
Semua orang makan bersama di meja makan minimalis apartemen Senja, tawa terdengar di mana-mana, Radika berinisiatif untuk menghubungi sang mama via video call.
"hai mah... "
"hai sayang... loh kok rame banget di sana?"
"iya mah, Abang sama Bunda disini"
"aaaa mama di tinggalin, Abang... Abang kenapa bisa di situ? kok nggak pulang ke rumah?"
"mama kesini juga " Senja
"ok ok mama kesana"
beep
Sambungan telepon terputus oleh sang mama di seberang sana
"lah di matiin?" Radika
"mama kamu pasti kesini" Cindy
Mereka semua menikmati makanan yang sudah tersedia di meja. Mereka bercanda ria. Rendra mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
"sini deh Ja"
"ada apa Bang?"
Senja duduk di samping Rendra, Rendra menyerahkan satu kotak perhiasan kecil berwarna hitam.
"buat kamu"
"buat aku Bang?"
"iya, anggap saja itu adalah hadiah perkawinan kalian, Abang waktu itu belum sempat kasih kamu apa-apa"
"makasih ya Bang, harusnya nggak perlu seperti ini juga bang"
__ADS_1
Senja membuka kotak kecil itu dan isinya adalah cincin transparan di tengahnya dan tepiannya berwarna silver, di bagian transparan terdapat berlian yang berjejer rapi di dalamnya
"Abang bukannya ini terlalu mewah?"
"enggak untuk adik ku yang manis dan paling Abang sayang"
"makasih Abang" Senja memeluk Radika yang jauh lebih besar dari dia.
Ting...tung...
"biar Abang yang buka pintu"
Rendra membuka pintu, seketika menghambur lah Melinda dengan begitu banyak paper bag di kedua tangannya.
"hai semua... mama disini"
"mama pasti heboh" Rendra
"hai ma, apa kabar?" Senja mencium mama mertuanya
"hai sayang mama baik, kamu gimana? mana Bunda kamu?"
"sama papa tapi papa masih di bawah lama jalannya "
"hai mah"
"Abang? kenapa Abang nggak pulang ke rumah?"
"Abang kesepian mah di rumah, disini kan rame ada Radika sama Senja
Padahal alasan sebenarnya Rendra tidak pulang ke rumah adalah karena Rendra sangat malas bertemu dengan Rio.
"adikmu mana?"
"di dapur bantuin Bunda cuci piring"
"mama ke dapur dulu ya "
__ADS_1
"iya mah"
"mbak Cindy "
"eh kamu udah nyampe aja" Cindy ber cipika-cipiki dengan Melinda
"hai mah, gimana kabarnya?"
Radika menyapa mamanya kemudian mencium mamanya juga.
"baik sayang, kalian tadi makan apa? bisa-bisanya mama di tinggal"
"nggak ada rencana sama sekali, nggak sengaja tadi masak banyak di rumah kok ke ingat sama anak-anak jadilah kesini, kamu udah makan Mel?"
"belum mbak"
"makan gih, aku bawa masakan bener-bener banyak kok"
"iya mbak nanti sama papanya anak-anak "
"kamu sama Rio juga? mana dia?"
"masih di bawah kali mbak jalannya lama hi hi, udah kelar belum mbak biar aku bantuin?"
"udah selesai mah" Radika mencuci tangannya kemudian mengelapnya agar kering.
"ya sudah ayo kita ke depan kita kumpul-kumpul sambil makan kue sama ngobrol "
Melinda bergandengan dengan Cindy ke ruang TV yang sudah Senja dorong kursinya ke pinggir-pinggir agar bisa di beri alas duduk biar lebih luas .
"ayo-ayo sini kita ngumpul bareng ya"
"Abang bantu mama keluarin makanan dari paper bag ya "
"iya mah"
"aku ambil piring dulu" Senja ke dapur lagi mengambil beberapa piring dan gelas untuk semua orang.
__ADS_1
Semua orang sudah duduk bersama di lantai beralaskan karpet bulu yang nyaman.
"papa kok lama mah?" Senja