
Cindy dan Senja sama-sama memulai kegiatannya masing-masing. Senja segera mandi dan Cindy segera ke dapur untuk masak. Senja secepat mungkin mandi, tidak berendam terlebih dahulu seperti biasanya. Sekitar setengah jam Senja berlari turun menemui ibunya.
Senja heran karena Cindy sudah duduk santai dengan segelas teh di tangannya.
"Bunda nggak jadi masak?" Senja
"jadi, udah siap semua kok, tuh" Cindy menunjuk ke meja makan dan melihat punggung seseorang tengah menata masakan di atas meja.
Senja mendekat menghampiri
"Radika?"
"hai" Radika menyapa sekenanya kemudian kembali menata masakan di atas meja.
"Bunda curang" Senja melihat ke arah ibunya
" nggak ada peraturan yang menyebut bahwa nggak boleh di bantuin, iya kan?"
iya juga sih (Senja)
__ADS_1
"terus siapa dong yang menang?" Senja duduk di meja makan
"Bunda lah"
"Senja kan juga nggak telat"
"kalau gitu dua-duanya menang" putus Radika
Cindy dan Senja saling beradu pandang kemudian mereka tersenyum.
"ayo makan, udah siap " Radika menyeret satu kursi untuk Cindy duduk. Mereka bertiga makan bersama malam ini. Tidak ada penolakan dari Senja, tapi Senja juga tidak terlalu merespon apa saja yang Radika lakukan.
Ibarat gelas kaca, ketika telah pecah, mungkin bisa di kembalikan lagi secara utuh, namun tidak akan pernah terlihat bercahaya seperti saat belum pecah. Begitu pula dengan hati seseorang yang sudah pernah di sakiti atau di khianati. Perasaan akan tetap ada tapi respect mungkin sedikit berkurang.
......................
Rendra baru saja menyelesaikan tugasnya di pengadilan, setelah itu Rendra sengaja mampir ke sebuah restoran untuk makan. Dia tidak makan dengan benar akhir-akhir ini. Rendra memesan steak dan dengan lahap menyantapnya.
"permisi kak" pramusaji itu menaruh sebuah gelas berisi kopi hitam dan sebuah catatan di bawahnya.
__ADS_1
"saya nggak pesan ini"
"ini dari Kakak yang disana" pramusaji itu menunjuk dengan jempolnya ke arah meja yang agak jauh dari meja Rendra.
Rendra melihat seorang gadis yang duduk membelakanginya. Rambutnya panjang dan bergelombang, warnanya pirang dengan mantel tebal di tubuhnya.
"terimakasih" pramusaji itu meninggalkan Rendra
Rendra kembali makan beberapa potong steak lagi sebelum dia berhenti dan menyadari keberadaan note di bawah cangkir kopi itu.
"hi my rival" isi dari note itu, Rendra kembali menoleh ke arah meja yang di tunjuk pramusaji tadi, tapi ternyata meja itu sudah kosong.
"rival? siapa?" (Rendra)
Rendra tidak lagi memikirkan hal barusan, Rendra menyimpan note itu di sakunya kemudian meninggalkan restoran cepat setelah menyelesaikan makannya.
Hari ini Rendra akan kembali ke rumahnya di kota lain. Penerbangannya beberapa jam lagi, Rendra tidak packing barang apapun, hanya membawa tas kecil berisi dokumen penting.
Sebelum terbang pulang, Rendra ke apartemennya untuk beristirahat barang satu atau dua jam. Agar badannya fit saat tiba di rumah orang tuanya nanti. Mobil masuk ke basemen apartemen Rendra, suasananya seperti biasa, sunyi dan sepi, di beberapa titik terlihat gelap karena tidak terpapar sinar matahari.
__ADS_1