Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
149


__ADS_3

"mau tidur sekarang?" Radika mendongak ke atas melihat wajah Senja


"hmmm apa kita harus langsung tidur bersama?" Senja akhirnya menanyakan hal yang sedari tadi di bingung kan


"kamu nggak mau sekamar sama aku lagi?" Radika kini bangun dari tidurnya di pangkuan Senja, kini Radika duduk di samping Senja, persis menghadap ke arah Senja


"ya nggak gitu, kita udah lama nggak sekamar, maksudnya aku kayak udah biasa sendiri gitu"


"ya udah gapapa, aku tidur di sini aja, lagian kamar tamu juga sudah penuh kan"


"tidur disini?"


"ya mau gimana lagi, katanya kamu nggak mau sekamar sama aku"


"ya nggak gitu maksudnya, hmm gini deh kita sekamar tapi kita tidurnya pisah gimana?"


"terserah kamu aja senyaman nya kamu aja" Radika menyelipkan rambut Senja ke belakang telinga.


"ya udah ayo ke kamar udah malam banget" mereka berdua bergandengan tangan masuk ke kamar Senja. Senja menata sofa besar yang ada di kamarnya untuk tempat tidur salah satu dari mereka. Senja menaruh selimut, bantal dan juga guling di sana. Sofa di kamar Senja cukup besar dari pada sofa pada umumnya. Senja ke kamar mandi membersihkan dirinya dan mengganti bajunya dengan piyama, Senja juga mengambilkan piyama Radika untuk Radika pakai malam ini.


Senja sudah bersiap di sofa untuk tidur.

__ADS_1


"Ja kenapa kamu di sofa? aku aja" Radika yang baru keluar dari kamar mandi mendapati Senja sudah berbaring dengan memeluk bantal kesayangan nya.


"gapapa kamu aja yang di ranjang" Senja tetap tidak bergeming, tanpa aba-aba Radika langsung mengangkat tubuh Senja beserta selimut yang menutupi dirinya ke arah ranjang, setelah itu Radika menjatuhkan Senja di atas ranjang.


"eh kenapa? gapapa kamu aja yang di ranjang aku di sofa aja"


"udah tidur" Radika mencium sekilas kening Senja, membuat Senja terdiam dan menurut. Senja melempar selimut ke Radika untuk di pakai. Radika sudah berbaring di sofa. mereka berdua diam tapi belum terlelap.


"Ja"


"hmm"


"iya"


"tapi kenapa sekarang rasanya kita berjarak ya Ja?"


"bukan jarak, hanya sebuah sungai kecil, jika kamu bisa melewatinya kita akan bertemu dan bersama lagi"


"lalu bagaimana aku melewatinya?"


"buatlah titian di sana, agar bisa menggapai ku"

__ADS_1


"Titian?" Radika bangun menopang kepalanya dengan tangan, mulai penasaran dengan bahasan Senja


"iya titian, agar kamu bisa dengan mudah melewati sungai itu"


"titian dari apa?"


"dari kepercayaan dan juga kesetiaan "


"baiklah aku akan membangunnya dengan kokoh setelah aku melewatinya aku akan menghancurkan nya"


"kenapa ?"


"karena aku tidak ingin ada Titian lagi di antara kita, agar aku tidak bisa menyeberang lagi dari sisimu dan tetap bersamamu "


Senja tersenyum


"baiklah, lakukan semuanya, aku menunggu"


Mereka berdua akhirnya tidur dengan perasaan nyaman satu sama lain, Senja memanglah sumber kebahagiaan Radika. Baru malam ini setelah kejadian Senja meninggalkan Radika, Radika dapat merasakan tidur dengan tenang dan dalam perasaan yang positif.


Mereka berdua sejatinya sama-sama saling mencintai dan membutuhkan, berjauhan beberapa waktu membuat mereka sadar akan pentingnya kehadiran satu sama lain. Terutama bagi Radika. Radika telah lama melihat Senja di sekitarnya, bersama-sama sepanjang waktu tanpa tahu apa perasaan sebenarnya yang ada untuk Senja.

__ADS_1


__ADS_2