
Senja menahan pintunya agar tidak terbuka, di luar kamar Radika sedang berusaha mendorong pintu kamar Senja agar terbuka. pagi-pagi sekali Radika datang ke rumah Senja untuk meminta maaf tentang perkataannya semalam. Cindy yang memang sudah berada di rumah mempersilahkan mereka berdua untuk bicara tanpa tahu masalah apa yang kedua anak itu hadapi.
"please Ja aku minta maaf, semalam aku benar-benar kesal melihat kamu dengan Aldo"
"itu bukan alasan untuk membuatmu mengatakan hal-hal buruk tentang janda, seseorang akan terlihat perangainya ketika sedang marah, dan aku tahu sekarang seperti itulah sifatmu yang sebenarnya. mengenalmu sekian tahun ternyata tidak membuatku mengenal bagaimana dirimu yang sebenarnya, aku benar-benar kecewa dengan apa yang telah kamu lakukan " teriak Senja
"oke sorry beberapa hari ini aku memang kehilangan kesabaranku, Aku ingin memperbaiki hubungan kita tapi aku melihatmu sangat akrab dengan Aldo beberapa kali. kalian sengaja makan siang bersama, Aku kesal Ja "
"udahlah Dik, tidak perlu ada yang dibicarakan lagi diantara kita, kita sudah selesai dan itu menyelesaikan segalanya "
"Aku tidak pernah menandatangani surat perceraian itu lalu dari mana kamu bisa menyimpulkan bahwa kita telah selesai"
"karena memang semuanya telah selesai, aku sudah tidak ingin lagi berhubungan denganmu sebagai pasangan tapi jika kamu ingin berteman aku tidak akan menolaknya "
__ADS_1
"tidak, aku tidak akan berhenti mengejarmu jika memang aku tidak bisa memilikimu orang lain pun tidak boleh memilikimu kamu hanya bisa bahagia bersamaku kamu mencintaiku dan aku tidak yakin kalau cinta itu telah hilang "
"kamu tidak bisa memaksakan kehendakMu kepadaku, aku bisa memutuskan kehidupanku sendiri, bagaimana aku akan bertindak dan juga kedepannya seperti apa itu bukan hakmu untuk mengaturnya "
"kalian berdua ini seperti anak kecil tidak bisa kah kalian berbicara dengan baik-baik? "
Cindy tiba-tiba hadir di depan kamar Senja dan melihat Radika dan senja sedang saling mendorong pintu.
Senja menuruti perkataan bundanya dan membuka pintunya dengan lebar, mereka berdua sudah melepaskan pintu itu. Senja berdiri di tengah pintu dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"aku nggak mau ngomong apapun sama dia Bunda, tapi dia maksa "
"Aku mau jelasin dan minta maaf atas semua kesalahanku ke dia Bunda, tapi dia juga nggak mau denger"
__ADS_1
"tuh kan, kalian berdua itu sama, sama-sama batu, sekarang Senja dan Radhika turun, duduk di ruang tamu dengan baik dan membicarakan permasalahan kalian dengan baik-baik juga, Bunda nggak mau ada yang teriak-teriak "
"iya Bunda" Senja turun lebih dulu daripada Radika, Radika membuntuti Senja di belakang.
Cindy juga turun dan ikut duduk bersama kedua anak itu di ruang tamu. Cindy tidak ingin melihat anaknya dan juga Radika yang masih sah sebagai menantunya itu secara hukum, kembali bertengkar.
"udah sekarang kalian ngobrol bunda akan jagain kalian di sini "
Radika dan Senja malah diam dan tidak mengatakan hal apapun, mereka berdua sungkan karena Cindy berada di antara mereka.
"kenapa malah diem? ayo ngobrol "
"Bunda.... Senja... Radika minta maaf ya atas ucapan Radika yang menyakiti hati Senja, aku tidak bermaksud untuk membuat Senja kesal, tapi Radika sakit hati melihat senja akrab dengan Aldo"
__ADS_1