
Rendra benar-benar merasa sangat kasihan terhadap Senja, semua yang Senja bicarakan memang benar adanya, selama ini Senja memang tidak pernah menuntut apapun dari Radika, tapi sekarang adalah titik dimana Senja benar-benar merasa lelah.
Rendra melihat Senja tertidur di sofa meringkuk seperti bayi.
aku terlalu memaksakan kehendak ku untuk membuat Senja mempertahankan pernikahannya tanpa aku sadari jiwanya tersakiti sebegitu dalamnya (Rendra)
Rendra menelepon seseorang untuk memerintahkan sesuatu kepada orang itu. Setelah beberapa saat Rendra menyudahi kegiatannya. Dia keluar dari apartemennya untuk membeli makanan yang banyak agar Senja bisa memilih apa yang dia ingin makan.
Setelah hampir satu jam Rendra kembali dan melihat Senja duduk di kursi menghadap ke jendela, menyelimuti kakinya dan tentunya melamun.
"hai, udah bangun aja? Abang beli banyak makanan"
Senja tidak bersuara namun memperhatikan Rendra.
Rendra menaruh semua makanannya di meja yang ada di samping Senja.
"kamu mau yang mana? ini semua Abang beli untuk kamu"
"aku nggak mau apa-apa"
Rendra tak mengindahkan perkataan Senja, Rendra ke dapur untuk mengambil beberapa piring.
"cinta dan benci itu bedanya sangat tipis ya bang, sama seperti berani dan bodoh. Seperti aku saat ini, aku berani mencintai Radika tapi mungkin di mata orang lain aku bodoh karena mau bertahan dengan orang yang jelas-jelas tidak menginginkan aku"
"cukup Senja, Abang nggak mau denger apapun lagi tentang hal ini. Sekarang kamu makan dulu setelah makan Abang akan menyelesaikan urusan ini"
Senja memandang ke arah mata Rendra.
"jangan lihat Abang kayak gitu, sekarang kamu makan dulu"
__ADS_1
"aku nggak laper bang"
Senja kembali ke posisi awalnya tadi, duduk kemudian menaikkan kakinya ke kursi dan meringkuk.
Rendra frustasi mengacak-ngacak rambutnya
apa yang harus aku lakukan? kalau Senja tidak makan dia akan sakit (Rendra)
Rendra melihat ponsel Senja tergelak di atas meja, ponsel itu berdering dan terlihat nama "Mega" di sana.
Rendra mengambil ponsel Senja dan mengangkat telponnya.
"halo Mega"
"loh siapa ini? Radika?"
"oh Rendra, di mana Senja? kenapa kamu yang mengangkat telponnya?"
"kamu bisa datang ke apartemen saya?"
"ada apa? "
"saya akan memberitahu kamu nanti, paling penting kamu kesini dulu sekarang"
"iya-iya kamu kirim alamat kamu"
"baik"
......................
__ADS_1
"aunty harus makan ya biar aunty nggak sakit" Kenzo dengan mulutnya yang penuh makanan mencoba menasehati Senja, Senja merasa sangat terobati dengan adanya Kenzo di sini
"untung tadi kamu bawa Kenzo " Rendra berbisik di telinga Mega, membuat Mega bergidik sendiri
"iya soalnya yang bisa membuat Senja tersenyum bukanlah nasehat kita yang sama-sama sudah tahu bahwa ini nggak baik-baik saja, setidaknya Kenzo itu polos dan Senja juga sangat menyukai anak-anak"
"terimakasih ya Meg"
"Senja adalah sahabat ku sudah kewajiban ku menemani dia di saat seperti ini"
"saya ingin berbicara dengan kamu, bisa kita tinggalkan mereka dulu?"
"baiklah "
Rendra dan Mega duduk di ruang tamu, Rendra menceritakan kejadian sebenarnya kepada Mega.
"sampai se rumit itu? kalian bertiga berhubungan dengan satu wanita?"
"enggak-enggak saya nggak berhubungan, hanya Radika dan papa saya"
"terus orang tua kalian sekarang gimana?"
"mama belum tahu soal ini"
"terus langkah selanjutnya?"
"saya juga masih bingung, apa saya harus bilang mama atau tidak"
"cepat atau lambat mama kamu juga pasti tahu"
__ADS_1