Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
129


__ADS_3

Rendra mengajak Edna masuk apartemennya sebentar untuk sekedar minum teh atau kopi. mereka terlalu lama tidak bertemu, Rendra lupa membawa masuk koper Edna ke dalam apartemen miliknya.


"teh atau kopi?" tawar Rendra


"ada wine?"


"wine? oke ada"


Rendra mengeluarkan wine dari lemari pendingin kemudian mendekat kembali ke Edna dengan dua gelas di tangannya.


"kenapa wine? ini masih sangat sore untuk mabuk"


"tidak-tidak bukan untuk mabuk, aku hanya rindu rasa wine, sudah lama aku tidak minum"


"benarkah?"


"iya"


"apa rencana mu selanjutnya "


"apakah aku harus memberitahukan rencana ku kepada musuhku sendiri? bukankah itu aneh?"


"terserah padamu lah, malam ini aku akan terbang ke kota S, aku akan mengunjungi keluargaku "


"kenapa kamu begitu tega membiarkan aku sendiri di hari pertama ku di Indonesia?"


"aku merindukan mereka"


"oke kalau begitu aku ikut"

__ADS_1


"ikut?"


"ya, aku ikut"


"hmm....not bad lah"


Mereka memesan tiket pesawat untuk Edna, setelah itu mereka berdua menghabiskan waktu dengan menceritakan banyak hal tentang kehidupan mereka satu sama lain.


*******


"ada apa ?" Senja turun dari kamarnya dan melihat Radika sudah bersama dengan Cindy di ruang tamu


"Radika jemput kamu"


"jemput mau ke mana?"


"aku nggak bisa" Senja berjalan naik kembali ke kamarnya


"Senja... kok kamu nggak sopan?" Cindy


Senja berhenti


Cindy menghampiri Senja


"sekarang kamu siap-siap ya"


"enggak Bunda, Senja nggak mau, Senja dan Radika sudah berpisah, semua orang tahu itu, lalu jika kami masih bersama kemana-mana apa artinya kata perpisahan itu? Bunda please untuk kali ini biarkan Senja mengatur hidup Senja " Senja mengatupkan kedua tangannya di depan Cindy


"oke, maaf Bunda nggak akan mengatur kamu lagi"

__ADS_1


"astaga no Bunda nggak gitu, kenapa serba salah sih jadinya"


Cindy turun kemudian masuk ke kamarnya


"Bunda please listen to me, Senja nggak bermaksud kayak gitu, Bunda"


Cindy tidak menghiraukan perkataan Senja di depan pintu kamarnya.


"oke Bunda oke, Senja akan pergi dengan Radika" Senja segera naik lagi ke kamarnya untuk bersiap.


Saat sudah tidak terdengar ribut-ribut dari Senja, Cindy diam-diam keluar menemui Radika, mereka berdua tos untuk persetujuan yang Senja putuskan.


"makasih ya Bunda"


"sama-sama nak, Bunda juga ingin kamu dan Senja kembali bersama, ya sudah kamu tunggu di sini, Bunda akan masuk lagi ke kamar"


"iya Bunda "


Tidak lama setelah itu Senja turun lengkap dengan riasan dan juga penampilan yang cantik.


"Bunda Senja sama Radika berangkat dulu ya, Bunda nggak mau keluar?"


"ya sudah kamu berangkat aja"


Senja tidak enak hati, tapi dia menuruti perkataan ibu ya untuk segera berangkat bersama Radika ke rumahnya. Di perjalanan Senja benar-benar tidak mengeluarkan satu patah kata pun, dia kesal dengan Radika, tapi dia juga tidak tenang jika ibunya marah kepadanya. Radika juga merasa bersalah telah menjebak Senja dalam permainannya dengan ibu mertua dan mama kandungnya.


maafkan aku menempatkan mu pada posisi sekarang ini, aku benar-benar harus memaksamu selalu dekat denganku, kalau tidak maka akan ada orang lain yang akan mendekati mu (Radika)


Mobil masuk ke pekarangan rumah Radika. Senja sudah melihat Melinda di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2