Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
Part 30


__ADS_3

"menikah dengan Senja?"


Radika mengangguk


"kamu gila? lalu kamu anggap aku apa Radika?"


"aku nggak mau sayang kamu tenang dulu"


"enggak ini nggak beres, kenapa mendadak seperti ini?"


"begini sayang kamu dengerin aku dulu jangan keburu emosi dulu, Ayah Senja sebelum beliau meninggal beliau sempat memberi wasiat ke aku suruh jagain Senja, Bunda dan kantornya"


"kantornya?"


"iya"


"maksud kamu perusahaan Bu Cindy?"


"kok kamu kenal Bunda?"


"iya ternyata aku kerja di perusahaan ibunya Senja"


"kok kamu nggak pernah cerita?"


"aku juga nggak tahu kalau Senja anaknya Bu Cindy, jadi maksud kamu kalau kamu menikah dengan Senja kamu yang akan mengelola perusahaan itu?"


"iya"


"yang artinya kamu akan jadi CEO di perusahaan itu?"


"kayaknya sih gitu"


wait wait kalau Senja dan Radika menikah otomatis Radika akan menjadi CEO dan aku tentunya juga akan merasakan imbasnya, menjadi pacar CEO hmmmm sepertinya menarik (Angel)


"sayang"

__ADS_1


"hmm"


"kamu boleh kok menikah dengan Senja tapi dengan syarat kamu hanya akan menikah pura-pura"


"pura-pura gimana?"


"kalian nikah kontrak gimana?"


"kamu ada-ada aja enggak "


"ih sayang masa kamu tega sih liat aku tiap hari di bully di kantor sama senior-senior aku? kalau aku punya kamu di kantor kan kamu bisa melindungi aku, iya kan"


"nggak segampang itu Ngel, kamu ngaco ah"


"berarti kamu udah nggak sayang aku ya, biar saja aku di bully kemudian disiksa lalu aku mati di tangan mereka"


"kok gitu sih ngomongnya"


"kamu yang bikin ini terjadi, kamu bisa memilih kok, kamu bisa nolak dan melihat aku selalu di bully atau menikahi Senja dan aku akan baik-baik saja "


Hari ini Bunda sudah keluar dari rumah sakit, keadaannya sudah mulai membaik sejak Radika memutuskan mengambil alih perusahaan sang mendiang suaminya.


"bik Ijah...."


"iya Nya"


"tolong BI Ijah siapkan kue yang sudah saya beli, BI Ijah tata di piring-piring ya nanti mau ada tamu"


"iya Nya"


"sama jangan lupa BI Ijah masak yang spesial dan porsi yang lebih ya soalnya tamu kita nanti juga makan siang di sini"


"siap nyonya"


BI Ijah segera mempersiapkan segalanya, tidak butuh waktu lama karena bi Ijah di bantu keponakannya dan juga semua bahan makanan sudah tersedia di dalam kulkas.

__ADS_1


Jam makan siang telah tiba, satu mobil Alphard merapat di halaman rumah Senja.


Rombongan keluarga Radika telah hadir, tanpa Rendra tentunya, karena Rendra tengah menjalankan pekerjaannya sebagai hakim di luar kota.


Cindy menyambut dengan penuh suka cita sendirian, Senja yang tidak tahu menahu tentang hal ini malah sedang tidur siang di kamarnya.


Berbagai hidangan kue dan macam-macam dessert tersedia di atas meja.


"mbak Cindy jangan repot-repot, mbak Cindy baru saja keluar rumah sakit kenapa repot menyiapkan ini semua untuk kami?" Melinda


"anggap saja ini adalah bentuk rasa terimakasih ku kepada Radika, karena anak laki-lakimu ini aku bisa bernafas lega sekarang" Cindy


"Senja mana mbak?" Rio


"ada di atas, Radika kamu bisa panggil Senja?"


"boleh Bunda" Radika tanpa canggung lagi menaiki tangga seperti biasanya


tok...tok...tok...


"Ja...Ja..."


"apa Dik?"


"gua masuk yak"


"hmm"


Senja menutup tubuhnya dengan selimut, matanya masih terpejam saat menyahut seruan Radika.


"kok lu tidur? Ja bangun "


"apa sih Dik ah lu ganggu gua mulu, dua malem gua nggak bisa tidur dengan tenang di rumah sakit"


"di bawah ada mama sama papa, mereka membicarakan pernikahan kita"

__ADS_1


__ADS_2