
Aera memasuki kelas dan duduk dengan meletakkan kepalanya di atas sanggaan tangan nya, rasa nya benar-benar ngantuk.
Titan terus saja memperhatikan Aera.
Sia datang menghampirinya, menarik kursi untuk duduk di hadapan Aera. Memperhatikan Aera yang tengah tertidur di atas sanggaan tangan nya tidak menyadari kehadiran Sia.
"Ra"
Sia dengan melambaikan tangan nya di hadapan wajah Aera.
Aera masih tertidur pulas tanpa merespon nya.
Sia menarik kedua sudut bibirnya dan keluar pergi meninggalkan Aera.
Tidak lama setelah nya pelajaran pertama dimulai dengan pelajaran matematika yang di ajar guru galak bernama Bu Ega.
"Selamat pagi"
Sapa Bu Ega dengan memperhatikan satu persatu.
"Pagi Bu"
Jawab serentak siswa 12 Akuntansi 1.
Tatapan Bu Ega terhenti pada Aera yang masih saja terlelap tidur di atas sanggaan lengan tangan nya.
"Hallo"
Bu Ega dengan mengetuk ngetuk meja Aera.
Aera mengangkat kepala dengan lesu, masih dengan tas di pundak nya.
"Kamu tertidur di jam saya?"
Bu Ega tanpa ekspresi di wajahnya.
"Maaf Bu saya ketiduran, pelajaran ibu baru akan dimulai kan? Berarti saya tidak tidur di jam ibu"
Jelas Aera tidak bersemangat.
"Saya sudah berada di kelas kamu masih tidur, bukan begitu?
Bu Ega yang mulai menatap tidak suka kepada Aera.
"Mmm"
Singkat Aera mengangguki.
Memilih diam dan mengalah, dirinya sedang tidak baik baik saja akan jauh lebih kacau jika Aera tetap meladeni Bu Ega yang nanti akan meluap emosi nya.
"keluar!"
Singkat Bu Ega menunjuk pintu keluar kepada Aera.
Aera bangun membuang tatapan nya dari Bu Ega dan berlalu keluar begitu saja.
Aera pergi ke kantin, mengambil dua kaleng soda dari dalam kulkas dan membayar nya. Dilihat Aera Fina yang tengah duduk sendiri.
Aera menghampiri dan duduk begitu saja tanpa bersuara.
Fina melebarkan tatapan nya menatap Aera, terlihat tampak pucat, sayup dan mata nya yang terlihat sembap.
"*Ngapain lo?"
"Duduk kan*"
Setelah menenggak soda yang dibawanya.
"Lo kenapa? Baik baik aja"
"Ngantuk Fin"
Di ikuti dengan mulut Aera yang menganga menguap lebar nya.
"Lo ngga salah, minum soda banyak gitu"
Fina yang memperhatikan dua kaleng soda di hadapan Aera.
Aera menggelengkan kepalanya dengan kembali meminum soda.
"Lo kenapa ngga masuk kelas?"
Aera yang memperhatikan Fina.
"Ngga papa, males aja"
Aera kembali menggeletakan kepala nya di atas meja dengan memejamkan matanya.
Fina hanya memperhatikan, ada yang tidak biasa dari Aera yang saat ini di hadapan nya.
__ADS_1
"Cerita aja Ra kalo ada apa apa"
Aera mengangkat kepalanya melebarkan tatapan nya tersenyum dengan memperlihatkan giginya.
"Baik banget sih. Tapi gua ngga papa ngantuk doang ko"
"Gua mah emang baik. Kalo ngantuk tidur aja di UKS"
Fina dengan tersenyum.
"Ngga ah disini aja"
Aera yang kembali menggeletakan kepala nya.
Sekali lagi ada yang khawatir dan memberikan tempat untuk Aera bercerita.
Jangan terlalu lama menjadi seseorang yang membutuhkan tempat berkeluh-kesah, Aera pun ingin menjadi tempat untuk yang lain nya bersinggah dan bercerita.
Aera pergi ke atap sekolah setelah menghabiskan waktu berbincang dengan Fina.
Di atap sekolah Aera termenung membendung air mata yang seolah sudah begitu penuh di tahan nya.
Rasanya lelah begitu mengantuk ada yang menjadi sesak di dalam dadanya.
Kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu jauh lebih buruk dari mimpi mimpi pada malam nya.
Aera menutupi wajahnya penuh dengan kedua telapak tangannya tersedu sedu dengan tangisan dan air mata yang menetes deras.
Titan menghampiri, sudah hampir sedari tadi dirinya berada di belakang Aera dan memperhatikan.
"Aera"
Titan dengan menoleh menatap Aera dengan jelasnya.
Aera terpaku dengan suara yang memanggil. Membuat suara tangisan nya sejenak terhenti membuka telapak tangan nya sekedar untuk memastikan.
"Titan"
Aera yang menyapu tetesan air mata yang masih menggenang dan membasahi pipi dan bahkan wajah nya.
"Lo kenapa?"
Dengan Titan yang sudah berada di hadapan Aera.
Aera tersenyum tipis dengan rasa pusing yang dirasakan dengan kepala Aera.
"Brug.."
Titan terkejut, mendekatkan dirinya dan menepuk pelan pipi Aera.
"Aera bangun,Ra..Aera?
Titan menggendong Aera membawanya ke UKS. Banyak siswa yang menyaksikan Titan yang bergegas cepat dengan menggendong Aera.
"Lo nyariin Aera?"
Dengan Sia yang baru saja keluar dari kelas Aera dan berpapasan dengan Ezy yang akan masuk ke kelas.
"Iya, lo liat ngga?"
Dengan posisi keduanya yang menjadi berhadapan.
"*Pingsan sampe di gendong Titan ke UKS"
"Serius lo*"
Ezy mengiyakan mengangguki nya.
Sia dengan cepat berlari pergi ke UKS untuk memastikan Aera dengan rasa khawatir nya.
Sampai di UKS Sia menatap Aera yang tengah berbaring pucat tidak sadarkan diri.
"Aera kenapa dok?"
Sia dengan lemasnya.
"Aera cuman kecapean kurang tidur dan terlalu banyak pikiran, sebentar lagi akan sadar ko"
Jelas dokter kepada Sia dengan di dengarkan oleh Titan yang masih berada di ruangan.
"Aera ko bisa pingsan gini, kenapa?"
Tanya Sia kepada Titan.
Titan menggelengkan kepala dengan ekspresi datar nya.
"Gua sampe dia lagi nangis dan tiba tiba pingsan gitu aja"
"Mm thanks ya, sekarang lo bisa pergi gua ngga mau orang nanti nya ngomong yang ngga ngga, cuman karna lo ngegendong Aera"
__ADS_1
Titan mengangguki memahami maksud dari Sia dan berlalu pergi.
Ruang UKS menjadi sepi tersisa Aera dan Sia. Aera tersadar membuka matanya dan menatap Sia.
"Aera?"
Sia dengan lebih dekat kepada Aera.
Aera memperhatikan Sia dengan lemas nya.
"Lo kenapa bisa sampe pingsan? Dokter bilang lo kecapean dan kurang tidur. Emang nya lo ngapain?"
Dengan detail nya Sia bertanya, khawatir.
"Nanti aja kenapa nanya nya kepala gua masih pusing Sia"
Sia membiarkan Aera yang kembali terpejam. Sia duduk memperhatikan Aera di ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Aera.
Seperti sedang di didik dengan hebatnya.
"Semoga setelah ini akan jauh lebih baik ya Ra"
Gumam Sia dengan pelan.
Sesaat diantara banyak waktu yang kita miliki tempat yang semula kita kenali dan begitu akrab tiba-tiba menjadi tempat dimana kita dapat tersesat.
Ada yang di pahami dari tiga tahun bersahabat dengan Aera.
Perempuan cantik yang ceria tapi memiliki banyak hal yang ditutup rapat dalam bungkam nya. Sering kali dengan emosi yang tidak terkendali bentuk dari rasa tertekan nya karna menjadikan semua nya seorang diri.
Sia keluar meninggalkan Aera sebentar sekedar membelikan dua bungkus roti dengan dua botol minuman.
Saat kembali Aera sudah kembali bangun dengan duduk di atas ranjang bersandar di dinding.
Aera tersenyum begitu manisnya setelah Sia membuka pintu dan menatap nya.
"Ko ngga jadi tidur, gua udah minta izin sama walikelas lu ko"
Sia dengan menghampiri Aera.
"Laper"
Singkat Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Iya tau, tadi lo tidur aja perut lo berisik banget jadi gua beliin ini deh"
Sia dengan memberikan satu bungkus roti kepada Aera.
"Roti doang, satu lagi? Kaya ngasih anak bocah deh lo Sia"
Aera kesal memperhatikan sebukus roti yang sudah berada di tangan nya.
"Mau ngga? kalo ngga mau ngga maksa gua mah"
Sia dengan judes nya.
"Is"
Aera yang membuka roti dan menatap pasrah.
Sia ikut duduk di samping Aera, bersebelahan dengan sama sama bersandar di dinding dan sama sama menikmati sebungkus roti di dalam ruang UKS yang saat ini sedang di tinggali nya berdua.
"Hal apa yang tidak menyenangkan buat lo Ra"
Sia tanpa menatap Aera dengan ekspresi serius yang diikuti sedikit senyum di wajahnya.
Aera tersenyum mendengar pertanyaan Sia. Seseorang yang tau bagaimana Aera akan bercerita, sekedar pertanyaan "lo kenapa" itu tidak akan menjadi kan Aera ingin terbuka dan bercerita. Tidak semua orang yang bertanya adalah orang yang benar-benar peduli.
"Menjadi tidak berarti apa apa"
Aera kembali ingat dengan ucapan mama setelah menampar nya.
"Hidup dan ngga berarti apa apa?"
Sia kembali bertanya dengan sedikit tertawa menatap Aera.
"Terus kenapa lo hidup? Kenapa Tuhan ciptain hamba nya tanpa memberikan arti apa apa"
Lanjut Sia dengan serius.
"Mungkin karna suatu kesalahan"
Aera dengan mempertemukan tatapan nya dengan Sia.
"Kesalahan sekalipun tidak menjadikan seseorang tidak berarti apa apa selagi dia dapat membenarkan kesalahan nya"
"Tapi kalo kita ngga tau dimana kesalahan itu berada?"
"Lo tinggal ikuti kemana takdir membawa lo, jangan jadi orang yang terkesan paling menyedihkan. Di luar sana banyak yang jauh lebih menyedihkan dengan banyak kesalahan saat mereka terlahirkan. Tapi mereka bisa bahagia bisa menikmati hidup nya bisa merasa berarti untuk dirinya."
__ADS_1
Aera meneteskan air mata saat mendengar kan Sia, di usap nya saat air mata menetes di pipi.
Aera terdiam tidak lagi membalas ucapan Sia, dan menyenderkan kepalanya di pundak Sia.