
Seperti pagi pada biasanya mba Ana bergegas membangunkan Aera, tetapi saat ingin membuka pintu kamar Aera pintu nya masih terkunci.
"Tok..tok.. Aera, Aera bangun..
Tok..tok Aera....."
Terus membangun kan Aera sampai ada jawaban.
Aera terbangun setelah didengar nya suara mba Ana. Bergegas membukakan pintu kamar dengan lesu nya.
Mba Ana menatap tajam mata Aera yang terlihat sembap. Hatinya ikut sakit melihat gadis di hadapannya menghabisi malam dengan sedih nya.
"Mandi siap siap ya, mba turun buatin kamu sarapan"
Memaksa bibirnya tersenyum di hadapan Aera.
"Aera sarapan disekolah aja mba, ada urusan soal nya"
"Mmmm, yaudah mba buatin susu aja ya"
Aera mengangguk tersenyum.
Bergegas mandi dan bersiap.
Notif pada handphone nya kembali berbunyi.
✉Azka😊
"Lusa sore gua jemput ya"
Aera kembali di buat senang sekedar dengan pesan masuk dari Azka.
"Mmm di tunggu :)"
Balas Aera dengan merekah senyum yang begitu lebar nya.
Menemui mba Ana dengan segelas susu putih yang sudah dibuatkan nya untuk Aera.
Aera tersenyum meski tidak seceria biasa nya. Duduk dengan menghabisi segelas susu.
Kembali bangun untuk bergegas.
__ADS_1
"Aera?" Panggil Mba Ana menghampiri Aera.
Aera menoleh tanpa bertanya.
Mba Ana menyodorkan sekotak bekal untuk Aera.
"Dimakan ya"
Aera menatap mba Ana, hati nya bergetar sudut matanya mulai berair.
"Makasih mba"
Mba Ana tersenyum, dengan satu tangan yang mengusap pipi Aera.
Aera memegang satu tangan mba Ana yang sedang mengusap pipi Aera dan menarik pelan untuk Aera dapat menggenggam nya.
"Jangan terlalu khawatir Aera ngga papa. Udah ya Aera berangkat"
Mba Ana mengusap tangan Aera yang sedang menggenggam satu tangan nya. Mengangguk tersenyum tipis sebelum dilepaskan tangan nya dari genggaman Aera.
Aera berlalu berangkat dengan bus seperti biasanya. Aera duduk di dalam bus di dekat jendela. Kali ini bus masih sepi belum begitu penuh karna masih pukul 06:20 masih sangat pagi sebenarnya untuk Aera berangkat sekolah. Aera hanya tidak ingin terlalu lama dirumah dengan hatinya yang masih terlalu ngap dirasa.
Sekolah masih terlihat sepi, didapati beberapa siswa itu pun yang memiliki jadwal piket hari ini.
"Brakkk.."
Tumpukan buku berantakan di hadapan Aera, Titan tanpa sengaja menjatuhkan nya.
Aera tanpa respon, masih dengan sandaran,pejaman dan lagu yang sedang di dengarnya. Sehingga tidak melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi.
Saat Titan menata tumpukan buku yang tergeletak berantakan, Aera membuka pejaman matanya dan memperhatikan nya sesaat sebelum kembali di pejamkan.
Titan bangun dengan tumpukan buku yang sudah tersusun kembali diantara kedua tangannya. Memperhatikan Aera sebentar.
Aera kembali membuka mata mempertemukan tatapan nya dengan Titan. Titan sadar dengan dirinya, gerogi dan juga malu terlebih dengan tatapan Aera yang menatap nya tanpa berkedip. Mengendalikan diri dan berbalik cepat melanjutkan langkahnya.
Aera melepaskan handset nya dan membungkukkan badan nya untuk memungut sebuah bolpoin yang tergeletak di bawah, yang Aera tau itu milik Titan.
Bangun dan membuntuti Titan niat nya ingin mengembalikan bolpoin, tetapi yang dilihat Aera Titan seperti terlihat canggung tidak seperti biasanya.
Titan berbalik dengan tiba tiba setelah sadar dirinya di ikuti.
__ADS_1
Aera terkejut dibuat nya.
Membuang tatapan nya sebelum akhirnya menatap Titan yang sedang menatap tajam Aera.
"Mmm...gua cuman mau balikin ini"
Aera menunjukkan bolpoin yang dipungut nya.
Titan ingin mengambil bolpoin tersebut tetapi kedua tangan nya sedang sibuk menahan tumpukan buku yang cukup banyak.
"Buat lo aja" Singkat Titan selalu dengan ekspresi datar di wajah nya.
Paham dengan Titan yang terpaksa memberikan bolpoin karna tangan nya yang tidak bisa mengambil nya. Aera mendekatkan posisi nya dengan menggeser kedua tangan Titan yang sedang menyangga tumpukan buku untuk Aera dapat memasukan bolpoin tersebut kembali ke kantong baju Titan seperti sebelumnya.
Aera kembali ke posisi nya semula, tersenyum menatap Titan.
"Jangan pernah kasih apapun itu ke orang lain, dimana lo masih membutuhkan nya"
Aera dengan kalimat yang begitu bijak nya.
"Jangan terlalu maksain diri lo, nanti bisa bisa setres aja"
Lanjut Aera menyodorkan wajah nya dengan tumpukan buku yang Titan bawa.
"Kalo gitu gua duluan"
"Eh satu lagi, lain kali jangan ngliatin orang tanpa sepengetahuan orang nya" Lanjut Aera setelah dengan beberapa langkah.
Titan mengehelai nafas dibarengi dengan senyum tipis nya.
Aera pergi ke toilet dengan wajah lesu nya. Mencuci muka setelah itu menatap seksama dirinya melalui cermin. Wajah yang belum di make up dengan baik lengkap dengan mata yang masih terlihat sembap karna kurang tidur.
"Selalu bisa buat bikin orang lain ngerti, tapi ngga pernah bisa buat bikin ngertiin diri sendiri! Apa yang salah coba?"
Pelan gretu Aera menatap dirinya, teringat dengan kata bijak, nasihat yang sela bisa disampaikan untuk membuat orang lain mengerti, tetapi tidak untuk nya.
Aera kembali dengan dirinya mengambil bedak untuk di pakaikan di wajah terutama di bagian kelopak matanya tidak lupa dengan lipstik yang di kenakan nya, di oles tipis di bibir Aera.
Hari tidak akan berhenti, terus berjalan seiring Tuhan mengarahkan.
Meski sering kali dibuat terjatuh, lantas dilukai atau di buat patah sekali pun bukan berarti Tuhan tidak menyayangi. Tuhan sekedar menguji.
__ADS_1
Di dunia ini segela sesuatu nya ada aturan nya.