dia, menjaga hatinya, mencintai dia, mengalah padanya, aku tidak perduli Radika mau menyadari cintaku atau tidak, tapi setidaknya hargai semua pengorbanan ku. Kali ini aku benar-benar lelah Bang, aku berterimakasih atas usaha yang sudah Abang lakukan untuk keutuhan keluarga ku tapi sepertinya Abang akan kecewa, karena adik Abang sendiri yang memang tidak bisa untuk sama-sama dan bersungguh-sungguh menjalani pernikahan ini hiks... hiks... Abang merasakan sakit hatiku bang? selama bertahun-tahun aku memendamnya tapi sekarang sepertinya aku sudah mulai bosan dan aku capek bang hiks... hiks..."
Senja tak henti-hentinya mengadu pada Rendra tentang perasaannya. Selama ini memang Senja selalu terlihat kuat di hadapan siapapun, tapi bagaimanapun Senja juga manusia yang bisa merasakan sakitnya di khianati dan di sia-siakan.
__ADS_1