Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
131


__ADS_3

Mendengar penuturan Melinda yang ternyata memang benar adanya, Senja menunduk.


mama yang di tipu selama itu oleh papa saja mampu memaafkan papa lalu kenapa aku tidak? (Senja)


"Senja akan coba menerima Radika kembali mah"


"sungguh nak?"


"iya mah"


Melinda memeluk Senja.


"kalian akan tinggal bersama mama atau Bunda kamu setelah kalian kembali bersama nanti, mama dan Bunda mu tidak akan membiarkan kalian mendapatkan masalah lagi kedepannya"


Senja tidak menjawab tapi tetap memeluk Melinda.


Baginya itu urusan nanti kalau memang dirinya dan Radika sudah kembali bersama.


Melinda dan Senja keluar dari kamar dengan senyuman Melinda yang menyenangkan hati kedua putranya.


"bahagia banget ada apa?" Radika merasa penasaran


"kepo" Melinda

__ADS_1


"yeh mama bisa-bisanya anaknya di bilang kepo"


"kan emang iya"


Melinda duduk bersama Senja


"terus Abang kapan menikah sama Edna?"


"menikah?" Edna dan Rendra sama-sama kaget mendengar pertanyaan Melinda


"kok kaget? bukannya kalian pacaran?" Senja


"astaga enggak Ja, Edna ini teman kuliah Abang di luar negeri "


"temen"


"yakin temen?" Senja masih saja menggoda Rendra


"kalau nggak percaya kamu tanya Edna deh, iya kan Na?"


"iya Senja aku dan Rendra hanya teman"


"nggak seru ah Abang"

__ADS_1


......................


Hari sudah gelap saat Senja keluar dari kantor tempat dia bertugas. Senja tidak sengaja melihat di parkiran ada dua orang yang dia kenal, yang laki-laki membukakan pintu mobil untuk si perempuan, dan si perempuan tersenyum menanggapi perlakuan sang laki-laki.


Senja tidak memanggil salah satu dari mereka, namun Senja malah mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan momen langka di depannya. beberapa foto sudah Senja ambil dan dirinya merasa puas.


"he he he awas aja gua habisin besok kalian berdua " (Senja)


senja memutuskan untuk pulang dan menyimpan kejutan untuk dua orang yang baru saja dia lihat di parkiran. hari ini Radika membiarkan Senja pulang pergi sendiri ke kantor karena Radika tengah menghadiri rapat penting dengan klien dari luar negeri.


ini adalah awal bagi Radika untuk memaju kembangkan bisnisnya agar semakin besar dan terkenal. Radhika sangat bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya agar dirinya bisa dengan bangga memperlihatkan kepada senja dan juga keluarganya bahwa dirinya mampu tanpa bantuan siapapun. sebelumnya Radhika sering di olok-olok teman sesama CEO secara halus bahwasanya Radika hanya bisa meneruskan usaha dari mertuanya (ayah Senja)


tapi kini Radika telah membuktikan bahwa dirinya benar-benar mampu berdiri sendiri di atas kedua kakinya tanpa berpegang pada perusahaan mertuanya ataupun perusahaan orang lain. perkataan para teman-teman CEO itu menjadikan Radika berambisi lebih kuat.


kini Radhika sudah merasa percaya diri jika ada yang berani mengejeknya lagi, dia telah berhasil mengembangkan bisnis yang dirintis dari nol dengan keringatnya sendiri. dengan begitu Radika juga merasa bahwa dirinya berguna dan mampu menggunakan kemampuannya sendiri.


Senja tiba di rumah hampir jam 10.00 malam, Cindy dengan setia menanti kedatangan Putri kesayangannya itu di ruang tamu sampai tertidur. senja melihat bundanya tertidur pulas di sofa membuat hatinya merasa kasihan, jika saja ayahnya masih ada, mungkin saat ini bundanya akan tidak kesepian setiap hari. Cindy terbangun saat sebuah tangan yang dingin membelai pipinya.


"udah pulang kamu sayang? "


"udah Bunda, Bunda kenapa tidur di sini? "


"Bunda nungguin kamu, takut kamu kalau pulang dari kantor lapar nggak ada yang masakin jadi bunda di sini menunggu kamu pulang "

__ADS_1


__ADS_2