
Radika kembali ke rumah Bunda dengan perasaan yang berbunga-bunga, dia tengah membayangkan liburan bersama Angel di Bali.
Radika menghampiri Senja di meja makan
"boleh ngobrol?" Radika berbisik kepada Senja dari belakang
"astaga ngagetin aja lu"
"he he he, ke kamar yuk ngobrol bentar"
"nanti aja nggak bisa? ini udah jam makan malam loh"
"hmmm oke deh"
"gua panggil Bunda dulu"
__ADS_1
"gua aja yang panggil Bunda, lu duduk tenang aja di sini"
"ok"
Senja duduk dan mulai menaruh nasi di setiap piring, Radika mengetuk pintu kamar Bunda
"makan yuk Bun"
"iya nak sebentar "
Beberapa saat kemudian Bunda keluar dengan raut wajah yang selalu terlihat sendu, ada bekas air mata di kedua pipi Bunda.
"gapapa Dik, ayo kita makan bareng-bareng "
"Bunda... Dulu mungkin Bunda hanyalah Bundanya Senja tapi sekarang Bunda juga adalah Bunda ku, Bunda sama seperti mama, kalau Bunda sedih aku sebagai anak akan merasa gagal karena tidak bisa mengahdirkan senyuman di wajah Bunda, Bunda bisa cerita apapun ke aku, anggap aku ini bukan menantu Bunda tapi anak Bunda"
__ADS_1
"dari sebelum kamu menikah dengan Senja kamu memang sudah menjadi anak Bunda, Bunda bukan sedih hanya saja Bunda merasa sayang karena kebahagiaan yang hadir di antara kita ini terasa kurang tanpa Ayah di tengah-tengah kita, tapi Bunda bersyukur karena kamu disini menemani Bunda dan Senja "
"itu sudah menjadi kewajiban Radika Bunda, kebahagiaan Bunda dan Senja adalah prioritas Radika"
POV Senja
Senja tengah mengambilkan nasi untuk di taruh di piring-piring yang akan mereka makan malam ini.
"loh kok bawang goreng gua nggak ada wah pasti si bibik lupa nih, aku ambil dulu deh" Senja menuju dapur dimana bawang goreng tersimpan rapi di dalam rak, sebelum sampai di dapur Senja melewati kamar sang Bunda, terlihat suami dan ibunya tengah mengobrol di depan pintu, Bunda terlihat habis menangis, karena penasaran Senja sedikit lebih mendekat agar terdengar apa yang tengah mereka berdua bicarakan.
"Bunda... Dulu mungkin Bunda hanyalah Bundanya Senja tapi sekarang Bunda juga adalah Bunda ku, Bunda sama seperti mama, kalau Bunda sedih aku sebagai anak akan merasa gagal karena tidak bisa mengahdirkan senyuman di wajah Bunda, Bunda bisa cerita apapun ke aku, anggap aku ini bukan menantu Bunda tapi anak Bunda"
ada guratan senyuman menyungging di ujung bibir Senja.
"dari sebelum kamu menikah dengan Senja kamu memang sudah menjadi anak Bunda, Bunda bukan sedih hanya saja Bunda merasa sayang karena kebahagiaan yang hadir di antara kita ini terasa kurang tanpa Ayah di tengah-tengah kita, tapi Bunda bersyukur karena kamu disini menemani Bunda dan Senja "
__ADS_1
"itu sudah menjadi kewajiban Radika Bunda, kebahagiaan Bunda dan Senja adalah prioritas Radika"
benarkah itu Radika? kebahagiaan ku dan Bunda adalah prioritas kamu? ah senangnya jika pernikahan ini real pernikahan sungguhan dan tidak ada perjanjian apapun di dalamnya, kamu dan aku akan menjadi pasangan yang sempurna, menghadirkan anak-anak yang lucu dan menggemaskan agar bisa menemani Bunda, mama, juga papa di masa tua mereka. Dan aku akan fokus dengan karirku tanpa harus memikirkan untuk mengambil alih lagi perusahaan Ayah, yang itu tentunya akan membuat aku harus belajar lagi dan berpikir lagi (Senja)