
Senja membuka matanya, dia baru sadar bahwa dirinya tertidur di sofa yang berada di kamarnya. Badannya terasa pegal-pegal karena meringkuk selama tertidur. Dia ingat bahwa semalam merasa sangat gelisah, tapi semakin dia berusaha tenang kegelisahan itu semakin menjadi.
Hingga akhirnya Senja membuka galeri foto di ponselnya, melihat semua kenangan bersama Radika selama mereka bersama, entah saat menjadi sahabat atau saat sudah menjadi suami istri. Lama-kelamaan Senja sampai tertidur di sofa sampai pagi.
Senja memulai aktivitas nya seperti biasa, tepat jam delapan pagi Senja turun akan berangkat ke kantor, Senja mengerutkan dahinya tatkala melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya terparkir di luar gerbang rumahnya.
"Radika?"
Senja segera membuka gerbang dan menghampiri mobil Radika yang tertutup rapat dari dalam.
tok...tok...tok...
"Radika"
tidak ada jawaban, Senja mulai panik karena kaca mobil Radika tidak tembus pandang, Senja mencoba mengintip ke dalam, samar-samar terlihat Radika terpejam di balik kemudi.
Senja benar-benar semakin panik lagi. Senja kembali mengetuk-ngetuk kaca mobil Radika dengan keras.
__ADS_1
"Radika... Radika... bangun"
Radika membuka pintu dari dalam dan melihat seseorang yang sangat dia rindukan. Setelah turun dari mobil Radika tidak berkata apa-apa tapi malah langsung memeluk Senja.
......................
"kok bisa kamu di situ?"
"kebetulan lewat aja"
Radika benar-benar rindu semuanya tentang Senja, ranjang Senja, kamar Senja, rumah Senja, dan juga Senja.
Senja di dapur sedang membuat sandwich untuk Radika dan dirinya, awalnya Senja akan sarapan di kantor, tapi berhubung ada kejadian seperti ini Senja jadi terlambat ke kantor dan akhirnya makan pagi di rumah.
Senja melihat Radika turun mengenakan pakaian bersih, tentu saja itu adalah milik Radika yang masih tersimpan rapi di lemari Senja. Radika sedikit GR saat melihat semua bajunya masih di sana, tertata rapi tak pernah di kemana-mana kan.
Radika duduk di mini bar di depan dapur.
__ADS_1
"ini" Senja memberikan piring berisi sandwich dan segelas susu
"kamu mau kerja?" Radika membuka pembicaraan
"iya"
"mau aku antar?"
"aku bawa mobil sendiri kok"
"oke"
Mereka berdua diam, suasana nya benar-benar canggung dan senyap. Mereka berdua makan dengan perlahan-lahan. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua author juga nggak tahu 😅
POV Radika
Dengan keadaan setengah mabuk Radika menyetir mobilnya menyusuri jalanan, tanpa dia sadari dia telah masuk ke perumahan elit di daerah rumah Senja berada. Radika berhenti di depan rumah Senja, memandangi ke arah jendela kamar Senja yang masih menyala lampunya. Tidak ada yang Radika lakukan, dia benar-benar hanya diam memandangi jendela kamar Senja, berharap si empunya kamar membuka jendela dan melambai ke arahnya. Tapi itu hanya khayalan Radika, Senja sama sekali tidak keluar atau pun hanya membuka jendelanya, hingga lama-kelamaan Radika terlelap di dalam mobil .
__ADS_1