Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
98


__ADS_3

Setelah berada semalaman memejamkan mata tanpa tertidur menjadikan banyak hal berada dipikirkan Aera sepanjang malam.


Aera beranjak bangun membuka hordeng jendela menyiapkan pakaian, dan pergi untuk mandi.


Dalam kucuran air yang membasahi tubuhnya air mata nya ikut berjatuhan. Pikirnya mba Ana tidak akan tau jika Aera kembali bersedih, menangis, merindukan nya, jika kesedihan nya tertumpah tidak menjadi terlihat dan tertera.


Setelah berada keluar dengan kimono handuk dan rambut basah yang tergerai Aera beranjak menyalakan lagu dengan sepeker nya tidak dengan handset yang biasa dikenakan nya.


Sebuah lagu Katelyn Tarver ' You Don't Know'.


Dengan duduk di tempat tidur menghadap kaca jendela membiarkan cahaya matahari berada menyilaukan matanya, menyinari, mengenai dan memeluk dirinya.


Beberapa waktu setelah lagu diputar nya Aera ikut bersenandung ikut menyanyikan nya.


🎵


So let me just give up


Biarkanlah aku menyerah


So let me just let go


Biarkanlah aku pergi


If this isn't good for me


Jika ini tidak baik untukku


Well, I don't wanna know


Yah, aku tak ingin tahu


Let me just stop trying


Biarkan aku berhenti mencoba


Let me just stop fighting


Biarkan aku berhenti berjuang


I don't want your good advice


Aku tak ingin nasihat baik mu


Or reasons why I'm alright


Atau alasan kenapa saya baik-baik saja


Dengan arti yang dipahami menjadi kan mata yang kecoklatan yang berada dipenuhi sinar matahari kembali menjadi berkaca dengan singkat kacaan itu menjatuhkan air mata nya.


Dengan cepat Aera mengusap pipinya, menarik paksa kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Hhhhhh..."


Sampai akhirnya Aera menghelai nafas. Berada menahan kesedihan dengan air matanya hanya menjadikan sesak dan sakit dalam dadanya.


Aera menumpahkan semua kesedihan dan air matanya, menangis terhisak hisak seperti yang sudah sudah.


Mama yang sudah berada di depan pintu kamar Aera dengan membawa senampan sarapan untuk Aera menahan diri untuk tidak mengetuk pintu kamar Aera, mengajak Aera berbicara, memberikan penjelasan dengan kejadian yang terjadi tadi malam.


Terdiam mendengar kan senandung lagu dengan di ikuti tangisan Aera yang menderu. Menjadikan mama ikut meneteskan air matanya, ikut menjadi sakit dan sesak.

__ADS_1


Mama berbalik pergi membawa nampan yang berada dalam sanggaan nya.


"Jika mba Ana mau Aera tetap bertahan buat Aera lupa mba, lupa dengan semuanya. Tapi jika mba mau Aera tetap berada mengingat dan mengenang semua maka biarkan Aera berhenti dan menyerah membawa semua kenangan dan ingatan ini"


Keinginan gila yang sudah berada beberapa kali dalam benak Aera untuk mengakhiri hidupnya menyusul keberadaan mba Ana dan Ayah di atas sana.


Berada turun dengan pakaian yang sudah rapih di kenakan dengan rambut yang sudah kering tergerai.


"Aera"


Seru Mama akan keberadaan Aera yang baru saja dilihat nya turun dari tangga.


Aera menghentikan langkahnya, tanpa menoleh menatap mama.


"Aera mau pergi, ngga perlu khawatirin Aera"


"Nak kasih mama waktu sebentar ya buat Mama bisa jelasin semua nya"


Minta mama dengan memperhatikan pundak Aera.


"Kenapa ma?"


Aera yang akhirnya menoleh menatap mama dengan tatapan yang menjadi berbeda.


"Kenapa baru ada penjelasan disetiap kali Aera tau mama bohongin Aera? Kenapa mama baru mau berbicara ketika Aera udah kecewa? Kenapa mama selalu terlambat untuk memberikan sesuatu yang seharusnya ada, yang seharusnya Aera butuhkan"


Dengan nada suara yang menjadi lebih besar dengan tatapan kecewa menatap mama.


"Kenapa ma? Segitu sibuk nya Mama sampai ngga ada waktu buat memperjelas semuanya, atau segitu ngga berarti nya Aera buat Mama?"


Lanjut Aera menjadikan kedua matanya kembali menggenang kacaan kesedihan.


"Ngga gitu nak, ngga gitu Aera. Semua terjadi gitu aja, ngga ada maksud dan niat sedikit pun buat bikin kamu kaya gini. Kamu berarti buat Mama sayang"


Aera yang akhirnya menjatuhkan kacaan air matanya.


Mama melangkah maju, mengulurkan kedua tangannya menghampiri Aera.


Tetapi Aera menghindar, memundurkan langkahnya menjauhi mama.


"Aera harus pergi ma, sekali lagi ngga perlu khawatirin Aera. Aera akan baik baik aja"


Jelas Aera sebelum berbalik, berlari pergi meninggalkan mama.


"Aera"


Seru Mama pelan, saat Aera masih berada dekat.


"Aera!"


Teriak mama saat Aera benar benar pergi meninggalkan nya.


Mama menjatuhkan dirinya tertunduk dalam sesal nya, menangis meratapi semua.


Yang berada jauh sebagai masa lalu akan kesalahan yang berada sampai akhirnya berimbas mengenai hari hari saat ini, dan bahkan akan mengenai hari hari berikutnya.


Ketakutan, prasangka yang ada saat itu menjadikan mama bungkam dan membiarkan semua berada, terbuka, nyata dengan sendirinya. Sampai semua terungkap adanya, dunia menyalahkan nya, sesal dan rasa terpukul pun berteriak menyalahi diri nya.


Aera berlari keluar membawa tangisan nya. Langkah nya terhenti akan keberadaan seseorang yang berada di tidak jauh di hadapannya.


"Aera"

__ADS_1


Seru Caca menghampiri Aera.


Aera menoleh, memalingkan wajahnya sekedar menghapus jejak jejak air mata di pipi nya.


"Caca"


Sapa Aera tersenyum tipis.


"Lo baik baik aja?"


Tanya Caca dengan mengulurkan satu tangan kanan nya sekedar untuk memegangi lengan Aera.


Aera tersenyum mengangguki nya.


"Gua baik baik aja Ca"


"Gua turut berduka cita, sama semua yang menimpa lu"


Caca dengan tatapan yang berbeda.


Aera mengangguki, masih tersenyum tipis menatap Caca.


"Mmm, Makasih ya Ca"


"Berduka untuk apa?"


Tanya Azka saat setelah berada beberapa jarak mendengarkan obrolan kedua perempuan yang berada di hadapan nya.


"Azka"


Seru Aera akan keberadaan Azka yang berada menghampiri nya.


"Berduka atas apa Aera? Kenapa gua ngga tau"


"Harusnya gua yang tanya itu Za, lo kemana disaat gua kaya gini?"


Aera yang balik bertanya, dengan kedua mata yang berkaca menatap tajam Azka.


"Aera gua bener bener minta maaf, gua ngga tau dengan keadaan lo saat ini"


Azka dengan rasa bersalah nya.


"Ini bukan kesalahan, mau lo ada atau ngga buat gua itu sepenuhnya hak dan waktu lo. Dan gua ngga akan menuntut apapun dari lo, sekarang maupun nanti. Sekedar keberadaan kita hanya temen ngga bisa menjadikan gua berharap lebih dari lo, seperti sekarang ini gua ngga bisa minta lo buat ada di samping gua di saat saat kaya gini"


Curah Aera mewakili rasa kecewa yang dirasakan nya kepada Azka. Selesai dengan apa yang di ucapkan nya Aera berlari melewati Azka begitu saja.


Tetapi langkah nya kembali terhenti dengan tangan nya yang ditarik Azka untuk membawa Aera berada didalam pelukan nya.


"Gua minta maaf, ngga ada sedikit pun niat gua buat bikin lo kecewa. Bukan hanya di saat lo terpuruk kaya gini, tapi juga disetiap waktu lo, gua mau menjadi ada di samping lo Aera"


Ucap Azka dengan keberadaan Aera didalam pelukan nya.


Aera menjatuhkan air matanya di dalam dekapan hangat yang saat ini dirasakan nya.


"Gua kehilangan mba Ana, sekaligus ayah kandung gua Za, di waktu yang bersamaan"


Jelas Aera akan alasan dirinya menjadi terpuruk seperti sekarang ini.


Azka menjadi terkejud dan semakin merasa bersalah dengan apa yang dikatakan Aera. Mengeratkan dekapan nya, menyalurkan banyak kekuatan untuk Aera.


Keberadaan keduanya yang tengah berpelukan satu sama lain, di lihat Titan jauh dari dalam mobil nya. Tetapi Titan masih dapat melihat dengan jelas akan keduanya.

__ADS_1


Dan kedatangan Sia dan Fina disambut dengan apa yang saat ini berada tidak jauh di hadapannya. Menjadikan Sia merasakan sesak yang dirasakan tiba tiba dengan apa yang saat ini dilihat nya. Beberapa hari yang lalu Sia tidak mempercayai dengan apa yang Fina katakan. Sampai akhirnya hari ini Sia diberikan dengan kenyataan yang sebentar.


__ADS_2