
Senja dan Aldo bercanda dan mengobrol tentang banyak hal.
"lu lagi" tiba-tiba Radika hadir di samping meja mereka.
"Radika?"
"bisa nggak lu nggak godain istri orang? wanita yang single masih banyak, kenapa sangat suka dengan milik orang lain?" pertanyaan itu Radika tujukan kepada Aldo yang hanya tersenyum menanggapinya.
Senja memijat keningnya, dia benar-benar pusing jika Radika sudah mengamuk seperti ini.
"bisa di perjelas? sepertinya ada yang masih berharap lebih disini? "
"Aldo udah" Senja
"apa maksudmu?" Radika menarik kerah kemeja Aldo sampai Aldo berdiri
"Radika stop, kamu apa-apaan?" Senja mencoba melepaskan tangan Radika dari leher Aldo, Radika melepaskannya tapi kemudian menyeret tangan Senja pergi dari tempat itu, bahkan Senja sampai tidak sempat membawa tas nya.
__ADS_1
"Radika lepaskan Senja" Aldo berteriak ingin mengejar, tapi urung karena seorang pelayan menahannya dan memintanya untuk membayar pesanannya dan Senja. Setelah membayar, Aldo membawa tas Senja dan mencoba mencari dimana keberadaan Senja. Tapi ternyata nihil, Aldo tidak begitu mengenal lokasi ini, akhirnya Aldo menitipkan tas Senja di resepsionis, lalu memutuskan untuk pergi dari sana.
Di tempat lain....
Senja diam saja di dalam mobil Radika, baginya melawan Radika dirasa percuma untuk saat ini. Radika sedang marah, jika Senja juga ikut marah bukannya membaik malah akan membuat mereka berdua bertengkar.
"suka ya di apelin Aldo? " Radika
Senja benar-benar diam tak menanggapi pertanyaan Radika sama sekali. Senja melipat kedua tangannya di dada dan membuang pandangannya keluar jendela mobil.
"kamu pikir status janda itu hina? kenapa bicaramu seperti itu?"
"terang saja, yang dia tahu kita bercerai, lalu jika bukan janda mau di sebut apa kamu?"
"stop Radika, aku turun disini" Radika tak mengindahkan perkataan Senja
"stop atau aku lompat" akhirnya Radika berhenti di tepi jalan, Senja segera membuka pintu dan keluar dari mobil Radika. dia berjalan berlawanan arah dengan laju mobil Radika. Senja sangat kesal, perkataan Radika benar-benar tidak baik, seperti tidak beretika. Radika ikut turun dan mengejar Senja, Radika menggapai tangan Senja menahannya agar berhenti berjalan.
__ADS_1
"lepasin aku, aku bersyukur bisa lepas dari mu, laki-laki bermulut sampah, apa kamu tidak pernah berpikir sebelum berbicara, kamu punya seorang ibu, dia juga perempuan, jika ayahmu meninggal maka status ibumu juga akan janda"
Radika tidak bisa menerima pembelaan Senja, hatinya masih panas melihat Senja dekat dengan Aldo.
"lalu kamu mau di sebut apa? gadis? gadis yang sudah tidak perawan ha?"
plak
Senja akhirnya menyalurkan kekesalannya dengan menampar pipi kiri Radika.
Senja menghempaskan tangannya dengan kuat agar terlepas dari genggaman Radika. Senja sedikit berlari kemudian berhenti untuk menyetop taksi yang kebetulan lewat di depannya.
Radika mematung sesaat, tapi segera tersadar dan kembali masuk ke mobilnya. Radika frustasi, dia memukul setir mobil bersamaan dengan teriakan frustasinya.
"bodoh, kenapa aku mengatakan hal itu kepada Senja? tentu saja dia marah, kenapa aku begitu bodoh, amarahku mengalahkan segalanya. Harusnya aku lebih mengalah kepada Senja jika ingin dia kembali bersamaku, tapi melihat dia dengan Aldo membuatku sangat kesal "
Radika berkali-kali mengutuk dirinya yang sembrono mengatakan hal-hal yang membuat Senja kesal.
__ADS_1