
Senja tertawa geli melihat kelakuan Miko.
"lalu apa yang membuat mu selalu menangis setiap kali aku melihat mu?"
"tidak penting"
"baiklah aku tahu kamu belum nyaman menceritakan ini kepadaku tapi aku berharap selanjutnya kita akan menjadi teman?" Miko mengulurkan tangannya
"ok lah aku akan coba"
"oh iya aku tidak akan mundur mengejar mu walaupun kamu sudah bertunangan. Yang menikah saja bisa bercerai apalagi yang masih tunangan, tidak sulit itu buatku "
"ha ha ha terserah kamu lah, kayaknya udah sore banget ini aku balik ya?"
"aku antar sampai rumah dengan selamat dan sesuai aplikasi ya kak?"
......................
"gapapa bang"
"tapi kan lu punya cewek? terus gimana sama cewek lu?"
"gapapa dia bisa terima "
gua ngerasa ada yang nggak beres disini, Radika dengan mudahnya menerima perjodohan ini tanpa memberontak, sama sekali bukan karakter Radika. Aku kenal adiku dengan baik, aku akan cari alasannya (Rendra)
Di tempat lain Senja sedang mengutuk dirinya sendiri atas kebodohannya. Bukan tanpa alasan tapi semua itu memang tak luput dari permasalahan yang tengah di hadapi saat ini.
aku menipu Ayah, Bunda, mama dan papa. Maafkan aku Ayah aku lakukan ini demi Bunda . Ayah pasti mengerti perasaan ku sekarang ini (Senja)
__ADS_1
tok....tok...tok....
"non....non.... ada Aden di bawah "
"siapa bik?"
"Aden Radika"
Radika?
"bilang aku sudah tidur bik" Senja melirik jam weker nya yang menunjukkan jam sembilan malam
"iya non"
tumben si Enon nggak mau ketemu den Radika? apa mereka berantem atau bagaimana ya? (BI Ijah)
Bik Ijah turun dan memberi tahu kepada Radika apa yang di perintahkan oleh Senja
"enggak den...." BI Ijah sambil menutup mulutnya
"bik tahu nggak sih kalau orang boong itu bikin pikun"
"yang bener Aden? bibik nggak mau boong , si Enon ada di kamar dia nggak tidur kok" kata si BI Ijah keceplosan dan langsung menutup mulutnya.
Tanpa lama-lama Radika naik menuju kamar Senja.
ceklek
Kamar Senja tidak di kunci, Senja menoleh melihat siapa yang masuk ke kamarnya
__ADS_1
"lu ngapain sih?" Senja saat ini benar-benar malas bertemu Radika.
"lu tadi di mall pergi gitu aja, pulang naik apa lu?"
"taksi"
"udah makan? keluar yuk beli makan"
"enggak, gua udah kenyang"
"atau lu mau apa? biar gua aja yang beli "
"gua nggak mau apa-apa gua ngantuk, sana lu pulang"
"Ja gua tidur sini ya"
"nggak"
"kenapa? bentar lagi kita nikah kan?"
"terus? lu lupa pernikahan ini cuma nikah kontrak dan gua nggak mau rugi dengan tanpa sengaja mengandung anak lu"
"kalau lu hamil gua nggak akan cerein lu"
"nggak ada. Pulang sana"
Saat ini Senja benar-benar galak dan emosional, tidak ada kata manis yang keluar dari mulutnya, Senja yang biasanya pintar memanipulasi perasaannya di depan orang lain kali ini sangat berbeda dan sangat tidak terkontrol.
Sebenarnya dalam hati Radika ada sedikit perasaan takut melihat Senja yang tidak seperti Senja yang biasanya. Semarah apapun Senja mentok dia akan menangis tapi sekarang ini bahkan tidak ada air mata yang hanya kata-kata kasar.
__ADS_1
Radika benar-benar melihat sisi lain Senja yang selama ini tidak pernah dilihatnya.
Senja benar-benar marah, sebenarnya apa yang membuat dia semarah itu? (Radika)