Sadari Cintaku

Sadari Cintaku
Part 93


__ADS_3

Sekitar jam tujuh pagi Melinda sudah rapi dengan membawa makanan breakfast untuk anak dan menantunya. Melinda berjalan ke apartemen Senja setelah keluar dari lift.


Ting... tung ...


Ting.... tung...


Masih tidak ada jawaban.


"apa jangan-jangan mereka berdua udah pada berangkat ya? tapi ini kan masih pagi banget, biar aku telpon dulu"


Melinda mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian menekan beberapa kali dan sesaat kemudian tersambung ke nomor menantunya.


Di dalam kamar apartemen...


ring...ring...ring...


Beberapa kali ponsel Senja berbunyi tapi si empunya tidak bergeming sama sekali.


Radika terganggu dengan bunyi ponsel Senja yang tidak hentinya berdering. Radika bangun lebih dulu, mereka berdua sama-sama masih telanjang bulat di dalam selimut.

__ADS_1


Radika meraih ponsel Senja dan tertera nama "mama" di layar utama ponsel, pertanda bahwa mamanya lah yang sedari tadi menghubungi istrinya.


"halo mah"


"Radika kalian masih di rumah? mama di luar apartemen kalian, dari tadi mama bunyiin bel tapi nggak ada yang bukain pintu, mama kira kalian udah berangkat"


"wwwooah belum mah, Senja masih tidur, semalaman bertempur berusaha bikinin mama cucu he he "


"dasar kamu anak nakal, cepat buka pintunya mama sudah hampir setengah jam berdiri di sini"


"iya mah"


Radika bersiap memakai pakaiannya, kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju pintu untuk mempersilahkan Melinda masuk ke apartemen mereka.


"masuk mah"


"sini " Melinda menarik tangan Radika membisikkan sesuatu ke telinga anaknya


"kamu beneran habis gituan sama Senja?" Melinda berbisik

__ADS_1


"iya mah, nih kalau nggak percaya" Radika mengajak Melinda mengintip ke dalam kamarnya, terlihat Senja tengah tertidur dengan badan yang belum memakai pakaian, Melinda melihat Senja hanya mengenakan selimut dan punggung Senja terlihat polos tanpa busana.


"udah percaya?"


"hi hi iya iya udah percaya, kamu yang gentol usahanya, jangan setengah-setengah biar mama cepet dapat cucu"


"beres mah, oh iya mama tumben pagi-pagi banget kesini?"


Melinda berpindah posisi dari yang berdiri di depan kamar anaknya, kini akhirnya duduk di sofa.


"sebenarnya mama itu masih kepikiran soal Senja yang tiba-tiba nangis kemarin itu loh, aneh aja menurut mama"


"aku udah tanya dia kok mah, dia bilang dia itu kagum sama cinta mama ke papa, itu aja"


"semoga benar apa yang kamu bilang, mama sampai kepikiran banget. Kemarin mama minta saran ke papa dan papa bilang mending mama kesini nge cek kalian beneran oke oke aja apa cuma di depan kami kalian pura-pura baik-baik saja. Setelah melihat kalian bersama seperti ini mama jadi yakin kalau kalian benar-benar nggak ada apa-apa "


"ya emang nggak ada apa-apa mah, mama aja yang terlalu banyak mikir"


"bukannya gitu, Senja yang dulu mama kenal kan selalu saja ceria dan bahagia, tapi sekarang kamu lihat dia jarang banget sampai bisa tertawa lepas seperti dulu"

__ADS_1


"Radika juga sempat berfikir begitu mah, tapi setiap kali Radika tanya jawaban Senja selalu seperti ini (mungkin aku kebawa suasana saat kerja aja, jadinya serius terus) selalu gitu mah Senja bilangnya "


__ADS_2