
Sudah berada di halte untuk menunggu bus, Aera membuka handphone setelah terdengar notif pesan masuk.
✉ Indirasia
"Dimana? Udah pulang? Apa masih di sekolah? Mau gua jemput ngga?"
Aera tersenyum membaca pesan masuk dari Sia, tidak ada yang lucu tapi aneh nya Aera merasa senang, beranggapan telah di perhatikan.
"Ngga, udah di jalan, nanti malem aja jemput kita ke warung nya mba Wati"
Aera segera membalas pesan Sia masih dengan senyum yang merekah di wajah nya.
Aera segera menutup handphone setelah bus datang.
Dalam bus dilihat Aera padat dengan penumpang,tempat duduk pun sudah penuh di duduki.
Membuat Aera kali ini atau sering kali harus berdiri dan mengaitkan tangan nya di atas pegangan di langit bus. Bergelantungan dan bahakan sering kali berdesak desakan. Namun ini yang unik untuk Aere tidak menyenangkan namun masih banyak yang meminati, alasan nya sederhana karna terpaksa atau kebutuhan, alasan lain nya terlalu beragam.
Yang dicintai namun tidak dibutuhkan malah yang sering kali terabaikan.
Setelah beberapa saat bus melaju beberapa notif pesan masuk di handphone Area kembali berbunyi.
Aera membuka pesan dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri tetap berpegang kencang menjaga keseimbangan.
✉Indirasia (2)
"Berduaan aja atau ajak Fina?"
"Jam 8 gua samper harus udah rapih ngga mau tau, ngga ada nunggu lama! Liatin aja sih sampe ngaret!😡"
Aera kembali dibuat tersenyum bahkan kali ini tawa tercipta di wajah cantiknya di tengah desak desakan nya berada dalam bus.
Saat akan membalas pesan, tiba tiba bus mengerem secara mendadak sampai seorang ibu dengan tidak sengaja mendorong Aera yang tengah memainkan handphone.
Dan akhirnya..
Prak..
Handphone Aera terlepas dan jatuh terseret jauh dengan bus yang kembali melaju.
Aera menatap tajam kearah handphone nya terjatuh, tertutup rapat di antara kaki para penumpang, membuat Aera kesulitan untuk melihat dimana keberadaan handphone nya.
Dengan cepat Aera berbalik di antara perasaan nya yang sudah sangat kesal.
Seorang ibu yang tengah menggendong anak nya yang masih kecil, yang dengan tidak sengaja mendorong Aera. Ibu tersebut sudah menatap dengan ketakutan, seperti pasrah menunggu reaksi Aera.
__ADS_1
Aera yang dengan cepat mereda kesal dan emosi nya, mengurangi senyum dengan tatapan hangat yang menatap ibu tersebut.
"Ngga papa ko Bu"
Tidak akan ada artinya harga handphone tersebut dengan rasa bersalah dan ketakutan yang saat ini sedang dirasakan ibu tersebut. Aera memahami nya.
"Saya ngga sengaja, tadi pegangan saya terlepas untuk membenarkan posisi anak saya"
Ibu tersebut menjelaskan dengan raut wajah yang masih ketakutan.
Aera tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
"Saya juga salah ko Bu, megang handphone nya kurang kenceng, jadi kelepas deh"
"Saya minta maaf ya neng"
Aera mengangguki masih dengan tersenyum.
Bus berhenti, beberapa penumpang turun termasuk ibu tersebut.
"Saya sudah sampai neng, semoga handphone nya masih bisa ketemu, sekali lagi maaf ya"
Pamit ibu tersebut sebelum berbalik untuk turun.
"Hati hati Bu"
Setelah menyaksikan ibu tersebut turun Aera kembali berbalik dengan menunundukan tatapan nya, kembali mencari keberadaan handphone nya tetapi tidak mudah karna benar benar masih padat dengan penumpang, sedangkan Aera harus turun di halte berikutnya.
"Uhhhhhh"
Aera menghelai nafas,pasrah. Ekspresi di wajahnya sudah kembali jengkel. Tidak menyalahkan ibu tersebut hanya kesal saja rasanya kehilangan sesuatu yang penting.
Sekilas terlihat pria yang tengah tersenyum memperhatikan Aera.
Namun di abaikan nya, benar-benar menjadi tidak berselera untuk menanggapi sekeliling.
Setelah beberapa saat bus kembali berhenti, Aera turun melangkahkan kaki yang dirasa berat, dengan beberapa kali menengok kebelakang tempat handphone nya menghilang.
Aera membuang tatapan nya, untuk fokus kedepan memaksa hati nya untuk mengabaikan,kembali bergegas.
Seseorang mengejutkan Aera dengan tepukan tangan nya pada pundak Aera.
Aera yang terkejud berpaling dengan cepat memastikan. Seorang pria tampan dengan rambut cukup panjang dengan model belah tengah.
"Iya?"
__ADS_1
Aera yang menatap asing tanpa ekspresi.
Pria tersebut tersenyum dengan manis nya, begitu tampan.
"Punya lo kan?"
Dengan menyodorkan sebuah handphone.
Aera tercengang dengan begitu senang, meraih sebuah handphone yang jelas adalah milik nya. Aera tersenyum senang menatap pria tersebut dengan handphone yang sudah berada di genggaman nya.
"Ko bisa?"
Bukan nya berterimakasih Aera malah bertanya memastikan.
"Handphone lo mendarat di kaki gua, tadi mau gua balikin tapi aga sempit buat nyamperin lo nya"
Jelas pria tersebut dengan gaya bicara nya yang santai dengan senyum yang sering kali di ikut sertakan dalam bicaranya.
Aera masih tersenyum begitu senang.
"Makasih, Makasih banget, soal nya ini penting banyak privasi nya, ngga tau kalo sampe di salah gunain sama orang gimana jadinya?"
Pria tersebut hanya mengangguki tersenyum begitu memukau, menyejukkan Aera yang menatap nya.
Aera dengan girang mengulurkan tangan nya.
"Gua Aera"
Tidak ada salahnya bukan perempuan lebih dulu mengajak pria untuk berkenalan, terlebih dengan pria tampan yang sudah menolong nya.
Pria tersebut seketika melebarkan tatapan nya menatap uluran tangan Aera, yang kemudian tersenyum dengan sedikit tertawa memperlihatkan deretan giginya mengalihkan tatapannya untuk menatap Aera dengan meraih tangan Aera untuk berjabat tangan dengan nya.
"Gua Azka"
"Azka"
Panggil Aera setelah selesai berjabat tangan.
"Kalo gitu gua cabut ya, lain kali hati hati, jangan maen handphone juga di tempat umum takut ada orang iseng juga"
Azka memberikan saran sekaligus berpamit sebelum beranjak pergi.
Aera melebarkan senyum dengan sesekali memperlihatkan deretan giginya.
Azka kembali tersenyum yang kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Aera menyaksikan Azka pergi sampai cukup jauh Azka berlalu, tertunduk senang dengan handphone yang kembali ke genggaman nya.