
Mereka lebih banyak diam sepanjang perjalanan, Dan itu membuat semuanya terasa sangat lama.
"hmmm Ja kita jajan dulu ya" Sebelum mendengar persetujuan dari Senja, mobil sudah memasuki area street food dimana pada jam yang sudah hampir larut ini masih sangat ramai pengunjung.
Radika turun kemudian membukakan pintu mobil untuk Senja.
Mereka berjalan beriringan di sepanjang jalan, Radika berhenti di sebuah kedai jajanan tahu bulat favorit Senja.
Senja tersenyum melihat Radika yang masih peduli dan mengingat makanan kesukaannya
Radika membawa dua kantong plastik tahu bulat lengkap dengan bumbu bubuknya.
"makasih..."
"kesana yuk" Radika menunjuk sebuah kursi
Tapi bukan Radika namanya kalau jajan hanya satu macam, Radika membeli telur gulung, terang bulan, dan juga jus buah. Setelah terasa sudah cukup Radika mengajak Senja duduk dan menikmati jajanan yang mereka beli eh bukan tepatnya yang Radika beli.
"segini banyak yang mau makan siapa?" Senja
"kita lah"
"gua udah kenyang"
"kagak ada kenyang kita nggak akan pulang sebelum makanan ini habis"
Senja tidak menjawab dan hanya menikmati tahu bulatnya.
__ADS_1
"enak nggak Ja belajar di Aussie?"
"enak"
"lu nggak kangen Indonesia?"
"kangen lah kalau nggak gua bakalan menetap aja di sana, lagian di sana juga udah ada senior gua yang ngajakin join kerjaan sama gua. itu kalau gua mau"
"apa yang bikin lu pengen banget pulang?"
"Bunda pastinya"
"gua?" mereka terdiam
"kagak lah ha ha ha"
"kangen lah gila lu nggak kangen lu kan yang selalu membuat hari-hari gua rame ha ha"
"ciyeee GR nih gua"
"gak jelas lu ha ha ha" Suasana akhirnya mencair seperti sedia kala.
......................
Senja tertidur di dalam mobil saat perjalanan pulang karena saking kenyang nya, Radika yang mengamati Senja sesekali di sela-sela konsentrasinya menyetir bahkan senyum-senyum sendiri.
Senja sahabatku yang terbaik, terimakasih sudah hadir di hidupku dan mewarnai kehidupan ku (Radika)
__ADS_1
Di tengah jalan hujan mulai turun, lumayan deras tapi Radika tetap meneruskan laju kendaraannya sampai akhirnya sampailah di rumah Senja.
Radika enggan membangunkan Senja karena saking pulas nya Senja tertidur. Radika memandang ke wajah Senja yang cantik dan terkena cahaya lampu di dalam mobil.
Radika mendekati Senja semakin dekat lagi dan lagi, tanpa terasa jarak wajah mereka hanya beberapa inci bahkan Radika bisa merasakan hembusan nafas Senja dari jarak se dekat ini.
cup
Satu kecupan ringan mendarat di bibir Senja yang tipis, Senja tidak bereaksi karena Senja sedang tertidur.
tok...tok...
Radika terperanjat kaget melihat seseorang mengetuk kaca mobil. Senja menggeliat mulai mengumpulkan kesadarannya.
Seseorang dengan payung di tangannya menunggu di luar mobil, Senja membuka pintu kemudian berlari bersama bik Ijah yang menjemput Senja dengan payung.
Bik Ijah kembali mendekati mobil dan mengajak Radika untuk masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
Bik Ijah sudah selalu tinggal di rumah karena Bunda tidak ada yang menemani, jadilah bik Ijah beserta anaknya Indah yang berusia 12 tahun tinggal bersama Senja dan Bunda.
"gua ganti baju dulu" Senja naik ke lantai atas ke kamarnya meninggalkan Radika sendiri di bawah
uhuk...uhuk...uhuk...
Radika celingukan mendengar suara batuk seorang wanita, Radika mendekati ruang kerja yang pintunya terbuka, Radika mengintip dari luar ternyata Cindy yang berada di dalam sana tengah menghadap laptopnya dengan mata yang lelah.
astaga Bunda? kasihan sekali Bunda, aku jadi merasa bersalah telah mengabaikan wasiat Ayah (Radika)
__ADS_1