Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
Part 77


__ADS_3

Senja mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja dan duduk bersama Radika. Senja membuka kotak martabak dan memakannya.


"hmmm ini martabak yang deket apartemen itu ya?"


"iya yang itu" Radika spontan mengiyakan pertanyaan Senja yang artinya sebenarnya dia tidak ke daerah yang jauh untuk membeli martabak


"eh bukan sayang, tadi aku belinya nggak di situ kok, aku keluar agak jauh soalnya kan udah malam banget jadi jarang ada yang jual, yang di deket apartemen juga udah nggak ada, udah habis katanya"


"ooo.... tapi rasanya kenapa mirip banget ya sama yang di deket apartemen"


"masa sih? perasaan martabak dimana-mana rasanya sama aja deh"


"perasaan ku aja kali ya"


"iya sayang... namanya martabak mah dimana-mana sama aja kan? ya udah kamu makan itu ya aku mau cuci kaki sama tangan dulu habis ini kita tidur"


"ok"


Radika meninggalkan Senja di ruang tamu sendiri menikmati martabaknya.


kamu lupa sesuatu Radika, kamu lupa kalau aku ini bisa mengingat rasa di setiap makanan yang aku makan (Senja)


......................


Senja sedang termenung di ruangannya dengan memainkan pulpen di tangannya berulang-ulang.


"Ja ini data yang lu minta kemarin sama gua" mega

__ADS_1


Nihil nggak ada respon dari Senja


"Ja, udah waktunya makan siang ayo makan siang di cafe depan yuk"


lagi-lagi nihil nggak ada pergerakan


"astaga dia ngelamun" Mega sudah kesal karena Senja sama sekali tidak meresponnya


brak


Mega membanting tumpukan kertas di hadapan Senja dengan sengaja.


"Meg lu ngagetin aja"


"kenapa setiap kali lu kaget selalu aja nyalahin gua, sekali-kali kek lu salahin diri lu sendiri yang ngelamun mulu kerjaannya"


"ngeles mulu lagi, ya udah ayo makan siang udah jam makan siang nih"


"nggak ah Meg gua nggak laper"


"lah lu tumben banget nggak mau makan? pasti ada apa-apa nih"


"enggak" Senja menyembunyikan wajahnya dengan kedua lengannya


"hey are you okay?" Mega sepertinya mulai khawatir kepada sahabatnya itu, Mega mendekat dan menyentuh pundak Senja.


Senja mengangkat jempolnya tanda dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Mega memaksa membangunkan kepala Senja agar menghadap ke arahnya.


"lah lu nangis Ja? kenapa?" Mega memeluk Senja yang air matanya sudah menetes kemana-mana


"aaaaa gua nggak tahu, apa gua yang over thinking atau emang Radika ada main di belakang gua" Senja sudah menangis di pelukan Mega


Senja masih muda untuk urusan rumah tangga, anak ini benar-benar tidak bisa menjaga emosinya, dimana saja bisa saja dia menangis seperti ini (Mega)


"ok ok lu tenang dulu setelah lu tenang baru lu cerita"


Senja masih saja menangis selama hampir sepuluh menit di pelukan Mega.


"udah lu minum dulu gih" Mega mencoba meraih air putih untuk Senja minum agar Senja merasa lebih tenang. Benar saja sesaat kemudian Senja sudah mulai tenang dan tinggal sesenggukan sekali-kali.


"sekarang lu cerita ada apa?"


"gimana mulainya yah bingung gua"


Mega menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal melihat tingkah Senja yang konyol


"pelan-pelan aja nggak perlu lu langsung cerita semuanya gapapa"


"hmmm kayaknya Radika selingkuh"


"eits... tunggu dulu, kok bisa lu punya pikiran kayak gitu?"


"hm... semalam kan dia bilangnya keluar beli martabak tapi baliknya lama banget Meg"

__ADS_1


__ADS_2