
"masih lama?"
"bentar-bentar ini masih di bikinin sama abang-abang nya, sabar ya"
"ya udah, aku tidur dulu ya nanti kalau kamu udah pulang bangunin aku"
"beres sayang"
Radika menutup saluran telepon
"beres sayang" Angel mencibir Radika dengan menirukan kata-kata Radika untuk Senja tadi
"hemmm udah dong jangan kayak gitu" Radika mencoba merayu Angel
"kamu mah sumpah bikin kesel aja, di depan aku bisa-bisanya mesra-mesraan sama Senja"
"ya mau gimana lagi kan status aku sama dia suami-istri sayang"
"suami-istri terus yang kamu buat alasan"
"kan emang aku sama dia suami-istri "
"terus aja terus"
"sebenarnya tujuan kamu nyamperin aku ke apartemen apa?"
"aku cuma mau bilang, tempo hari kak Rendra nyamperin aku"
"Bang Rendra? ngapain?"
"dia nyuruh aku nggak gangguin hubungan kamu sama Senja"
"terus?"
"aku iya in aja"
__ADS_1
"terus Bang Rendra percaya gitu aja?"
"iya"
"aneh, itu bukan khas nya Bang Rendra kalau dia langsung percaya sama kamu, aku juga merasa aneh sama kamu "
"aneh gimana?"
"tumben kamu nggak manfaatkan momen ini untuk memeras Bang Rendra?"
"kamu pikir aku se matre itu?"
"ya kan kalau sama aku kamu intinya nggak mau rugi"
"iya sih tapi aku kan kayak gitu cuma sama kamu doang, mana berani aku macem-macem sama kak Rendra "
Radika diam mencoba mempercayai kata-kata Angel. Menurut Radika Angel bukanlah tipikal orang yang tidak bisa menggunakan kesempatan dengan baik, malah jika bisa Angel akan menguras habis isi kartunya jika itu memungkinkan. Tapi kali ini kenapa Angel tidak meminta apa-apa? Itulah yang menjadi pertanyaan besar di benak Radika.
"ya udah aku balik dulu, kalau kelamaan takut Senja curiga"
"nanti ya sayang aku akan atur jadwal supaya bisa sama kamu lebih lama"
"cium dulu" Angel merentangkan kedua tangannya mengharap Radika masuk ke dalam pelukannya
"emmuach" satu ciuman singkat di ujung bibir Angel dari Radika
Radika meninggalkan Angel dan segera melesat mencari martabak yang menjadi alasannya keluar rumah.
......................
Radika duduk di sofa dengan pelan-pelan agar Senja tidak terbangun.
untung si Senja udah tidur (Radika)
Radika memejamkan matanya dengan kepalanya yang bersender pada sofa.
__ADS_1
"udah pulang?"
Sontak Radika melonjak kaget melihat Senja di depannya membawa segelas minuman entah apalah itu.
"Ja katanya tidur?"
"nggak bisa tidur ini lagi buat coklat hangat siapa tahu habis minum coklat hangat bisa tidur"
"oh kirain ngapain kamu, oh iya ini martabak kamu"
"martabak aku? aku kan nggak pesen martabak, bukannya kamu yang pengen martabak?"
"oh iya maksudnya buat kamu aja soalnya tadi aku muter cari-cari sesuatu yang mungkin aja kamu suka ternyata semuanya gitu-gitu aja"
"gitu-gitu gimana?"
"ya makanannya sama aja kayak biasanya "
"belibet ah ngomongnya, kenapa perasaan lama banget ya kamu muternya?"
"iya lumayan, tadi pas beli martabak aku ketemu si Rudi temen SMA kita dulu, kamu ingat?"
"Rudi? Rudi yang mana sih?"
"ituloh yang anaknya gendut banget"
"oohh Rudi yang itu"
"iya Rudi itu, dia ngajakin ngobrol sampek lupa waktu"
"hmmm gitu?"
Senja membuka bungkusan martabak yang benar-benar masih panas dan kardusnya nggak merembes sama sekali.
kalau memang Radika keluar beli martabak waktu aku telpon tadi harusnya bungkusan makanan ini pasti udah penyok kena rembesan minyak goreng dari martabak, apalagi Radika bilang dia habis ngobrol sama Rudi (Senja)
__ADS_1