
Radika tidak berani lagi mengganggu Senja dan memutuskan untuk pulang.
Senja sudah tidak ingin menangisi kebodohannya lagi, cinta nya pada Radika membuat otaknya tidak berfungsi dengan baik.
apa aku urungkan saja niatku menikah dengan Radika? lalu bagaimana dengan Bunda? kalau tahu seperti ini aku akan ambil jurusan ekonomi seperti yang Ayah inginkan (Senja)
Senja benar-benar sangat kecewa dengan Radika, bagaimana bisa dia mengutarakan tujuannya menikahi Senja.
"aaarrghh...." sekali Senja menjerit untuk melampiaskan kekesalannya, kemudian dia ambruk di atas kasur lalu menangis, menutupi wajahnya dengan bantal agar sang Bunda tidak mendengar suara tangisannya.
Tok...tok...tok...
"Senja... " suara Bunda terdengar nyaring di balik pintu
Senja segera merapikan wajahnya kemudian membukakan pintu
"ada apa Bunda?"
"kamu kenapa teriak?"
"teriak? enggak kok Senja tidur dari tadi. Udah malem loh kok Bunda belum tidur juga? "
"yakin bukan kamu?"
"enggak Bunda"
"ya udah Bunda tidur dulu ya"
"iya Bunda "
......................
Rendra duduk diam di balkon kamar Senja, menunggu Senja yang sedang bersiap untuk pergi bersamanya.
"ayo bang"
"udah?"
__ADS_1
"iya"
Mereka menuruni tangga bersamaan di sambut Cindy yang sedang santai di sofa sambil membaca laporan keuangan perusahaan.
"Bunda aku sama bang Rendra berangkat dulu ya"
"iya sayang hati-hati ya bang Rendra nyetirnya"
"iya Bunda"
Mereka melenggang meninggalkan rumah menuju salah satu boutique langganan keluarga Senja.
Hari ini fitting baju pengantin terakhir sebelum seminggu lagi akan Senja pakai di hari pernikahannya.
"maaf ya bang ngerepotin"
"enggak kok, emangnya Radika kemana?"
"dia lagi ada kerjaan di kantor bang"
"oh..."
Senja selesai lebih cepat dari yang dikira-kira kan Rendra. Mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sebelum pulang.
"Ja Abang boleh tanya?"
"tanya aja lah bang kayak sama siapa aja"
"kamu terpaksa menikah dengan Radika?"
"Abang kenapa tanyanya kayak gitu?"
"Abang seperti melihat Senja sering menangis akhir-akhir ini"
"gapapa bang Senja cuma rindu Ayah, disaat Senja akan memulai kehidupan baru Ayah sudah nggak sama Senja"
iya lah nggak mungkin Senja terpaksa, Radika adalah laki-laki yang di cintai nya (Rendra)
__ADS_1
"kita makan dulu ok?"
"iya bang"
Meraka masuk ke restoran Jepang, sebenarnya Senja enggan turun karena Senja telah melihat mobil Radika di parkiran tapi Rendra belum menyadarinya.
"Abang boleh ganti tempat nggak?"
"kenapa? katanya tadi mau makan sushi? setahu Abang disini sushi nya enak"
"ya udah ok"
semoga aku tidak melihat Radika (Senja)
Senja sengaja memesan private room agar terhindar dari Radika yang pasti datang bersama Angel.
"kamu nggak nyaman ya disini?"
"iya bang"
"mau pindah?"
"gapapa bang disini aja, udah di private room juga kan"
"ya udah"
Sushi dan berbagai printilan nya sudah tersedia di atas meja, Senja mulai relaks dan mulai memakan makanannya dengan tenang.
Rendra mengamati perubahan ekspresi wajah Senja yang tadinya agak tegang sekarang mulai sedikit lebih santai.
"habisin, kalau mau tambah Abang pesenin lagi, Abang yang traktir"
"boleh boleh ha ha ha"
Senja makan dengan di selingi senda gurau bersama Rendra.
"belepotan nih" Rendra mengelap ujung bibir Senja dengan jarinya.
__ADS_1
"wow"