Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
116


__ADS_3

"aku jemput ya"


"aku bawa mobil, aku akan ke sana sendiri"


Radika diam, kemudian melanjutkan pembicaraannya


"ya udah, aku akan bilang mama kalau kamu mau ke sana"


"hmm,"


"aku balik dulu ya"


"oke"


Radika pergi dari ruangan Senja, Radika melihat jam tangannya dan memutuskan kembali ke kantor. Radika telah di rekrut sebuah perusahaan dan di berikan posisi sebagai CEO. Bukan perusahaan utama, melainkan anak perusahaan. Radika juga tengah merintis perusahaannya sendiri saat ini. Di bantu oleh teman-teman Radika dan juga para kolega semasa dia menjadi CEO di perusahaan Senja.


Kepercayaan diri Radika telah bertambah lagi nanti setelah dia mampu mengembangkan dan memajukan perusahaannya sendiri dengan hasil keringatnya sendiri.


Hati Radika cukup senang karena Senja mengiyakan permintaannya untuk datang menemui Melinda.


......................


Rio tengah menemani istrinya di kamar mereka, Melinda tampak kurus dan lesu, Melinda benar-benar sakit, sudah hampir dua mingguan. Awalnya hanya demam biasa, namun setelah di periksa oleh dokter keluarga di ketahui bahwa Melinda terkena anemia.


Perasaan tidak tenang membuat Melinda sering tidak bisa tidur dengan tenang, bahkan sering begadang.


Ring...ring...ring....

__ADS_1


Ponsel Rio berdering, segera sang empunya mengangkat panggilan telepon itu yang ternyata dari anak bungsunya.


Rio menerima telepon keluar dari kamar Melinda karena Melinda tengah beristirahat


"dari siapa pah?" Melinda


"Radika mah"


"ada apa pah?"


"Senja akan kemari sepulang kerja mah"


"Senja? " raut wajah Melinda berubah sumringah mendengar satu nama yang di sebutkan oleh Rio kepadanya


"iya mah, Senja akan menemui mu "


"bantu aku bersiap pah"


"Senja suka masakan ku pah aku harus masak"


"enggak mah, nggak perlu biar bibik aja yang siapin makanan untuk Senja"


"nanti Senja nggak suka pah"


"suka, dia suka semuanya "


Rio berhasil memenangkan hati istrinya, kemudian memberi makan siang Melinda, lalu membantu Melinda meminum obatnya. Tak lama kemudian Melinda sudah terlelap akibat efek obat yang Melinda konsumsi.

__ADS_1


Rio duduk sendiri di ayunan yang ada di belakang rumah mereka. Rio melamun, tanpa sadar air matanya menetes. Rio benar-benar menyesal dengan apa yang pernah dia lakukan di belakang istrinya. Bukan tidak mungkin bahwa sakitnya istrinya kini adalah karena terlalu memikirkan Rio.


"papah" Rio menoleh ke sumber suara


"Abang?" ada raut wajah yang selalu di rindukan Rio. Ya anak sulungnya yang telah menguak rahasia antara dirinya dan Angel


"Abang? Abang pulang?" Rio berdiri di hadapan Rendra, Rendra mengangguk


"maafkan papa nak" Rio memeluk Rendra dengan tangisan di kedua matanya, Rendra membalas pelukan papanya, meskipun hatinya masih saja menyimpan perasaan sakit, tapi Rio tetaplah papanya.


"Rendra sudah memaafkan papa" akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Rendra. Rio sangat bahagia


"bagaimana keadaan mama pah?"


"itu semua salah papa nak hiks... hiks... hiks..." Rio kembali tersedu-sedu mengingat keadaan istrinya sekarang ini


"sudahlah pah itu semua tidak perlu di bahas, yang terpenting adalah bagaimana sekarang kita merawat mama dan membuat mama lebih baik"


"maaf nak, kamu benar"


"lalu sekarang apa rencana papa?"


"mama tidak mau di rawat di rumah sakit mana pun "


"lalu?"


"mama mu sangat ingin bertemu dengan Senja"

__ADS_1


"kenapa papa tidak membawa Senja kemari?"


"papa nggak berani, tapi Radika sudah bilang bahwa nanti Senja akan kemari menemui mama mu"


__ADS_2