Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
10


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa antusias untuk bergegas meninggalkan sekolah. Hal yang menjadi sangat menyenangkan setelah ber jam jam berada di tempat yang di kelilingi tuntutan dan juga aturan, seperti bebas dari sebuah kurungan, sangat melegakan.


  Aera memisahkan diri dari kedua sahabatnya, beralasan akan tetap di sekolah untuk mengerjakan tugas di perpustakaan. Menghindari Fina karna kejadian tadi saat di toilet benar benar membuat nya menjadi tidak nyaman. Mungkin ada baik nya untuk menjauh sebentar sembari saling mengoreksi dimana letak kesalahan yang terjadi.


Bukan nya ke perpustakaan Aera malah menaiki tangga menuju atap gedung sekolah.


Di atap gedung sekolah Aera menghelai nafas lega, dengan kedua matanya yang menatap jauh di antara bangunan bangunan yang tertata dengan gedung gedung tinggi yang menjulang.


Hamparan langit biru dengan gumpalan awan awan putih lengkap dengan matahari yang masih cukup terik.


Aera duduk di sisi atap gedung, menikmati sajian yang saat ini di tatap dan di rasakan, seperti seketika semua menjadi terasa ringan yang berada di dada juga kepala.


Titan pun menaiki tangga menuju atap gedung sekolah tidak lama setelah Aera.


Berniat akan mengambil sepatu yang di jemurnya di atap gedung sekolah, karna basah karna ulah Aera pagi tadi.


Namun saat di atap gedung, Titan melihat Aera tengah terduduk,terlihat seperti sedang menikmati sajian yang di perhatikan dengan mengeser tatapan nya dari satu sisi ke sisi yang lain. Saat memiringkan wajah dengan posisi duduk yang membelakangi Titan, senyum Aera terlihat begitu indah di antara cahaya yang mengenai nya.


Aera menoleh saat menyadari ada seseorang tengah memperhatikan nya.


"Mmm"


Aera yang melebarkan tatapan nya dengan segera bangun menghampiri Titan.


"Lo ngapain disini?"


Tanya Aera yang sudah berada di hadapan Titan.


"UKS dan tempat ini punya lo?"


Titan yang menatap Aera dengan tatapan dingin tanpa ekspresi seperti biasa.


"Hah?"

__ADS_1


Singkat Aera, kembali melebarkan matanya, tidak memahami maksud dari pertanyaan Titan.


"Pertanyaan lo seakan akan lo yang punya tempat ini"


Jelas Titan, yang kemudian membelakangi Aera untuk mengambil sepasang sepatu hitam yang tergeletak.


"Ngga gitu, itu spontan gitu aja ngga ada maksud apa-apa"


Kali ini Aera menjelaskan, dengan memperhatikan Titan yang sibuk dengan sepatunya, sampai sengaja membelakangi Aera.


"Mmm.. itu sepatu yang pagi gua tumpahin minuman ya?"


Lanjut Aera memiringkan posisi nya, memperhatikan lebih dekat dengan apa yang tengah Titan lakukan.


"Gimana udah kering kan?"


Lanjut Aera.


"Sekali lagi gua minta maaf ya"


"Kalo ada orang tanya itu di jawab"


"Hhhh.."


Sia yang kemudian berbalik berbalik menjauh, kembali ke posisi semula.


Aera sudah menjauh Titan baru berbalik, kembali memperhatikan Aera yang kembali sibuk dengan tatapan nya.


Aera masih merasa kesal dengan dirinya yang baru saja terabaikan. Menguak kembali perasaan yang hari ini sudah berubah ubah entah untuk berapa kali, terlebih dengan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan.


Titan kembali turun dengan menenteng sepasang sepatu nya yang sudah kering, setelah beberapa saat tatapan nya terus saja menarik Titan untuk memperhatikan Aera.


Saat Aera berbalik memastikan, keberadaan Titan sudah tidak ada.

__ADS_1


"Bagus lah jadi adem"


Ucap Aera, kembali duduk merileksasikan perasaan nya.


Mengeluarkan handset dan handphone dari dalam tas, Aera memasang untuk mendengarkan lagu lagu kesukaan nya,menutup telinga dari suara bising nya Jakarta, dari sibuknya manusia bekerja dengan kendaraan yang melaju berlalu lalang di jalanan rami. berada di tempat ini dengan lagu yang didengarkan nya benar-benar menyenangkan terlebih dengan sinar matahari dan angin yang ikut bersamanya menjadi begitu tenang, hangat dan sejuk.


Untuk perasaan yang selalu lelah dan patah, menuang rasa dengan yang di suka perlu sesekali dilakukan. Terlalu sibuk dengan prasangka, pikiran dan usaha benar benar melelahkan dan membosankan, sering kali menjadi tidak sadar batin menjadi terluka.


Tidak perlu membuang waktu menunggu orang lain untuk memahami, sadarkan saja diri sendiri.


  


Sekelibat rindu datang untuk seseorang yang tidak pernah datang.


Angin yang memeluk seolah membawa rindu saat terlepas dari pelukan. Begitu menyedihkan waktu yang sudah begitu panjang berlalu rindu masih saja membeku.


Ingatan, jika di beri lupa mungkin tidak akan semenderita ini. Akan dengan mudah semua terabaikan berlalu dalam kenangan bernamakan masa lalu.


Dalam lamunan di antara rindu, bibir Aera tanpa tersadar menyebut sebuah kata.


"Ayah"


Tatapan kosong yang berkaca mulai meneteskan butiran air mata.


Air mata yang jatuh di pipi menyadarkan Aera dalam lamunan.


Dengan terkejut Aera segera mengusap tetesan air mata di pipinya.


Apa yang membuat nya menjadi begitu menyedihkan seperti ini, bukan kah sebelumnya baik baik saja, Aera terheran dengan yang baru saja terjadi.


Aera segera mematikan lagu dan melepaskan handset, dirasa lagu yang didengarkan nya terlalu menyedihkan sampai membuat nya terlarut dalam perasaan.


Area memejamkan mata diikuti dengan helain nafas. Membuka pejaman dan membuang tatapan nya begitu saja.

__ADS_1


Aera segera membereskan tas nya setelah dilihat jam pada handphone nya sudah menunjukkan pukul 15:00, itu artinya Aera sudah berada di atap sekolah 1 jam lebih dari bel pulang sekolah berbunyi.


Bergegas menuruni tangga dengan cepat.


__ADS_2