
"Senja om tersinggung dengan perkataan kamu, kamu bilang kamu tidak lagi punya Ayah? lalu om ini siapa? om juga papa kamu"
Tangisan Senja benar-benar menyayat hati, kehilangan yang di rasakan Senja dirasakan juga oleh Radika, bagaimanapun juga Senja dan Radika sudah bersama cukup lama.
Malam ini Radika dan Rendra menginap di rumah Senja. Radika menemani Senja di kamarnya, Senja sama sekali tidak dapat terlelap sepanjang malam.
Hingga pagi menyapa Senja masih saja duduk di bangku yang berada di balkon kamarnya. Matanya sembap, wajahnya lesu dan penampilannya kusut sekali.
"coklat hangat" Rendra menyodorkan secangkir coklat hangat kepada Senja.
"makasih bang" Senja memegangnya dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang menembus dari cangkir itu.
"Radika?"
"ke kamar mandi katanya "
"mau sarapan apa hari ini biar Abang beli buat Senja"
"Senja nggak laper bang"
Senja menyeruput coklat hangatnya, Rendra menghela nafas panjang kemudian tersenyum.
"ok.... tapi nanti kalau lapar bilang Abang ya "
__ADS_1
"iya bang"
Sinar mentari menyeruak kembali pagi ini membuat tubuh Senja menjadi hangat, sinarnya menerpa ke wajah Senja yang sayu.
"biasanya jam segini Senja sama Ayah joging bang terus kita beli sarapan nasi uduk di warungnya mbok Tas"
"Senja mau nasi uduk nya mbok Tas?"
Senja menggeleng, linangan air mata meluncur bebas dari sumbernya membuat Rendra spontan duduk bersimpuh di hadapan Senja.
"hey don't cry, I'm sure daddy doesn't want to see you like this"
"Abang.... hiks... hiks..." Senja memeluk Rendra dengan tangisannya yang pecah di dada Rendra.
......................
Ting....tong....Ting ...tong....
BI Ijah setengah berlari membuka pintu depan yang beberapa ada yang memencet bel nya.
"silahkan masuk ibu...." BI Ijah mempersilahkan seorang wanita tua masuk ke dalam rumah.
"siapa bik?"
__ADS_1
"nggak tahu nyonya katanya kenal sama tuan dan non Senja"
Cindy menemui tamu yang datang mengaku mengenal mendiang suaminya dan juga mengenal anak perempuannya.
"selamat sore ibu ada yang bisa saya bantu?" Cindy dengan sopan menanyakan tentang keperluannya datang ke rumah.
"nak saya mbok Tas penjual nasi uduk di ujung jalan sana, saya mendengar dari warga sekitar kalau pak Aditya telah meninggal, saya turut berbelasungkawa semoga semua amal ibadah nya di terima tuhan dan di lapangkan kuburnya"
"oh ibu yang jualan nasi uduk? saya Cindy buk istrinya mas Aditya, sebelumnya maaf karena saya tidak tahu siapa ibu karena memang saya tidak pernah ikut joging suami dan anak saya"
"tidak apa-apa nak, saya tau kalau kamu tidak pernah ikut joging makanya kamu tidak mengenal ibu"
"mbok Tas?" Senja turun dan langsung mengenali sosok ibu tua yang sedang berbincang dengan Bunda nya.
"Eneng...." Mbok Tas langsung berdiri kemudian sedikit berlari menghampiri Senja dan langsung memeluknya.
"Ayah mbok.... Ayah udah nggak ada" suara tangis Senja membuat mbok Tas dan yang lainnya ikut merasakan kesedihan itu.
"yang sabar neng... Ayah si Eneng sudah bahagia di sana jangan menangis lagi neng..."
"maafkan Ayah ya mbok jika Ayah ada salah sama mbok"
"insyaallah di maafkan semuanya, jangan terus-menerus di tangisi ya neng agar tenang ayah Eneng di sana"
__ADS_1