
"Tok..tok.."
Titan kembali membolos keluar dari sekolah setelah dengan Aera yang tidak masuk sekolah lagi. Khawatir masih berada dirasakan nya, dengan Aera yang juga belom membaik.
"Titan, kenapa? Aera mana, ada yang ketinggalan ya?"
Tanya mama yang sudah rapih siap akan berangkat bekerja, membukakan pintu dan didapati keberadaan Titan seorang diri tidak dengan Aera.
"Saya kesini malah mau cari Aera tan, karna Aera ngga masuk sekolah lagi hari ini"
Perjelas Titan dengan alasan keberadaan nya, dibuat bingung dengan mama yang malah bertanya balik kepadanya akan keberadaan Aera.
"Ngga sekolah gimana? Aera udah berangkat dari tadi dia bilang di jemput sama kamu"
"Saya ngga ada jemput Aera pagi tadi Tan"
Dengan keduanya yang menjadi sama sama bingung. Dengan Aera yang ternyata sudah membohongi nya.
"Masuk dulu ya, Tante coba telfon Aera nya"
Dengan Titan yang berada duduk di ruang tamu dan dengan mama yang sibuk memondar mandir sembari menghubungi Aera.
Berada membulatkan tatapan setelah di dengar nada dering telepon Aera yang berbunyi dari dalam kamar Aera.
Mama naik dan pergi kekamar Aera kembali menelfon untuk memastikan lebih jelas nya.
Setelah masuk ke kamar Aera didapati handphone Aera yang tergeletak di atas meja.
"Ini handphone nya. Bisa ketinggalan sih"
Seru Mama setelah dengan handphone Aera yang di pegang nya.
Kembali keluar tapi langkah mama terhenti setelah kaki nya menendang gulungan kertas yang tergeletak di lantai.
"Apa ini?"
Mama meraih gumpalan kertas tersebut, sangat jarang bahkan hampir tidak pernah Aera membuat kertas berserakan di dalam kamarnya, tapi kali ini malah di dapati sebuah gulungan kertas.
Saat dibuka terisi banyak kalimat yang Aera tulis.
"Ada kalanya aku Aera Anindira, ingin berhenti dan menghilang untuk waktu yang panjang. Dan kala nya itu adalah saat ini, hari ini dan detik ini.
Setelah kehilangan satu persatu permata yang ada, cahaya yang tersisa malah ikut menjadikan aku terluka. Tapi masih ada satu yang tersisa, tidak kalah berharganya yaitu mama. Apa aku juga harus mengajak nya untuk ikut pergi bersama? Pergi ke atas langit yang biru dan begitu indah nya. Di atas sana semua akan indah dan baik baik saja. Tidak perlu ada yang menjadi kecewa entah karna masa lalu atau masa sekarang. Kebersamaan pun akan dimiliki dengan kekal di atas sana, di surga."
Setelah selesai membaca tulisan yang berada di dalam gulungan kertas tersebut, detak jantung mama tiba tiba dirasakan begitu sakit bukan sakit karna rasa tapi sakit seolah jantung nya bermasalah. Memegangi dadanya sembari mengatur pernafasan dengan air mata yang berjatuhan.
Setelah memaksakan dirinya untuk segera membaik dengan jantung yang semula dirasa sakit, mama bergegas turun setelah rasa sakit di dadanya mereda dan dapat di tahan nya.
"Titan, kita cari Aera sekarang ya"
Seru Mama dengan panik nya.
Titan bangun dan bergegas pergi bersama Mama.
"Tante kenapa sepanik ini?"
Tanya Titan sembari mengemudikan mobilnya, memperhatikan mama sesekali yang tampak begitu panik sambil menangis tidak ada henti.
Mama hanya sibuk dengan tangis nya, menggelengkan kepala dengan pertanyaan Titan barusan.
__ADS_1
Satu hal yang kembali membuat patah dan terluka, menumpahkan tangis begitu deras dan ramai. Apa yang menjadi kesalahan di masa lalunya seolah tengah terbalas menjadi kesulitan di masa sekarang yang dapat dikatakan sebuah karma.
"Apa yang sebenarnya kamu pikirin nak, kenapa bisa sampe menginginkan hal seperti ini"
Tangisan nya tidak lagi menderu ramai karna batin nya yang berganti untuk bergumam. Tidak memahami dan tidak habis pikir dengan Aera saat ini.
"Aera, brenti!"
Seru Sia yang mengejar Aera dan manarik tangan nya, karna saat di panggil Aera mendengar tapi mengabaikan tidak mau menoleh atau menghentikan langkahnya.
Menjadi saling berhadapan dengan Sia yang menarik tangan nya.
Aera menatap Sia dengan ekspresi datar dan tatapan sendu yang tengah ditahan nya dari air mata yang sudah menggedor gedor ingin di bebaskan.
"Kita mulai lagi semua nya dari awal. Lo bilang lo ngga menyalahkan gua sepenuhnya atas ini, dan lo udah maafin gua. Lagi pula sebenarnya ini cuman karna kesalah pahaman, Aera"
Perjelas Sia dengan keinginan nya, ucapan, dan alasan nya mengejar Aera dan dengan tangan yang masih memegangi pergelangan tangan Aera.
Aera menarik tangan Sia untuk melepaskan pergelangan tangan nya.
"Entah dengan alasan apapun, saat kaca terjatuh dan pecah. Sudah tidak peduli lagi dengan apa alasan atau peyebab nya. Karna pada akhirnya pecahan itu akan berakhir di tempat sampah. Tau kenapa? Supaya tidak ada yang menjadi terluka dengan pecahan itu"
Teruntai menjadi terlepas dari tempat yang sebelumnya berada menjadi tempat yang begitu nyaman dan di sukai nya, di genggam, atau menggenggam Aera. Tapi kali ini tangan nya dibuat teruntai begitu saja.
Di tambahi dengan Aera yang memperjelas keadaan untuk keduanya.
"Aeraa.."
Seru Sia dengan lirih, seolah kehabisan kata kata untuk tetap mempertahankan apa yang ingin di pertahankan nya.
"Siaa... lo orang yang baik, bahkan lo sangat baik. Salah satu keberuntungan dalam hidup gua adalah pernah ketemu dan jadi sahabat lo. Apa yang nantinya gua lakuin gua berharap ngga ngebuat kehancuran yang gua rasa ngga dirasakan juga sama lo"
Kali ini pertahanan nya buyar, banyak nya tetesan air mata tumpah seketika membanjiri pipi nya
Titan menghentikan mobilnya setelah dilihat Aera yang berada di sebrang jalan di depan pemakaman. Terlihat Aera yang tengah berbicara dengan Sia yang juga mengenakan seragam sekolah.
Saat akan menoleh mengajak mama turun, mama sudah berlari keluar menghampiri menerobos jelanan tanpa menengok kekanan dan kekiri terlebih dulu.
Aera menggelengkan kepala.
"Ngga ada niat sedikit pun buat gua balas dendam. Apa yang nanti nya gua lakuin itu adalah jalan yang ingin gua lewati, sebagai keputusan yang udah gua buat"
"Prkkk..."
Mama yang menjadi sangat geram dan marah, sampai menampar Aera tanpa mengendalikan dirinya, terlebih dengan kata kata yang baru saja dikatakan nya.
Sia ternganga, melebarkan tatapannya setelah melihat Aera yang tiba tiba tertampar di hadapan nya, dengan Mama nya sendiri yang menampar Aera.
"Tante!"
Teriak Titan tengah menyebrang jalanan diantara banyak nya kendaraan yang berlalu lalang. Saat menatap Aera saat itu juga dirinya melihat Aera yang tertampar.
Aera masih tertunduk merasakan pipinya yang menjadi panas setelah dengan tamparan yang mendarat di pipinya dengan begitu kencang.
Belum mengangkat kepala dan tatapan yang berada di tundukan, Aera sudah dibuat tau dengan siapa orang yang sudah menampar nya dari parfum yang begitu harum yang begitu familiar.
Mengangkat kepala dari tundukan Aera memperlihatkan senyum dengan lebarnya.
"Aera, lo ngga papa?"
__ADS_1
Tanya Titan memastikan setelah ikut berada di antara yang lain nya.
Aera menggelengkan kepala kepada Titan yang selalu mengkhawatirkan nya terutama untuk saat ini, setelah dilihat di depan mata kepalanya Aera yang ditampar oleh Mama nya sendiri.
"Dengan alasan apa kali ini mama nampar Aera di tempat kaya gini dan di depan banyak orang?"
Aera meminta penjelasan dengan apa yang baru saja di lakukan mama kepada nya.
"Harus nya Mama yang tanya dengan alasan apa kamu tulis hal konyol seperti itu, hah?"
Ketus mama berada menahan dirinya, tangisan yang kembali berjatuhan.
Sodor mama begitu kasar dengan selembaran kertas yang dibawanya.
Aera memastikan dengan kertas apa yang menjadikan mama seperti sekarang ini.
Setelah di pastikan kertas berisikan hal yang ditulis nya. Aera lupa jika hari itu tulisan yang ditulis nya ini lupa dimasukkan kedalam tempat sampah.
Menjadi diam tidak tau dengan apa yang harus di jelaskan nya.
"Kenapa diem aja! Ngomong! Jelasin semua nya sama mama! Apa itu maksudnya?"
"Apa itu salah ma?"
Bukan penjelasan yang di katakan nya, tapi pertanyaan. Tampak konyol memang, tapi saat ini yang berada dipikirkan Aera, apa itu hal yang salah atau sebaliknya.
"Apa itu salah? bisa bisa nya kamu tanyain itu sama Mama. Apa yang sebenarnya kamu pikirin sampe kamu ingin mati?"
Sontak Sia dan Titan membulatkan tatapan nya setelah dengan apa yang mama katakan, dengan obrolan keduanya yang mulai di pahami.
Aera kembali tertunduk sembari tersenyum.
"Bahkan mama pun bertanya apa yang Aera pikirkan. Itu karna tidak ada satu orang pun yang mengerti dan dapat memahami Aera"
Kembali mengangkat kepala dari tundukan dan menatap mama dengan senyum yang meluntur tersisa ekspresi serius dengan tatapan berkaca.
"Rasa nya sakit banget ma. Setiap kali dirasa, begitu sesak rasanya seperti Aera kehabisan oksigen dengan jantung yang seperti ingin berhenti berdetak. Aera udah mencoba, melepaskan apa yang hilang dan menata apa yang berantakan. Tapi semua percuma. semakin Aera berusaha dan bersikeras itu hanya akan semakin membuat Aera tersiksa. Semula Aera ingin menahan, menjadi tetap tegar dan utuh meski dengan hati yang hancur. tapi kali ini Aera udah ngga sanggup buat nahan semua nya ma"
Berjatuhan lah air mata untuk kesekian kali atas perasaan dan keterlukaan yang sama. Untuk kali pertama akhirnya Aera mampu berbicara dan mengatakan sejujurnya, di depan orang orang yang juga Aera sayangi, Sia dan Titan.
Kali ini mereka mendengar dan seperti apa Aera dan dengan apa yang dirasakan nya.
Mendengar keterbukaan atas derita dan rasa yang selama ini Aera bungkam dalam diam dengan ditutup senyum dan ceria menjadikan Mama, Titan dan Sia ikut menjadi sakit mendengar dan mengetahui semua.
Berandai andai untuk waktu dapat kembali, untuk mereka dapat memberikan banyak hal yang lebih baik kepada Aera, membenarkan apa yang menjadi kesalahan di masa lalu kepada Aera. Dengan begitu saat saat seperti ini tidak pernah terjadi, tidak akan ada luapan atas apa yang tidak dapat di tahan Aera. Karna jika dapat kembali ke masa lalu mereka semua akan menjadikan Aera untuk lebih kuat menghadapi ini semua. Tidak akan dibiarkan Aera sendiri dan menjadikan setiap rasa yang dirasakan nya berada ditahan dan sembunyikan.
Mama terdiam tertunduk dalam tatapan nya, merasakan keterpukulan menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang terjadi kepada Aera.
"Mama sadar ini semua salah mama. Mama yang menyebabkan kamu melewati dan merasakan ini semua. Dengan semua itu apa boleh mama minta kamu buat menjadikan mama alasan kamu untuk bertahan"
"Sampai detik ini pun Aera masih ada itu karna mama, dengan mama alasan nya"
"Bukan sekedar untuk sampai detik ini, tapi juga untuk seterusnya untuk waktu yang panjang"
Aera terdiam menatap mama, kembali bungkam tidak dapat mengatakan keinginan nya untuk tertidur dengan waktu yang panjang.
Mama menghampiri Aera membawanya untuk berada dalam pelukan yang begitu erat.
Memahami dengan Aera yang menjadi bimbang atas keputusan apa yang harus dibuat nya. Diantara lelah dan ingin beristirahat, tapi tidak ingin meninggalkan mama dan membuat nya menderita terluka. Menjadikan mama merasakan hal yang dirasakan nya, Aera tidak ingin itu sampai terjadi.
__ADS_1
"Tersisa kamu yang mama punya. Setidaknya jika mama tidak bisa menjadi alasan untuk kamu tetap ada, maka bertahan lah untuk Mama menembus semua nya. Semua kesalahan yang sudah mama lakukan"
Ucap mama saat berada memeluk Aera.