Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
Part 104


__ADS_3

Radika telah rapi dengan setelan kemeja dan celana panjang, terlihat santai tapi sangat kasual. Dia kembali menyisir rambutnya, dan memastikan penampilannya telah sempurna.


Radika keluar dari apartemen kemudian menuju ke parkiran, di sana Radika di cegat oleh Angel yang sudah bersandar di kap mobil Radika.


"kita perlu bicara"


"bicara apa lagi?"


Pasalnya Radika sudah jengah dengan tingkah laku Angel yang ternyata bermain api dengan papanya, bahkan Radika yang berstatus pacaran dengan Angel pun sama sekali tidak pernah sampai melampaui batas. Sedangkan Angel dan papanya sudah berhubungan sekian lama.


Benar-benar membuat emosi Radika terpancing.


"pergi dari hadapanku atau aku akan bertindak kasar"


"lakukan saja, aku akan meneriaki mu ingin memperkosa ku"


"aku tidak takut, kamu lihat cctv terpajang di mana-mana? jika kamu memang bodoh lakukan saja"


Radika membuka pintu mobilnya ingin segera pergi dari hadapan Angel, Angel menahan pintu mobil agar Radika tidak jadi masuk ke dalam mobil.


"lepaskan tangan menjijikkan itu dari barang-barang ku" Radika benar-benar membenci Angel untuk sekarang ini


"kamu sangat brengsek Radika, bukankah sebelumnya kamu mencari ku kesana-kemari?"


"itu karena aku bodoh menginginkan mu. Sekarang menyingkir lah dari hadapan ku, melihatmu membuat hari ku sial"


brak


Radika berhasil masuk dan menutup pintunya dengan keras di hadapan Angel. Wanita itu sangat geram atas tingkah laku Radika padanya.


"brengsek" teriak Angel melampiaskan kekesalannya.


......................


"Bu Senja ada tamu" asisten Senja berdiri di tengah pintu ruangan Senja memberitahu bahwa ada seseorang yang ingin menemui dirinya

__ADS_1


"siapa?"


"pak Radika Bu" Senja menghentikan kegiatan tangannya yang sedang mengetik di laptopnya


"oke, suruh dia masuk"


Asisten Senja menutup pintu lagi kemudian menyuruh Radika masuk, Senja menata duduknya dan menutup laptopnya.


"duduk Dik" Senja mempersilahkan Radika untuk duduk di hadapannya


"gimana kabar kamu?" Radika


"seperti yang kamu lihat, aku oke"


Radika diam, begitu juga Senja. Hening di dalam ruangan ini membuat suasananya menjadi dingin.


"oh iya kamu mau minum apa?"


Radika tidak menjawab namun matanya melihat tajam ke arah Senja.


Beberapa saat Senja tidak bisa berkata apa-apa.


"kita sudah menyelesaikan semuanya, biarkan aku menjalani hidupku sendiri sementara ini"


"sementara ini? kedepannya bagaimana?" tanya Radika penuh harap


"aku tidak merencanakan apapun yang akan terjadi selanjutnya, biarkan saja mengalir seadanya"


"aku menyesal" Radika menunduk


"aku sama sekali tidak tahu kalau Angel ada main sama papa"


"meskipun kamu tahu kalau Angel ada main dengan papa tindakanmu di belakang ku juga tidak bisa di benarkan"


"iya aku tahu aku salah, maafkan aku"

__ADS_1


"aku selalu memaafkan kamu sejak dulu"


"kalau aku boleh tanya, sejak kapan kamu mencintai aku?"


"sejak kita kecil"


"kenapa kamu tidak bilang?"


"untuk apa?"


"setidaknya aku tahu perasaan kamu"


Mereka berdua kembali diam


kring...kring...


Senja menjawab telepon di atas meja yang berbunyi


"Ja kita ada sidang habis ini" suara Mega dari seberang mengingatkan Senja akan jadwal pekerjaannya


"iya Meg gua udah baca kasusnya"


"ya udah, gua tunggu di depan "


"oke gua segera kesana"


Senja menaruh kembali gagang telepon di tempatnya


"aku akan kembali bekerja Dik"


"iya aku dengar, kalau gitu aku pamit pulang dulu"


"oke, hati-hati ya"


Radika berdiri dan berjalan menuju arah pintu ruangan Senja, Radika berhenti sejenak.

__ADS_1


"Ja aku nggak pernah menandatangani surat cerai itu"


__ADS_2