Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
Part 28


__ADS_3

Radika meninggalkan pintu ruang kerja Bunda dan segera duduk di sofa karena mendengar derap langkah kaki Senja di tangga.


"bik Ijah belum bikinin lu minum?"


"kayak tamu aja"


"Bunda... Bunda...."


"ya sayang..." teriak Bunda


Senja menuju ruang kerja sang Ayah yang kini berpindah tangan menjadi ruang kerja sang Bunda


"Bunda udah dong kerjanya"


"nanggung sayang bentar lagi yah"


"maaf ya Bunda Senja sama sekali nggak tahu harus bantu kayak gimana "


"gapapa sayang kamu fokus sama karir kamu aja"


tok... tok... tok...


"masuk Dika" Senja


"ada Radika?" Bunda mendongak memastikan pertanyaannya


"iya Bunda"


"malem Bunda"


"hmmm anak laki-laki Bunda lama nggak main kesini"


"he he maaf Bunda Radika agak sibuk di kantor "


"udah kerja Bun dia" Senja


"sukur deh "


"Bunda ngerjain apa?"

__ADS_1


"ini"


Bunda memutar laptopnya mengarahkan layarnya ke hadapan Radika.


Radika melihat sekilas sebuah tulisan perencanaan pembangunan sebuah hotel yang sedang di kerjakan Bunda


"sorry Bunda ini kayaknya kurang tepat, boleh Radika coba benerin?"


"oh iya kah? yang mana coba kamu benerin"


Radika mulai mengerjakan yang di rasa salah dan tidak lama kemudian...


"ini coba Bunda lihat"


"astaga kamu benar, ternyata kesalahan Bunda di titik ini pantas dari tadi Bunda nggak nemuin jalan yang pas "


"sssst"


Senja memberikan kode kepada Radika agar keluar ruangan.


"Senja ke depan dulu ya Bunda"


"iya Bunda"


Radika dan Senja duduk di bangku di halaman depan rumah Senja.


"Dik"


"ya"


"gua mau minta tolong nih sama lu"


"tolong apa?"


"lu mau nggak bantu Bunda di perusahaan? hmmm gini-gini gua tahu lu pasti inget wasiat Ayah kan?"


Radika mengangguk


"dan gua mau lu melakukan itu, bentar maksud gua, lu jagain Bunda dan kantor aja nggak perlu gua, ngerti nggak sih maksud gua ah"

__ADS_1


"maksud lu gua harus jagain Bunda dan kantor tanpa harus menikahi lu"


"nah itu lu paham sukur deh"


"yakin lu nggak mau nikah sama gua?"


"eh lu ya bener-bener lu punya cewek bambang "


"ha ha ha kalau seandainya gua nggak punya cewek"


"au ah mikir dua kali dulu gua ha ha, ya udah sono pulang udah malem"


"kenapa lu baru tanya tentang hal ini sekarang Ja?"


"tentang wasiat Ayah?"


"iya"


"gua nggak mau ngebebanin lu dengan hal ini"


"terus sekarang?"


"gua terpaksa, kasihan Bunda, Bunda capek banget kelihatan dari mukanya aja udah jelas banget kalau sebenarnya Bunda nggak begitu bisa dan nggak begitu kuat ngerjain kerjaan Ayah "


"cuma itu alasannya?"


"ya lu mau alasan apa? lu mau gua alasan supaya bisa nikah sama lu? lu kan tahu gua nggak minta itu, yang gua mau cuma kesehatan Bunda sukur-sukur kalau lu bisa bikin perusahaan Ayah semakin maju"


Radika diam, ada sedikit perasaan kecewa dari jawaban Senja.


"ya udah gua balik dulu ya udah malem"


"gua nggak maksa lu Dik tapi yang gua tahu cuma lu yang bisa ngelakuin hal itu"


"tenang aja gua ngerti kok" Radika membelai pipi Senja dan mengelusnya


"boleh peluk?" Senja


"pake nanya lagi ha ha ha" Radika merentangkan kedua tangannya untuk Senja agar bisa memeluknya

__ADS_1


kangen banget sama kamu Dik, I love you my friend (Senja)


__ADS_2