
Sekitar lima belas menit Senja menghampiri Radika menepuk-nepuk kedua pipi suaminya.
"Dik... Dik bangun Dik"
Radika terbangun
"kamu mandi dulu terus tidur" Senja menaruh handuk di tepi bathtub, kemudian pergi dari kamar mandi
Senja duduk di tepi ranjang, memikirkan apa yang baru saja terjadi kepada suaminya
Angel memberi Radika obat perangsang? apakah mereka benar-benar sudah sejauh itu? astaga.... ini keterlaluan (Senja)
Radika keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk, kemudian memakai baju yang sudah Senja siapkan di atas kasur, Radika tak henti-hentinya menatap Senja yang hanya diam.
"udah? sekarang kamu tidur udah hampir pagi ini" Senja lebih dulu masuk ke selimut kemudian disusul Radika, Radika menghadap ke arah Senja tapi tidak dengan Senja.
kok gua ngerasa bersalah ya sama Senja? (Radika)
Radika memeluk perut Senja dan membenamkan wajahnya di leher Senja.
"sorry" kata Radika lirih hampir Senja tidak mendengarnya
"it's okay"
Radika tidak melepas pelukannya sampai pagi menyapa.
Semalam Senja lupa menutup pintu kamar dan itu terjadi sampai pagi hari, Rendra yang tengah melintas di depan kamar adiknya berhenti berjalan dan melihat pemandangan di dalam kamar adiknya. Senja tidur terlentang bersama Radika yang memeluknya
mereka baik-baik saja? (Rendra)
"hayo ngapain ?" Rio menepuk bahu anak sulungnya itu karena ketahuan melihat ke dalam kamar adiknya
"papa ngagetin aja"
"mangkanya Abang cepetan nikah biar bisa tidur pelukan kayak adikmu itu"
__ADS_1
"nanti pah kalau ketemu yang pas"
"okelah okelah tapi mau papa kenalin sama anaknya temen papa?"
"papa jangan mulai lagi"
"ops sorry, ha ha udah-udah ayo ke bawah nanti mamamu ngomel-ngomel, biarin mereka berdua dulu nanti kalau udah waktunya sarapan biar si bibik yang bangunin "
Rendra mengangguk kemudian membuntuti Rio untuk turun menemui Melinda di ruang keluarga.
......................
"bye..."
"jaga kesehatan ya sayang" Melinda
"tungguin gua sama Senja ke Bali ya Bang nanti kita ketemu di sana "
"ok lah" Rendra dan Radika berpelukan tanda perpisahan
Rendra melepas pelukannya kemudian meninggalkan semua orang, semua orang kembali dengan mobil masing-masing.
"Ja"
"hmmm"
"lu cerita Bang Rendra kalau semalem gua..."
"lu kira yang masukin lu ke bathtub gua? ya Bang Rendra lah"
"pantesan"
"pantesan apa?"
"enggak-enggak"
__ADS_1
Senja memainkan ponselnya sepanjang perjalanan tanpa menghiraukan Radika di sampingnya
"lu main hp mulu, chatting sama siapa?"
"kepo lu "
"gua kan suami lu Ja"
"suami di atas kertas"
Jlep !
Ada perasaan sakit hati mendengar Senja berkata demikian, tapi memang benar adanya mereka hanyalah suami istri pura-pura yang kapan saja bisa berpisah.
Radika menenangkan dirinya agar tidak terlihat oleh Senja tentang perasaannya.
"kita makan siang dulu ya udah laper gua"
"terserah "
Radika menghadap ke arah Senja ternyata Senja masih memainkan ponselnya, Radika dengan gerakan jurus seribu mengambil ponsel itu dari tangan Senja.
"lu apaan sih sini hp gua"
"kagak lu serius main hp mulu nggak sopan lu"
"bodo amat"
Senja mencoba merebut ponselnya dari tangan Radika samai mobil berjalan meliuk-liuk.
"Ja Ja bahaya nih gua lagi nyetir"
"mangkanya sini hp gua"
"nanti"
__ADS_1
Radika menyimpan di sakunya