
"ini uang nya"
Sodor Aera dengan uang 50 ribuan kepada supir taksi.
"Makasih"
Seru supir taksi, menatap Aera dengan tatapan aneh dan begitu canggung setelah tau dengan Aera yang minta diberhentikan disebuah pemakaman.
Aera masuk kedalam toko bunga, memperhatikan sekeliling sekedar mencari keberadaan Amel.
"Ka Aera ya?"
Seru Kaka nya Amel.
Aera tersenyum mengangguki nya.
"Iya saya tau nama Kaka dari Amel"
Lanjut kaka nya Amel menjelaskan.
"Amel nya dimana ya?"
Tanyakan Aera setelah dilihatnya Amel yang tidak berada di toko.
"Amel lagi keluar sebentar, tadi bilang mau mau beli pita"
"Ka Aera"
Seru Amel yang baru datang yang kemudian berlari dan memeluk Aera.
"Eh Amel!"
Seru Kaka nya Amel setelah dengan Amel yang memeluk Aera.
"Ngga papa"
Perjelas Aera kepada Kaka nya Amel, tersenyum begitu lebarnya.
Kaka nya Amel meninggalkan Amel dan Aera berdua, setelah percaya jika Amel tidak akan berulah dan untuk Aera sendiri pun tidak menjadi terganggu akan keberadaan Amel.
"Nih Ka Aera bawain bakpao buat Amel, ada rasa coklat dan stroberi"
Aera dengan menyodorkan satu kantong berisikan bakpao yang sudah dibelinya, memang berniat akan membelikan dan memberikan nya untuk Amel.
"Makasih banyak ya Ka Aera"
Amel dengan begitu ceria meraih kantong yang Aera sodorkan kepada nya.
Aera tersenyum mengangguki nya.
"Ka Aera mau beli bunga lagi ya?"
Tanyakan Amel dengan kedatangan Aera.
__ADS_1
Aera tersenyum kembali mengangguki.
"Ka Aera mau Amel yang buatin dua buket secantik kemarin, boleh?"
"Boleh dong ka, sebentar Amel buatin ya. Ka Aera bisa liat liat bunga bunga yang lain sambil nunggu Amel selesai"
Berada memperhatikan banyak nya hamparan bunga bunga yang tertata beraneka ragam dengan banyak nya warna, benar benar indah.
"Apa di surga ada bunga sebanyak dan seindah ini"
Gumam Aera dalam batin nya.
Setelah beberapa saat Amel menghampiri Aera dengan dua buket bunga yang sudah selesai dirancang dan dibungkus nya.
"Cantik banget ini, Amel"
Seru Aera terkagum melihat cantiknya buket dengan beberapa jenis bunga yang disatukan dalam setiap buket nya.
"Kalo buket kali ini apa artinya?"
Tanya Aera memastikan, setelah dengan kemarin bunga yang Amel buatan untuk nya dengan arti yang berada didalam nya. Kali ini pun Aera mengira sama seperti sebelumnya.
Amel tersenyum menggelengkan kepala.
"Ngga ada arti khusus buat buket ini ka, ini sengaja Amel buat dan rancang sesuai dengan keindahan yang nantinya menjadi satu. Mungkin kalo ingin diberikan arti, maka artinya ceria, seperti Amel dan ka Aera sekarang. Meski Amel tau dibalik keceriaan Ka Aera tidak berada ketulusan didalam nya, karna semua hanya pura-pura"
Aera melebarkan tatapan nya setelah dengan apa yang Amel katakan. Ada beberapa kalimat yang sudah didengarkan nya dari Amel. Kata kata yang kadang tidak terpikirkan oleh orang dewasa malah berada dipikirkan gadis berusia 15 tahun, dan bukan sekedar dipikirkan nya tapi berani berbicara dan menyampaikan nya.
Tanyakan Aera, menjadi tidak percaya jika Amel benar berusia 15 tahun dengan cakap nya dalam berbicara.
"Mmm, bener ka aku 15 tahun"
Mengangguki dengan apa yang Aera tanyakan kepadanya.
Aera tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya.
"Yaudah kalo gitu ka Aera pergi ya, Makasih dengan rangkaian bunga nya kali ini, cantik banget"
Pamit Aera kepada Amel sebelum beranjak pergi.
Amel tersenyum mengangguki.
"Iya ka, makasih juga ya buat bakpao nya. Ka Aera hati hati"
"Dah ka Aera"
Dengan lambaian tangan yang Amel lambaikan kepada Aera yang berlalu pergi.
Baru beberapa langkah keluar dari toko bunga, Aera memudarkan senyuman diwajahnya menjadikan ekspresi serius yang saat ini berada diperlihatkan.
Dikira Aera pemahaman akan dirinya baru ada setelah dengan ucapan, kata kata, atau setidaknya dengan kejadian yang terjadi, baru akan ada orang-orang yang mengerti dan memahami dirinya. Harus dengan kesalahan yang berada diketahui nya baru seseorang mau menjadi mengerti dan memahami. Amel menjadikan nya terharu, dengan kata kata yang beberapa kali di ucapkan dan mengena pada hatinya.
Aera kembali bergegas pergi ke makam mba Ana. Berada hampir sampai di pemakaman langkah nya kembali dibuat berhenti akan keberadaan seseorang di makam mba Ana. Perempuan yang tengah tertunduk dengan seragam sekolah yang sama dengan yang Aera kenakan.
__ADS_1
Setelah dikenali akan siapa perempuan itu, Aera terpaku diam berada untuk memperhatikan nya.
Seseorang itu menoleh saat disadari akan dirinya yang tengah di perhatikan.
"Aera"
Seru seseorang itu, Sia.
Berada saling mempertemukan tatapannya satu sama lain, Aera menghampiri Sia.
"Kenapa lo disini?"
Tanya Aera, dengan Sia yang berada di di depan makam mba Ana dengan seragam sekolah yang dikenakan nya.
Aera yang tidak ingin masuk sekolah karna menghindari nya malah harus dibuat bertemu di pemakaman.
"Gua cuman mau nemuin mba Ana sebentar, karna gimana pun juga dia udah baik banget sama gua"
"Udah selesai kan?"
Tanya Aera, pertanyaan yang akan langsung di pahami oleh Sia dengan apa maksudnya.
Bukan sekedar jauh tapi Aera seolah tidak ingin akan setiap keberadaan dirinya menjadi ada di hadapan nya dalam pandangan nya. Sia menyadari akan itu.
Sia mengangguki dalam tatapan sendu yang tidak pernah terlihat, tetapi kali ini Aera dapat melihat nya dengan sangat jelas.
Siapa yang berada menjadi salah, dan untuk Aera harus seperti apa menghadapi nya?
Sebenarnya tidak ingin menjadi seperti sekarang ini dengan Sia. Tapi bagaimana lagi hati yang patah karna nya belem membaik sama sekali. Hanya saja walau sudah begitu Aera tidak menyalahkan Sia, karna itu dia semakin terpuruk atas semua hal yang berada dengan menyalahkan dirinya sendiri.
"Kalo ini terlalu rumit, terlebih buat menghadapi gua yang labil dengan perasaan gua sendiri, dan bahkan memperkeruh hal yang udah rimit menjadi lebih rumit lagi. Jadi lepasin gua, biarin gua berada ditempat gua sendiri. Semua yang ada kita bisa sama sama menganggap itu adalah mimpi yang indah. Jangan salahin diri lo atas semua nya, atas gua. Ngga sepenuhnya salah lo, sekalipun ada yang pantas buat disalahkan itu adalah gua"
Ucap Aera dengan kalimat nya yang panjang.
"Gimana bisa lo ngomong se'enak itu, Aera. Gua terpukul tersiksa dengan apa yang udah gua lakuin ke lo. Rasa nya setiap detik saat ini dipenuhi dengan rasa bersalah atas apa yang udah gua lakuin"
Sia yang semula bungkam hanya dengan kata maaf dan maaf yang dapat disampaikan kali ini akhirnya Sia mampu mengatakan setidaknya dengan seperti apa yang dirasakan nya.
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Dan itu yang terjadi sama kita sekarang. Kalo maaf yang lo minta, gua udah maafin lo Sia. Kesalahan, atau sekedar kesalah pahaman yang kemarin ngga sebanding dengan banyak hal yang udah lo kasih ke gua. Kalo lo tanya kenapa gua jadi beda itu karna pada akhirnya, gua tetep akan pergi. Dan kepergian gua nanti gua ngga mau sampai bikin lo terluka. Apapun yang menjadi pilihan gua, gua harap lo ngga akan menyalahkan diri lo sendiri seperti sekarang ini"
Perjelas Aera dengan air mata yang kembali jatuh, terbungkus sekedar meletakkan satu bunga di dekat papan nama mba Ana.
"Karna Sia yang gua kenal jauh lebih kuat dari banyak nya perempuan yang pernah gua kenal"
Lanjut Aera, yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Sia.
Sia jatuh berada dengan sanggaan kedua lututnya. Tertunduk dengan tangisan nya.
"Kenapa kita jadi seperti sekarang, Aera"
Gumam Sia dalam tangis, masih berada di depan makam mba Ana.
Berada terdiam dengan sekelibat hal yang berada singgah dalam kepala nya. Sia bangun dengan kedua lutut nya yang menjadi kotor, dan mengejar Aera.
__ADS_1