Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
70


__ADS_3

"Thanks ya Tan"


Ucap Aera setelah di antar pulang dengan keduanya yang sama sama turun dari mobil dan saling berhadapan.


"Mmm, lain kali jangan kaya tadi ya"


Titan dengan ekspresi dingin seperti biasa.


"Hhhh..."


Aera menghelai tawa dengan apa yang Titan katakan. Ingat dengan Aera yang sempat dibuat mabok sekedar mencoba cocktail.


"Mmm"


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya dengan mengangguki.


Titan tersenyum tipis memperhatikan Aera tanpa mengedipkan matanya, tertuju dengan begitu tajamnya.


"Kenapa?"


Dengan Titan yang menatapnya tidak biasa.


Titan kembali tersenyum tipis menggelengkan kepalanya, dan kembali tertuju menatap Aera.


"Yah gimana lo ngga suka sama gua, kalo cara lo ngeliatin nya aja kaya gini"


Aera yang ikut memperhatikan Titan sama tajam nya dengan di ikuti senyum yang masih terurai begitu ceria.


Hati yang semula patah bersama dengan Titan dapat di tahan dan diredam rasa sakitnya dengan keberadaan dan kebersamaan nya bersama Titan.


"Karna lo tau apa yang buat gua jatuh cinta untuk pertama kalinya dari lo?"


Tanya Titan tidak mengalihkan sedikitpun pandangan nya dari Aera.


Aera tersenyum melebarkan tatapannya dengan pertanyaan Titan. Pertanyaan yang sedikit membuat jantung nya berdetak tidak biasa.


"Tatapan dan senyuman lo"


Aera kembali tersenyum dengan lebarnya.


"Kenapa tatapan gua indah dan senyuman gua manis, gitu?"


"Lebih dari pada itu Ra"


"Bersyukurlah lo bisa menikmati nya"


"Akan jauh lebih bersyukur kalo gua bisa tinggal dan berteduh di hati lo"


Keduanya terdiam saling menatap satu sama lain dengan tajam dengan serius nya.


"Gua balik ya"


Pamit Titan setelah menyadarkan dirinya setelah terpaku diam memperhatikan Aera dengan irama jantung yang kencang.


"Mmm, hati hati"

__ADS_1


Aera yang kembali tersenyum.


Titan melaju hilang dari pandangan Aera dengan sesuatu yang dirasakan patah mulai dirasa kembali sakit dan kecewa nya.


Sebelum berbalik ataupun beranjak Aera menoleh kekana dan kiri berharap akan ada seseorang yang datang.


Aera merebahkan tubuhnya dengan prasangka yang kembali berada di antara langit langit kamar nya yang berkedip dengan lampu tumblr yang Aera nyalakan. Kecewa, prasangka tidak dikira akan berada untuk Azka. Tetapi Aera masih memaksa hati dan pikirannya untuk tetap berfikir positif karna Azka yang Aera kenal bukan seseorang yang akan dengan sengaja melukai seseorang.


Aera memejamkan matanya diberangi hembusan nafas nya. Ingin terlelap dalam tubuhnya yang dirasa lelah juga dengan kepala yang masih sedikit dirasakan pusing. Tanpa lebih dulu mengganti atau sekedar mencuci muka Aera benar benar terlelap dalam tidurnya.


Sia sadar terbangun tengah malam dengan segala rasa sakit yang masih benar-benar dirasakan nya. Sia menoleh dengan Azka yang tertidur di sampingnya. Sia tersenyum senang dengan apa yang Azka lakukan untuknya.


Lagi pula Sia celaka karna hilang fokus saat melihat keberadaan Azka yang tidak jauh di hadapannya. Melihat nya saja sudah membuatnya hilang kendali bagaimana dengan keduanya yang saat ini tengah begitu dekat dalam ruangan yang hanya ditinggali berdua, degup jantung Sia dirasa akan meledek dengan hebatnya. Jika sedang tidak sakit akan berjingkrakan dengan begitu senang.


"Apa salah kalo perasaan ini ada?"


Tanya Sia dengan memperhatikan rambut Azka. Azka yang tertunduk dengan meletakkan kepalanya di ranjang tampat tidur Sia dengan posisi wajah yang membelakangi.


Setelah selesai mandi Aera keluar didapati handphone nya yang bergetar.


"Tante Yan"


Seru Aera dengan nama yang tertera di panggilan masuk.


"Hallo Tan?"


Aera menempelkan handphone setelah tersambung.


"Sia kecelakaan Ra, sekarang dirawat dirumah sakit Medit"


Aera melebarkan tatapannya dengan seketika tatapan nya menjadi berkaca-kaca dengan sesak yang seolah menyerang dadanya dengan sangat tiba tiba.


Seperti ada benda tajam yang tiba tiba menusuk tajam hatinya, terkejut, takut juga khawatir.


"Terus keadaan Aera sekarang gimana Tan?"


"Alhamdulillah baik baik aja, ngga perlu ada yang dikhawatirkan"


"Hhhhhh..."


Aera menghelai nafas lega setelah dibuat  sangat lemas.


"Syukurlah kalo gitu Tan, Aera langsung kerumah sakit ya"


Tut..


Aera bergegas mengenakan baju mengeringkan rambutnya, berlari cepat. Dengan ojek yang lewat di depan rumahnya Aera pergi diantar kerumah sakit.


Sampai di depan rumah sakit Aera masih saja berlari dengan rasa khawatir yang tengah mengguncangnya. Meski tante Yan mengatakan Sia baik baik saja tetap saja rasanya belum lega sepenuhnya jika belum memastikan nya sendiri.


Takdir masih belum mengijinkan semua terungkap. Dengan Aera yang hampir sampai tetapi Azka keluar, keduanya berselingan tetapi tidak berpapasan.


Aera mendorong pintu ruangan Sia dengan srabak srubuk begitu saja.


"Hhhhh...hhh.. hhhh.."

__ADS_1


Aera mengendalikan nafas yang hampir habis dirasakan nya, benar benar ngap. Sudah dengan perasaan lega dengan Sia yang tengah duduk disuapi bubur oleh Tante Yan.


"His ngeselin banget deh lo Sia"


Aera dengan perasaan kesalnya. Jantung nya dirasa hampir berhenti berdetak jika Sia terluka lebih parah dari pada ini. Khawatir nya benar-benar tidak dapat di kendalikan nya. Dunia yang ditinggali nya akan benar benar berhenti berputar apabila sesuatu yang buruk dari pada ini terjadi.


"Lo kenapa Ra, berantakan gitu"


Tanya Sia memperhatikan dengan Aera yang tampak lelah dan berantakan.


"Nanya lagi lo gua kenapa"


Tegas Aera kesal namun di tahan nya ingat dengan keberadaan tante Yan.


"Ngga papa Ra omelin aja biar kapok anak nya"


Tante Yan yang memahami lirikan juga senyuman Aera kepadanya.


"Asal lo tau aja gua sampe naik ojek lari larian dengan perut kosong pas tau lo kecelakaan dada gua sampe sesek banget rasanya"


Jelas Aera kesal dengan matanya yang mulai berkaca.


"Yaela alay banget lu, lagi tumbenan aja perhatian"


"Emang mau sakit mau ngga kalo emang dasar nya tuh mulut begitu yaudah susah"


"Us us sayang sini sini peluk"


Sia dengan manis nya membuka kedua tangannya untuk Aera berada dalam peluknya.


"Mmmm.."


Aera memeluk Sia dengan erat nya dalam  pelukan nya Aera menyubit perut Sia dengan kencangnya.


Sia menahan sakit tetapi saat akan di lepas perlukan nya dengan Aera malah ditahan lebih erat.


"Temen gua baru aja pergi Ra"


Jelas Sia setelah tidak lagi dengan pelukan keduanya.


"Temen yang mana?"


Tanya Aera memastikan.


"Tetangga gua itu loh, dia yang nolongin dan jagain gua semalem"


Jelas Sia dengan menceritakan Azka.


"Yaudah lah, lagi ini lo kenapa bisa sampe kecelakaan kaya gini"


Keduanya menikmati obrolan yang ditinggali Aera dan Sia didalam ruangan.


"Meleng lagi bawa motor terus ngga tau kalo di depan nya ada mobil jadi gini deh"


Jelas Sia dengan cengirnya, menceritakan akan kecerobohan yang menyebabkannya sampai celaka.

__ADS_1


__ADS_2