
Terus menjadi khawatir dengan Aera yang berada ditinggal dirumah seorang diri. Mama memutuskan untuk segera pulang, lebih awal daripada biasanya. Semua kesibukan, kerjaan terabaikan dipercayakan mama kepada karyawan nya.
Saat ini tidak ada yang lebih penting dan berarti selain Aera untuk tetap baik baik saja. Hanya dirinya yang saat ini dimiliki Aera, jika tetap sibuk dengan pekerjaan nya maka Aera akan terabaikan. Keterabaikan nya dapat menjadikan Aera semakin berada terpuruk, dan hal diluar logika yang bisa saja Aera lakukan.
Mengendarai mobilnya dengan cepat.
Saat sampai didepan rumah, mama berlari masuk.
"Aera"
Seru Mama saat berada masuk, meletakkan tas nya di sofa ruang tamu dan berlari mencari keberadaan Aera. Mendengar mesin cuci yang tengah menggiling, mama langsung menghampiri, mengira jika Aera tengah berada di tempat cucian.
"Aera"
Kembali berseru dengan tempat cucian yang tidak di dapati keberadaan Aera, hanya ada mesin cuci yang tengah menggiling pakaian.
Beranjak kesamping kebagian dapur, saat berada masuk langkah nya terpaku kaku sampai mama jatuh kehilangan keseimbangan, terlemprak duduk begitu saja. Begitu lemas, dada yang menjadi sesak dan seketika menjatuhkan air mata. Keberadaan darah dimana mana dengan sebuah pisau yang berada di lantai benar-benar membuat mama terkejud. Berprasangka setelah dengan apa yang dilihat nya, itu yang menjadikan mama tersesak, ketakutan seperti sekarang ini.
Mama bangun dengan dibantu tangan nya yang terkaitkan di sebuah meja.
Berlari mencari keberadaan Aera saat ini, dengan tubuhnya yang sempoyongan.
"Aera.. Aera"
Seru Mama sembari menaiki tangga dengan lemas nya.
Berada sampai dikamar Aera dan dilihat nya Aera yang tengah mencari cari sesuatu dilaci.
Brkk..
Mama kembali terjatuh mengelemprak duduk.
Saat berada menemui kotak P3K nya Aera menoleh dengan cepat saat ada suara yang didengar nya.
"Mama"
Seru Aera terkejud dengan keberadaan mama yang terduduk dilantai.
"Mama kenapa?"
Tanya Aera memastikan, saat keberadaan nya sudah berada di hadapan mama.
"Kamu, kamu baik baik aja? Kamu ngga akan nglakuin hal yang ngga ngga kan"
Seru Mama dengan panik nya, meraba dan memperhatikan Aera dari ujung kepala sampai kaki.
"Ini kenapa?"
Setelah dilihat mama dengan jari telunjuk Aera yang terluka dan masih meneteskan darah.
"Hhhhhh...."
Aera menghelai nafas dengan panjang dengan begitu pelan nya.
Ada yang berada dipikirkan sampai menjadikan batin nya bergumam.
"Kenapa harus diperlihatkan dengan Mama yang menjadi sekhawatir ini akan sesuatu yang bisa saja terjadi atau Aera lakukan"
Sudah tau dengan Mama sekhawatir dan setakut ini akan kehilangan dirinya, lantas harus seperti apa Aera menanggapi nya.
"Aera ngga papa ko ma"
Tersenyum Aera dengan lebarnya.
"Ini tuh tadi cerita nya Aera mau bikin sayur sop pake tutorial di internet gitu, cuman pas lagi motong kentang kena jari Aera"
Dengan Aera yang menceritakan semuanya.
"Hhhh..."
Menghelai mama dengan lega nya, akan prasangka dan ketakutan yang tidak benar adanya.
"Yaudah kita obatin dulu ya"
Mama bangun dari duduk nya membawa Aera untuk ikut duduk di atas tempat tidur dengan Mama yang mengobati luka nya.
"Mama ko jam segini udah pulang?"
Aera yang menoleh ke arah jam dinding sembari dengan jari tangan yang tengah di obati mama.
"Mama ngga bisa tenang ninggalin kamu dirumah sendirian"
Jelas Mama apa adanya, memaparkan secara jelas kekhawatiran nya kepada Aera.
"Kenapa mama takut banget Aera kenapa- kenapa?"
Dengan Aera yang menatap mama dengan sorotan sendu penuh arti.
"Pertanyaan macam apa itu, Aera"
Seru Mama mengalihkan tatapannya sesaat dari jari tangan Aera yang tengah di obati untuk Mama menatap kedua mata Aera.
"Iya karna kamu anak mama, putri mama. Tersisa kamu, dan cuman kamu yang mama punya saat ini. Mama sayang sama kamu Aera"
Perjelas mama, dengan mengusap tangan Aera begitu lembut setelah selesai mengobati jari Aera.
__ADS_1
Aera terpaku diam dengan penjelasan mama. Berada terfikirkan dengan niat dan perasaan mama saat ini, bercampur aduk tidak karuan.
Mama memeluk Aera dengan erat, sembari mengusapi rambut Aera yang terurai panjang.
"Mama ngga mau kehilangan kamu, Aera"
Perjelas mama didalam pelukan nya.
"Bukan kah adakalanya kasih sayang itu berada melepaskan satu sama lain untuk dapat bahagia"
Ungkap Aera dalam pelukan mama.
"Itu kan adakalanya, buat untuk setiap hal nya. Untuk hubungan ibu dan anak jika keduanya ingin bahagia maka kedua nya harus berada tinggal bersama, menyayangi satu sama lain. Bukan melepaskan salah satunya, jika begitu bagaimana bisa bahagia"
Perjelas mama dengan panjang nya, menguraikan apa yang berada menjadi seharusnya.
Aera terdiam, mengeratkan pelukannya.
"Aera sayang sama Mama"
Mama tersenyum dengan lebarnya.
"Mama juga sayang sama kamu Aera"
"Kita lanjutin masak, dan nyuci nya ya. Mama bantuin dan ajarin ke kamu"
Lanjut Mama tersenyum setelah melepaskan pelukannya dari Aera.
Aera tersenyum lebar, mengangguki.
Kebersamaan manis selalu saja menciptakan puing demi puing kebahagiaan yang perlahan dapat mengembalikan apa yang telah hilang atau sekedar hancur. Tapi sayangnya Aera belum mengerti itu. Mungkin karna tempramen nya yang masih labil jadi masih berada sering terkoyak. Saat saat tidak terduga Aera menjadi marah, menentukan kenyataan hanya berdasarkan prangska dan pemikiran nya. Setelah itu memutuskan pilihan akan apa yang dilakukan selanjutnya.
Aera dan Mama menyucui bersama, menjemuri bersama.
"Brttt..."
Dengan baju yang akan di jemur di kebutkan untuk mengeluarkan sisa-sisa air pada baju, juga agar baju tidak terlalu kucel saat kering nanti.
"Mama"
Seru Aera yang terkena cipratan nya.
Keduanya menjadi tertawa dengan ramai, menyenangkan.
Setelah selesai menjemur pakaian keduanya beralih ke dapur untuk memasak.
"Ini semua kamu yang potong?"
Tanya mama dengan memperhatikan satu wadah berisikan bahan bahan yang sebelumnya sudah selesai Aera potong.
Aera tersenyum mengangguki.
Mama tersenyum mengangguki dengan ekspresi yang berbeda.
"Rapih sih, cuman gede gede banget motongin nya"
Perjelas mama dengan jujurnya.
"Masa segini kegedean ma?"
Aera yang kembali memperhatikan nya, dirasa ukuran nya sudah pas.
"Emang nya kamu mau makan kalo Segede ini potongan nya?"
Aera tersenyum, tercengir menggelengkan kepalanya.
Keduanya kembali tertawa dengan ramai, menikmati kebersamaan, keseruan yang diciptakan keduanya saat ini.
Akan kebersamaan, hal yang menyenangkan dirasakan adalah rasa hangat dan manis nya.
Aera tersenyum memperhatikan mama dengan apa yang sudah dilakukan sampai saat ini.
Begitu pun dengan Mama yang tersenyum memperhatikan Aera, selalu menjadi lega setiap kali memperhatikan Aera tersenyum dan menjadi ceria seperti sekarang ini. Andai setiap waktu setelah semua yang ada Aera terus dapat menjadi ceria seperti sekarang ini.
Masih berada menjadi takut dan khawatir, atas apa yang dilihat nya dan dengan apa yang diperlihatkan Aera kepadanya adalah hal yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dirasakan didalam hatinya. Menjadi takut dengan Aera yang menyembunyikan, menutup nutupi banyak hal dari nya.
Terlintas keinginan tidak masuk akan, akan dirinya yang berharap dapat membaca pikiran dan mendengarkan isi hati Aera disaat ini dan di saat saat tertentu. Dengan begitu mama tidak lagi perlu menerka, menebak nebak apa yang berada di hati dan pikiran Aera.
"Tada...."
Seru Mama tersenyum begitu manis setelah dengan banyak menu yang tersaji di atas meja makan. Setelah cukup lama keduanya berada di dapur.
"Waw.."
Tersenyum dengan menatap penuh hidangan di atas meja.
"Aera jadi laper mah"
Seru Aera dengan memegangi perutnya.
"Kalo gitu kita makan sekarang ya, biar mama ambilin buat kamu"
Mama yang kemudian menyediakan satu piring di isikan dengan semua menu yang berada di atas meja.
Aera memakan nya dengan sangat lahap setelah dengan piring yang mama sodorkan kepada nya.
__ADS_1
"Mmm.. enak banget ma"
Setelah dengan suapan yang dirasakan nya, rasanya benar enak dengan cinta yang juga Aera rasakan didalam rasa makanan nya.
Mama tersenyum senang dengan Aera yang selalu suka dengan setiap masakan yang dibuatkan nya.
"Lain kali ajarin Aera lagi ya ma"
Seru Aera ditengah mulutnya yang menggembung dengan makanan yang tengah dikunyah.
Mama tertawa melihat Aera yang berbicara dengan mulut penuh nya.
Menjadikan suara yang diucapkan Aera menjadi terdengar lucu dan menggemaskan.
"Iya iya nanti mama ajarin kamu masak biar bisa lebih jago dari Mama"
Dengan tawa yang reda sembari mengangguki nya.
"Mm biar bisa sejago mama dan mba Ana"
Ucap Aera setelah dengan suapan terakhir nya.
Terpaku diam dengan seseorang yang dianggap nya masih ada, dengan keadaan yang sama. Ucapan nya sendiri, kata katanya sendiri yang kali ini menjadikan perasaan tidak senang kembali dirasakan nya. Menjadi murung di hadapan mama saat ini.
"Aera? Kamu ngga papa sayang?"
Tanya Mama setelah beberapa saat memperhatikan Aera terdiam.
Menatap Aera dengan perasaan yang juga tidak menyenangkan. Bagaimana tidak ternyata Aera masih berada didalam keterpurukan nya.
Aera tersenyum dengan mengangguki.
"Aera baik baik aja ko. Biar Aera yang cuci piring ya"
Lanjut Aera bangun dari duduknya dan menata piring piring kotor untuk dibawanya kedapur.
"Mm"
Mama mengangguki, memberikan Aera dengan kesibukan dengan begitu tidak ada waktu untuk Aera menangis kembali.
Sembari sibuk mencuci piring air mata nya berjatuhan diantara ekspresi wajah yang begitu tenang.
Setelah menyelesaikan cucian piring nya Aera masih diam di tempat, Hany berbalik agar dirinya dapat bersandar.
"Hhhh.."
Kembali menghelai, helaian kesekian kali yang dihembuskan nya atas rasa sesak atau rasa tidak baik nya.
Mengusap air mata yang berada dipipinya sebelum beranjak keluar.
Saat langkahnya akan pergi untuk kembali kekamar, seruan mama menghentikan nya.
"Aera"
Seru Mama yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Duduk sini"
Lanjut Mama setelah dengan Aera yang menoleh menatap nya. Menepuk nepuk bagian sofa yang berada disampingnya untuk Aera duduk.
Aera tersenyum menghampiri, duduk disamping mama.
"Mama ngga istirahat?"
Setelah berada duduk dan menyandarkan kepalanya di pundak mama.
"Masih terlalu sore untuk istirahat"
Seru Mama sembari mengusapi kepala Aera.
Aera tersenyum dengan pejaman matanya sesekali, merasakan kenyamanan berada bersandar dan usap mama dengan begitu lembut nya.
"Ma?"
Seru Aera dalam pejaman nya.
"Mm?"
Singkat mama.
"Kalo ada saat dimana nanti Aera buat Mama kecewa gimana?"
Tanyakan Aera atas hal yang mendasari nya.
Mama terdiam, melebarkan tatapannya memahami dengan pertanyaan Aera.
"Ya mama akan menjadi kecewa, terluka dan mungkin juga terpuruk. Tapi setelah nya mama akan maafin kamu"
Aera membuka pejaman mata dan bangun dari sandaran nya, berada menatap mama.
"Mama bisa pastikan itu? Mama bisa janji sama Aera? Dengan hal semengecewakan apapun mama akan selalu maafin Aera?"
Seolah berada memanfaatkan waktu dan situasi, akan apa yang mungkin saja terjadi setelah ini.
Mama mengangguki, berada menatap Aera.
__ADS_1
"Karna bagaimanapun kamu adalah anak mama, dan Mama sayang sama kamu. Mama percaya dengan hal yang mungkin nanti nya dapat mengecewakan. Itu karna kamu punya alasan, entah karna lalai, atau memang dengan pilihan kamu sendiri. Setidaknya setelah itu kamu juga dapat belajar dan memperbaiki nya"
Tersenyum Aera dengan tatapan berkaca, memeluk mama dengan sangat erat nya.