
Senja sudah melihat Melinda di depan pintu. Senja merasa kaget karena postur tubuh Melinda yang kini terlihat semakin kurus, Senja turun sendiri sebelum Radika sempat membukakan pintu untuknya.
"mama" Senja menghampiri Melinda
"sayang, mama senang kamu mau datang"
Melinda memeluk erat Senja, dia benar-benar rindu kepada menantunya itu.
"ayo masuk mah, di luar dingin" Radika merangkul pundak mamanya dan menuntunnya untuk masuk
"Abang Rendra" Senja sedikit berteriak memanggil kakak iparnya itu
"Senja?"
Rendra menghampiri kemudian memeluk hangat tubuh mungil di depannya
"apa kabar kamu?"
"Senja baik bang, Abang gimana?" mereka masih berpelukan
"ehm..." Radika berdehm mengingatkan agar Rendra melepaskan pelukannya dari wanitanya itu
"kenapa? apa? sejak kapan kamu sangat pelit dengan Abang mu sendiri? Senja adikku, tidak ada urusannya dengan mu" Rendra menatap ke arah Radika.
__ADS_1
Radika jadi kesal kepada Rendra.
"Ja Abang Rendra bawa pacarnya" Radika punya ide untuk melepaskan Rendra dari Senja
"oh ya? siapa gadis beruntung yang sudah berhasil merebut hatimu bang?"
"dia bukan seperti apa yang Radika ucapkan, kami hanya berteman "
"yang bener, ciyeeee Abang "
Edna melihat jelas apa yang terjadi di depan matanya, Rendra sangat hangat kepada Senja, di dalam hatinya Edna merasa iri melihat hal itu.
"hai aku Edna" Edna mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Senja
"dia istriku kak" Radika memotong perkataan Senja
"istri Radika?"
"iya kak" Radika mengambil alih jawaban itu lagi.
syukurlah gadis ini sudah menikah dengan adik dari Rendra (Edna)
"ayo kita semua duduk dan makan" Melinda
__ADS_1
Semua orang duduk di kursi masing-masing, Melinda tak henti-hentinya mengukir senyuman di kedua bibirnya, pemandangan yang sangat membahagiakan bagi Melinda. Senja disini bersama Radika adalah sumber kebahagiaan Melinda, di tambah lagi Rendra membawa seorang gadis juga ke rumah. Benar-benar momen yang sangat langkah.
Senja mengoreksi makanan yang ada di atas meja, 90% makanan yang tersedia adalah makanan kesukaan dia. Senja menatap ke arah Melinda, wanita sedang tersenyum melihat dirinya.
"mama senang sekali hari ini menantu mama kembali"
Senja menunduk, sejatinya memang dirinya dan Radika belum resmi berpisah, pasalnya sampai detik ini Radika tidak pernah menandatangani surat perceraian yang Senja gugatkan. Belum ada sidang karena Senja belum memasukkan gugatannya ke pengadilan. Jika surat cerai sudah di tandatangani mungkin mereka telah sah berpisah saat ini.
Radika benar-benar tidak ingin berpisah dengan Senja. Dia telah sadar siapa yang dengan tulus mencintai dirinya. Bahkan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam rasa kesal terhadap Rio masih saja ada.
Setelah makan malam semua orang berkumpul di ruang keluarga. Melinda mengajak Senja ke kamarnya.
"duduk sini nak" Senja menuruti perintah Melinda
Melinda ikut duduk setelah mengambil sesuatu dari lemari.
Melinda mengeluarkan surat cerai yang Senja berikan kepada Radika beberapa bulan lalu.
"Radika sungguh-sungguh tidak ingin bercerai dengan kamu sayang, tolong maafkan Radika dan kembalilah bersama dia"
Senja diam
"lihatlah mama, mama bukan menggurui mu mama pun sakit hati dengan papa, mama mentah-mentah di tipu oleh papa selama bertahun-tahun, lalu mama melihat bahwa papa benar-benar telah menyesal, mama mau memaafkan papa bukan karena mama masih mencintai papa tapi karena papa mau berubah. Rasa cinta itu telah hilang bersama hancurnya hati mama"
__ADS_1