Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
14


__ADS_3

Aera di antar pulang oleh Sia.


"Lo balik hati hati"


Aera yang telah turun dari motor dengan mengembalikan helem kepada Sia.


"Mmm. Masuk sono lu, pagi gua samper ngaret gua tinggal sih"


Sia dengan ocehan nya.


"Ya"


Judus Aera


Yang kemudian tersenyum menatap Sia.


"Udah gih sana, Sia pulang nya hati hati ya, kalo ada apa apa langsung kabarin"


Ucap Aera dengan begitu manis.


Sia tercengang, menatap Aera tanpa ekspresi.


"Jijik"


"Udah ya"


Lanjut Sia yang kemudian melaju.


Lenyap dari pandangan, Aera berbalik dan menatap seseorang yang tengah berdiri dengan kembali menutup pintu mobil yang sempat dibuka nya.


Seorang pria yang Aera kenali.


Ekspresi senang seketika memudar.


"Baru pulang Ra?"


Sapa pria yang tengah berdiri di hadapan Aera, tidak begitu dekat jarak keduanya hanya saling mempertemukan tatapan nya.


Aera menarik paksa bibinya untuk tersenyum.


" Om Adnan juga? Baru anterin mama?"


Ucap Aera ramah dengan maksud.

__ADS_1


Om Adnan seorang pria yang belum lama ini Aera kenal. Rekan bisnis penjelasan saat mamanya mengenalkan nya.


Dan dari pertama kali mengenal nya Aera memang sudah tidak menyukai, ada yang tidak menyenangkan dari cara nya menatap seseorang, terlebih dengan gayanya, kedekatan nya dengan Mama, dan kebiasaan  yang sering kali mengantar mama pulang tengah malam. Dirasa alasan dan penjelasan Aera cukup untuk tidak menyukai bahkan untuk membeci pria di hadapannya yang bernama Adnan.


Adnan tersenyum sinis, dengan mengangguki pertanyaan Aera.


"Aera? Masuk!"


Mama yang ternyata masih di depan pintu. Menyadari Aera saat Adnan merespon keberadaan Aera.


Aera melewati Adnan dengan tatapan sinis penuh ketidak sukaan. Yang kemudian melewati mama yang tengah sibuk memperhatikan Adnan.


"Dari mana?"


Singkat mama, tepat di belakang Aera.


Aera berbalik, menarik kedua sudut bibirnya.


"Aera habis keluar ma, maen sama temen temen Aera"


Mama yang kemudian menoleh menatap jam di dinding, pukul 00:30.


"Main?"


Singkat mama setelah mengembalikan tatapannya kepada Aera.


Jelas Aera.


Mama hanya mengangguk, membuang tatapan nya yang kemudian melangkah meninggalkan Aera.


"Ma?"


Panggil Aera berbalik.


Mama ikut berbalik menatap Aera, menunggu dengan apa yang akan di katakan nya.


"Mumpung mama lagi senggang, Aera mau sampein pesen dari walikelas Aera, kalo lusa ada rapat walimurid dan guru Aera mau ketemu sama Mama"


Jelas Aera dengan cepat, tidak ingin terlalu banyak membuang waktu yang di anggap berarti untuk Mama nya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Mama tersenyum tipis dengan mengangguki ucapan Aera, yang kemudian kembali berbalik dan benar benar berlalu meninggalkan Aera.


Mba Ana menghampiri Aera, senantiasa dengan senyuman dan tatapan nya yang hangat.

__ADS_1


"Aera,udah makan, mau mba siapin?"


Aera tersenyum membalas ikut menatap nya dengan hangat.


"Aera udah kenyang mba, mba ko belom tidur, nungguin Aera ya"


"Mmmm?" Mba Ana yang melebarkan tatapan nya.


"Mba tuh kebangun, kebelet. PD kamu (percaya diri)"


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Kirain, udah Aera mau naik, mba lanjutin istirahat nya"


"Mau dibikinin minuman dulu ngga?"


Aera menggeleng cepat masih dengan tersenyum.


"Ngga usah Mba, good night mba"


"Good night Aera"


Sering kali sayang dan peduli nya seseorang salah dalam penyampaian sehingga terkadang malah di salah artikan yang akhirnya mematahkan pertahanan, perjuangan atau kuat nya seseorang.


Semoga cuek nya mama, dan sibuknya adalah bentuk dari perjuangan untuk perasaan sayang nya. Akan sangat patah dan hancur jika semua prasangka di pikiran Aera menjadi nyata adanya.


Aera memanjatkan doa dan harap saat akan tertidur. Ada satu doa dan harapan yang sama di setia malam nya. Selalu membuat air mata menetes saat di ucapkan nya.


"Tuhan, Aera bukan orang yang baik, tapi boleh Aera meminta penjelasan untuk setiap perkara dan kekeliruan yang ada di hidup Aera. Aera lelah terus menerka dan mengira. Aera mungkin tidak akan siap untuk penjelasan yang menyakitkan, tetapi Aera juga tidak bisa terus diam mengabaikan. Tuhan..."


Ucap Aera dengan tatapan hampa, bicara dalam hatinya.


18 tahun keberadaan nya masih menjadi tanda tanya, penjelasan kosong yang belum sama sekali Aera mengerti. Tuhan yang sedang menguji nya atau Tuhan sedang marah karna suatu kesalahan.


Sering kali diam dan lamunan nya membuat nya bertanya, dari mana harus dimulai?


Bertahan, sendiri benar benar seorang diri. Sesekali banyak diantara mereka yang datang sekedar menepi. Bukan datang untuk menguatkan, memberi perlindungan apalagi untuk memberi jawaban, semua di tutup rapat. Untuk mereka yang benar benar tinggal pun sering kali mengabaikan, bahkan sesekali sampai ikut mematahkan. Rasanya bukan hanya takdir saja yang terlalu kejam tetapi seisi dunia pun seolah ikut menjauh meninggalkan.


Semoga ada hari dimana semua tertuang nyata.


semoga akan ada hari itu hari dimana semua berada pada tempat yang indah tempat dimana semua bukan rekayasa atau keinginan belaka tapi benar-benar ada dan nyata.


Setiap langkah lelah hari ini semoga mengantar kan ketempat tujuan, tempat yang di dambakan.

__ADS_1


Semoga kesemogaan ini tidak lagi patah, seperti yang sudah sudah.


Tanpa seseorang yang benar-benar menuntun, Aera akan mencapai tempat yang sebenarnya tempat seharusnya Aera berada. Sudah terlalu lama bukan berarti selamanya. Begitu pun untuk hari hari yang kemarin dan hari ini jalani, besok menjadi berbeda.


__ADS_2