Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
124


__ADS_3

"Ninu..ninu..ninu..ninu.."


Ambulan datang dan segera membawa Aera masuk untuk diberikan pertolongan oleh tim medis di dalam ambulan dengan Aera yang sudah kehilangan kesadaran.


Banyak nya peralatan di pasangkan di tubuh Aera, dengan kain kasa yang di tekankan petugas di bagian kepala Aera yang terus mengeluarkan banyak darah.


Ambulan semakin kencang setelah salah satu petugas menginformasikan detak jantung pasien mulai melemah.


"Aera sayang. Mama mohon nak bertahan ya, yang kuat. Mama ngga akan maafin diri mama sendiri kalo sampe terjadi apa apa sama kamu nak"


Seru Mama dalam tangis ketakutan nya, sembari memegangi tangan kanan Aera dipegang nya dengan begitu erat.


Aera kembali sadar membuka mata sudah tidak tersisa tenaga yang di miliki nya. Sekedar tersenyum menatap mama yang tengah memperhatikan dengan pipi yang di basahi air mata.


"Aeraaa.."


Seru Mama lirih dengan deru tangis dan dengan senyum yang diperlihatkan untuk membalas senyuman Aera.


"Bertahan ya, Aera. Sebentar lagi kita sampe dirumah sakit"


Rasanya Aera ingin mengangguk, mengiyakan mama dengan dirinya yang akan tetap bertahan. Tapi Aera diam, Aera takut jika pada akhirnya tidak dapat bertahan.


Karna dirasakan Aera malam sudah berada dekat untuk nya. Malam yang meminta Aera untuk tidak lagi berada sepanjang malam. Tapi meminta Aera untuk terlelap beristirahat, tidur untuk waktu yang panjang. Dan jika benar malam itu tiba, seperti nya tidak akan lagi ada matahari yang terbit, tidak ada akan lagi sorot cahaya yang begitu terang untuk membangunkan nya.


Aera kembali berucap dengan satu nama yang ingin di sebutkan nya. Sekedar memberitahu mereka, untuk tidak menunggu kedatangan nya. Karna Aera takut tidak akan sempat untuk datang menemui nya.


Semua terguncang ramai dengan ketakutan akan prasangka yang sudah dekat dengan nyata dengan takdir yang akan terjadi.


"Apa sayang? Kamu mau ngomong apa?"


Tanyakan mama dengan bibir Aera yang terucap tanpa suara yang didengar nya.


Mama memasang telinga untuk menjadi dekat dengan bibir Aera, agar mendengar apa yang di katakan nya.


"Si_ a"


Ucap Aera begitu lirih.


"Sia?"


Tanya Mama memastikan.


Aera memejamkan mata dan mengangguki pelan.


"Mama telfon Sia sekarang ya"


Aera kembali mengangguki.


Mama merogo handphone dari dalam tas nya, dan segera menelfon Sia.


"Hallo Sia"


Seru Mama setelah dengan telfon yang di angkat nya.


"Hallo Tan? Tente sama Sia dimana? Ko dari tadi belom sampe?"


Lanjut Sia dengan crocos nya. Sudah lebih setengah jam Aera pergi untuk menjemput mama tapi belum juga kembali ke cafe. Sedangkan Sia masih begitu gembira dengan memandangi brosur dan tiket untuk kepergian ke Swiss untuk ke empat nya.


Ada yang dirasakan menjadi sangat menyenangkan, Swiss yang terkenal dengan keindahan alam nya dan dengan keindahan itu yang nantinya akan di nikmati bersama ketiga sahabatnya.


"Aera kecelakaan Sia"


Lanjut Mama dengan hisak tangis nya.


"Tante?"


Seru Sia terpaku diam memucat, masih belum dapat memahami ucapan mama barusan, entah dengan telinga nya yang salah mendengarkan atau dengan mama yang salah mengucapkan. Tapi dadanya mulai dirasa sakit dengan hisak tangis mama yang di dengar nya. Menjadikan ketidak mungkin atas ini yang hanya sekedar candaan.


Titan Azka memperhatikan Sia dengan ekspresi dan sorot mata yang sudah begitu berbeda.


"Tante beneran Sia. Sekarang tante sama Aera sedang di ambulan mau kerumah sakit Danman"


Perjelas Mama lebih detail.


Begitu lemas sampai seolah Sia kehilangan tenaga nya, sampai tangan yang tengah memegang handphone pun teruntai sampai menjatuhkan handphone nya ke lantai.


Seperti tengah diam dan baik baik saja tapi tiba tiba di bekam sampai sulit untuk bernafas, menjadi sesak dan sakit dalam dadanya.


"Kenapa Sia?"


Tanya Azka sembari meletakkan tangan nya untuk berada di punggung Aera.


Tubuh lemas Sia menjadi gemetar dan menjatuhkan air mata nya.

__ADS_1


"Kenapa Sia"


Lanjut Titan ikut menjadi sangat penasaran dengan Sia sampai menjatuhkan air matanya. Sosok kaku dan keras seperti Sia dapat meneteskan air mata seperti ini, dirasa begitu asing dan hal yang baru untuk Titan. Karna ini adalah kali pertama untuk dirinya melihat Sia menangis.


Sia menoleh menatap Azka setelah nya Titan, kemudian membungkam mulut untuk menahan deruan tangis yang histeris. Air mata tumpah dengan begitu deras nya.


"SIA! JANGAN DIEM AJA!"


Sentak Titan menjadikan firasat buruk dirasakan nya terlebih dengan Sia seperti sekarang ini.


"Titan, ngga perlu gentak Sia kaya gitu"


Seru Azka yang tengah merangkul dan mengusapi Sia, menenangkan dengan apa yang juga tidak di pahami nya.


Sia menahan tangis nya sesaat, membuka bungkaman tangan nya agar Aera dapat berbicara, mengatakan yang sebenarnya.


"Aera masuk rumah sakit, dia kecelakaan"


Kembali membungkam mulut nya, dengan tangis yang semakin histeris setelah memberi tau kepada Titan dan Azka.


"Sia? Ini ngga lucu?"


Seru Titan sudah dengan matanya yang merah, lemas juga sesak.


Sedangkan Azka ternganga, terkejud juga tidak percaya dengan yang Sia katakan barusan.


"LO PIKIR GUA AKAN BERCANDA DENGAN HAL KAYA GINI, GUA JUGA PUNYA OTAK!!"


Sentak Sia berteriak dengan emosi nya, terluap akan kemarahan atas apa yang mengacaukan dirinya.


"Hhhhhh.."


Helai Titan dengan hembusan nya yang panjang.


Tertunduk tidak tau dengan ini yang benar terjadi kepada Aera.


"Terus dimana dia sekarang?"


Tanya Titan bangun dari duduk nya dan meraih kunci mobil yang semula berada di atas meja.


"Rumah sakit Danman"


Jelas Sia yang juga ikut bangun dari duduk nya di ikuti oleh Azka.


Lanjut Sia.


Ketiganya bergegas, dengan Titan yang melaju sangat kencang tidak lagi menghiraukan apapun. Terkecuali untuk satu tempat di sisi jalanan yang berlumuran darah dan di dapati beberapa polisi dan orang orang yang meramaikan. Titan menginjak rem nya begitu saja diantara lajuan kencang sebelumnya.


Ketiga nya tertegun terpaku memperhatikan banyak nya darah di atas aspal.


"Aera"


Seru Titan yang kemudian melaju lebih kencang dengan mata yang sebelumnya memerah kali ini mulai menjatuhkan air matanya.


Aera sampai dan di bawa ke ruang UGD dan segera di tangani dokter dan banyak nya suster yang ikut membantu nya. Segala peralatan di pasangkan di tubuh Aera untuk membantu Aera tetap bertahan dan dokter sibuk menghentikan pendarahan di kepala Aera.


Aera kembali terpejam dengan tubuh yang tengkurap dengan dokter yang tengah menangani pendarahan di kepala bagian belakang.


Terpejam dengan sisa sisa kesadaran yang masih dirasakan nya.


"Tuhan... karna sudah memberi saya kehidupan dengan begitu banyak kesempurnaan, akan fisik dan akan akan banyak hal nya. Saya bersyukur dapat melewati semua sampai detik ini. Dengan banyak hal didalamnya, begitu rumit jika kembali dijelaskan.


Dan detik ini seolah waktu yang dimiliki hampir hampir habis di ujung waktu yang sudah Tuhan tentukan. Jika benar ini akhirnya, itu artinya Aera tidak dapat mengucapkan selamat tinggal kepada orang orang yang disayangi nya. Semoga jika benar berakhir, akan ada kesan yang baik untuk mereka yang di tinggalkan dan di lepaskan nya.


Elektrokardiogram (EKG) adalah tes sederhana untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung.


Salah satu alat yang juga di gunakan dokter kepada Aera. Setelah Aera kehilangan kesadaran nya alat nya berbunyi.


"bip...bip..bip..bip.."


"Dok, detak jantung pasien semakin melemah"


Seru salah seorang suster yang mengatur Elektrokardiogram.


"Bipppppppp..."


Berbunyi dengan panjang nya.


Suster menggelengkan kepala, memberikan tanda kepada dokter nya.


"Hhhhh..."


Helai dokter menjadi pasrah.

__ADS_1


"Tante!"


Teriak Sia berlari menghampiri mama dengan di ikuti yang lain nya.


Mama tengah memondar mandir dengan panik dan ketakutan nya. Tidak ada hentinya doa dan harap yang di panjatkan nya.


Sia memeluk mama dengan erat untuk beberapa saat.


"Gimana keadaan Aera sekarang tan?"


Tanya Sia setelah melepaskan pelukannya.


"Begitu banyak darah yang keluar, terus mengalir"


Jelas Mama dengan tangisan nya.


Sia, Titan dan Azka melihat itu, melihat baju mama yang di penuhi dengan darah. Ketiga nya pun ingat dengan asal yang di genangi begitu banyak darah.


"Sekarang dokter sedang menangani nya. Bukan sakit yang Aera katakan, tapi takut. Ketakutan yang dirasakan Aera"


Mengutarakan banyak hal kepada Sia dan dua lain nya, Titan dan Azka.


"Aera akan baik baik aja kan Tan?"


Tanya Titan sudah tangisan nya. Azka merangkul Titan untuk menguatkan nya, meski dirinya juga ikut terpukul dan sesak yang di rasakan nya. Tapi apa yang di rasakan nya tidak seberapa dengan yang Titan rasakan.


"Dokter sedang menangani nya sekarang, sudah cukup lama tapi dokter belum juga keluar"


Setelah semua terpaku diam dengan ketakutan dan panjatan doa yang terus di ucapkan.


Dokter keluar dengan beberapa suster yang ikut di belakang nya.


"Bagaimana dok? Aera baik baik saja kan?"


Seru mama dengan begitu tegang nya.


"Saya minta maaf tapi pasien tidak dapat tertolong"


Seru dokter menjelaskan dengan perasaan bersalah nya. Meski sebenarnya bukan salah nya, tapi setiap ada kegagalan akan nyawa seseorang yang pada akhirnya tidak dapat tertolong itu menjadikan ada nya rasa bersalah yang di rasakan nya.


"Brkkk..."


Mama terjatuh tergelemprak di lantai dengan tangis yang begitu histeris.


"AERA!!"


Teriak mama dengan tangis yang tumpah sepenuhnya.


"Ngga, ngga, ngga mungkin dok!"


Sia menggeleng gelengkan kepala dengan tangisan yang ikut tertumpah akan kenyataan yang di dengar nya ini.


Titan mencengkram baju dokter dan meluapkan kemarahan nya.


"ANDA KAN DOKTER! LANTAS BAGAIMANA MUNGKIN ANDA TIDAK DAPAT MENYELAMATKAN NYA!!"


"TITAN!! LEPAS!"


Sentak Azka menarik tangan Titan dari baju dokter yang tengah di cengkram nya.


Suasana kacau dipenuhi kemarahan dan tangis kesedihan. Tidak percaya dengan tempat di mana mereka saat ini berada dan dengan seseorang yang saat ini tengah terbaring dengan seruan dokter yang mengatakan nya sudah tidak dapat tertolong. Yang itu artinya Aera tidak lagi bernyawa.


Dan semua nya menjadi histeris dengan tangisan nya.


"Pendarahan yang terjadi di kepala pasien sangat parah, darah terus bercucuran ditengah menghentikan pendarahan pasien tidak dapat terselamatkan. Saya sudah melakukan semampu saya, dan saya minta maaf"


Perjelas Dokter yang kemudian berlalu meninggalkan keluarga pasien untuk menghindari perlakuan kasar terhadap dirinya.


Pada akhirnya semua terpuruk dengan luka dan kesedihan nya masing masing. Untuk Sia kesedihan akan apa yang terjadi kepada Sia adalah mimpi buruk yang tidak pernah dibayangkan nya sama sekali.


Dalam tidur panjang nya Aera terbangun dan berada di tempat yang sama saat dirinya bertemu mba Ana saat itu, di antara rerumputan yang di penuhi dengan banyak nya ilalang.


Aera tampak cantik dengan gaun putih yang dikenakan nya. Berada seorang diri tengah menatap langit senja yang mulai kembali ketempat nya.


"Aera?"


Aera menoleh setelah dengan seruan yang terdengar dari belakang.


Didapati keberadaan mba Ana tersenyum begitu cantik menghampiri nya.


"Mau pergi dan jalan jalan sama mba?


Tawar mba Ana setelah di hadapan Aera dan menggandeng satu tangan Aera.

__ADS_1


Aera tersenyum begitu lebar, mengangguki dengan penuh bahagia.


__ADS_2