
Senja sedang duduk sendirian menikmati alunan musik yang tengah di senandung kan salah satu teman lamanya. Terasa begitu membahagiakan berada di antara semua kawan-kawan lama, setelah beberapa waktu lalu Senja berkali-kali di terpa kejadian-kejadian yang benar-benar tidak menyenangkan.
Berkumpul dan bersukacita seperti ini, menjadi sebuah obat tersendiri bagi Senja. Disini Senja bahkan bisa tertawa lepas seperti saat sebelum menjalani kehidupan yang begitu menyiksa dirinya.
"ehm" seseorang duduk di sisi Senja, Senja menoleh ke arah orang itu, dan itu adalah Radika.
Senja membenarkan duduknya menjadi lebih tegap dari posisi yang sebelumnya.
"kita perlu bicara" Radika membuka pembicaraan
"soal?" Senja benar-benar tidak berniat meladeni Radika, disamping tidak ingin memicu pertengkaran, Senja juga malas dengan bualan Radika.
"soal kita berdua"
Senja menoleh dan mata mereka bertemu, bukan tidak sengaja, tapi Senja memang sengaja menghujamkan pandangan tepat ke dalam manik mata Radika. Senja tersenyum sinis.
"bukankah sebelumnya sudah jelas? kita sudah berakhir"
__ADS_1
"tapi aku tidak pernah menandatangani perjanjian cerai itu"
"itu bukan urusanku" Senja beranjak dari tempatnya duduk, meskipun Radika telah berulang kali menjadi penyebab sakit hatinya, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Radika adalah cinta Senja sejak awal. Berada dekat dengan Radika seperti ini membuat jantung Senja berdegup dengan kencang. Perasaan Senja tak pernah berubah sekalipun, Radika adalah belahan jiwa Senja selama hidup Senja, tidak pernah sekalipun Senja membuka hati untuk siapapun di sekitarnya.
"Ja tunggu," Radika mengejar Senja sampai keluar ruangan, Radika menggenggam tangan Senja dengan erat. Radika selalu spesial di hati Senja, kemarin sekarang dan selamanya. Rasa cinta Senja terhadap Radika tidak pernah berbatas. Tapi untuk saat ini Senja benar-benar menjaga mentalnya yang terus-menerus di sakiti oleh Radika agar tetap sehat. Senja tidak dendam, tapi Senja butuh ketenangan jiwa dan juga mentalnya.
"kita harus ngobrol Ja"
Radika berdiri di depan Senja sambil menggenggam kedua tangan Senja
"aku sayang kamu, kita bisa kembali seperti dulu dan menata segalanya dari awal"
"biarkan aku tenang dengan kehidupan ku sekarang ini Dik, aku nggak mau pusing dengan memikirkan ini semua"
"aku nggak bisa tanpa kamu Ja"
mereka berdua diam, Senja merasa tersentuh, tapi lagi-lagi kembali Senja menepis perasaan yang hangat dari Radika
__ADS_1
"nggak sekarang Dik, kita bicarakan ini nanti" Senja mencoba melepas lagi genggaman tangan Radika
Radika sama sekali tidak bergeming dan masih tidak melepaskan Senja
"aku mau kita ulangi lagi semuanya dari awal dan menata dengan baik hubungan kita"
"aku bisa saja bertahan, aku bisa mencoba kembali tapi untuk apa lagi kalau aku nggak di hargai? aku bisa juga udah maafin kamu, dan sebenarnya aku juga bisa paksakan hubungan ini tapi aku nggak yakin kamu mau berubah"
"aku akan berusaha"
Radika mencoba menarik Senja ke pelukannya tapi Senja memberontak
"jangan seperti ini Dika lepaskan aku"
"bisa tolong lepaskan dia?" suara seseorang dari balik Radika mencoba membantu Senja
sudah sejak tadi orang itu memperhatikan apa yang Senja dan Radika lakukan. Dan itu jelas sekali bahwa Senja mencoba menghindar dari Radika.
__ADS_1